Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Coto Makassar, Kuliner Khas Legendaris Warisan Kerajaan Gowa

Admin WGM - Sunday, 10 May 2026 | 09:30 PM

Background
Coto Makassar, Kuliner Khas Legendaris Warisan Kerajaan Gowa
(Shutterstock/adamandthebrothers)

Coto Makassar, Sajian Bersejarah dari Tanah Sulawesi Selatan

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki makanan khas dengan cita rasa dan sejarah unik, termasuk Sulawesi Selatan yang terkenal melalui hidangan legendaris bernama Coto Makassar.

Kuliner berkuah khas Kota Makassar ini bukan sekadar makanan tradisional biasa. Di balik rasa gurih dan kaya rempahnya, Coto Makassar menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan kejayaan Kerajaan Gowa pada masa lampau.

Berdasarkan informasi dari Indonesia Kaya, Coto Makassar diperkirakan telah ada sejak era Kerajaan Gowa-Tallo sekitar abad ke-16. Pada masa itu, hidangan ini dikenal sebagai sajian istimewa kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan.

Seiring berjalannya waktu, makanan khas tersebut berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Nusantara yang kini dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat.

Berasal dari Tradisi Kerajaan Gowa

Sejarah Coto Makassar tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Gowa-Tallo yang pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di kawasan timur Nusantara. Kerajaan tersebut berpusat di wilayah Somba Opu, Makassar, dan dikenal sebagai pusat perdagangan penting pada abad ke-14 hingga ke-17.

Makassar kala itu menjadi pelabuhan strategis yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara seperti Arab, India, Cina, Portugis, hingga Spanyol. Interaksi budaya tersebut kemudian memengaruhi perkembangan kuliner masyarakat setempat.

Pengaruh budaya luar terlihat dari penggunaan berbagai rempah-rempah serta sambal tauco yang menjadi pelengkap khas Coto Makassar. Beberapa sumber menyebut penggunaan tauco merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa yang telah lama berkembang di kawasan Makassar.

Dalam catatan sejarah kuliner, Coto Makassar awalnya hanya disajikan di lingkungan istana karena bahan dan proses memasaknya tergolong mewah pada masa itu. Daging sapi dan jeroan dipilih secara khusus lalu dimasak menggunakan puluhan jenis rempah Nusantara.

Kini, makanan tersebut telah menjadi hidangan rakyat yang dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia tanpa kehilangan identitas budaya dan sejarahnya.

Kaya Rempah dan Memiliki Cita Rasa Khas

Salah satu ciri utama Coto Makassar adalah kuahnya yang pekat dan kaya rasa. Berbeda dengan kebanyakan soto di Indonesia yang memiliki kuah bening atau ringan, Coto Makassar menggunakan campuran kacang tanah dan rempah-rempah yang menghasilkan tekstur lebih kental.

Menurut sejumlah sumber kuliner, Coto Makassar menggunakan sekitar 40 jenis rempah yang dikenal dengan istilah "patang pulo". Rempah tersebut meliputi ketumbar, kemiri, jintan, lengkuas, merica, jahe, serai, hingga daun salam.

Perpaduan rempah tersebut menghasilkan aroma kuat sekaligus rasa gurih yang khas. Kuahnya biasanya dimasak dalam waktu lama agar bumbu meresap sempurna ke dalam daging dan jeroan sapi.

Selain daging sapi, bagian jeroan seperti hati, limpa, babat, dan jantung juga menjadi bahan utama dalam sajian ini. Meski menggunakan jeroan, aroma amis dapat diminimalkan melalui penggunaan rempah-rempah dalam jumlah banyak.

Masyarakat Makassar secara tradisional memasak Coto Makassar menggunakan kuali tanah liat yang disebut "korong butta" atau "uring butta". Teknik tersebut dipercaya membuat rasa kuah lebih nikmat dan autentik.

Disajikan Bersama Burasa dan Sambal Tauco

Coto Makassar biasanya disantap bersama burasa atau buras, yakni makanan berbahan beras yang dibungkus daun pisang mirip ketupat. Kombinasi tersebut membuat cita rasa kuah gurih menjadi semakin nikmat.

Selain itu, sambal tauco juga menjadi pelengkap penting dalam sajian Coto Makassar. Rasa asin dan sedikit fermentasi dari tauco memberikan sensasi berbeda dibanding sambal pada umumnya.

Menariknya, masyarakat Makassar memiliki kebiasaan tersendiri dalam menikmati Coto Makassar. Berdasarkan tradisi lama, makanan ini lebih sering dikonsumsi pada pagi menjelang siang sebagai makanan selingan, bukan menu utama makan malam.

Porsi penyajiannya pun cenderung menggunakan mangkuk kecil dengan sendok khusus yang dikenal sebagai "sendok bebek".

Pernah Menjadi Juara Festival Kuliner Internasional

Popularitas Coto Makassar tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga hingga mancanegara. Kuliner khas Sulawesi Selatan ini pernah membawa Indonesia meraih juara pertama dalam Festival Kuliner "Pesta Juadah 2011" yang digelar Universitas Kebangsaan Malaysia.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional Indonesia memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional.

Saat ini, Coto Makassar juga menjadi salah satu menu wajib yang dicari wisatawan ketika berkunjung ke Sulawesi Selatan. Banyak rumah makan legendaris di Makassar mempertahankan resep turun-temurun agar cita rasa autentiknya tetap terjaga.

Di berbagai forum kuliner daring seperti Reddit, banyak pengguna menyebut Coto Makassar sebagai salah satu kuliner terbaik dari Indonesia timur karena rasa kuahnya yang kaya rempah dan unik dibanding soto lainnya.

Jadi Bagian Penting Identitas Kuliner Nusantara

Keberadaan Coto Makassar tidak hanya menjadi simbol kuliner daerah, tetapi juga bagian penting dari warisan budaya Nusantara. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana sejarah perdagangan, budaya kerajaan, dan kekayaan rempah Indonesia berpadu dalam satu sajian tradisional.

Selain mempertahankan resep asli, generasi muda Makassar kini juga mulai mengenalkan Coto Makassar melalui inovasi kuliner modern tanpa menghilangkan cita rasa khasnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional tetap mampu bertahan di tengah arus modernisasi selama nilai budaya dan kualitas rasanya terus dijaga.

Sebagai salah satu kuliner legendaris Indonesia, Coto Makassar bukan hanya tentang makanan berkuah berbahan daging sapi. Lebih dari itu, hidangan ini menjadi representasi sejarah panjang, identitas budaya, dan kekayaan rempah Nusantara yang diwariskan lintas generasi.