Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Beras Shirataki dan Beras Porang yang Perlu Diketahui

Admin WGM - Friday, 22 May 2026 | 10:00 PM

Background
Jangan Keliru, Ini Perbedaan Beras Shirataki dan Beras Porang yang Perlu Diketahui
Ilustrasi (Freepik.com/Jcomp)

Beras Shirataki dan Porang Semakin Populer di Kalangan Masyarakat

Tren pola makan sehat membuat berbagai alternatif pengganti nasi putih mulai diminati masyarakat. Dua produk yang cukup populer adalah beras shirataki dan beras porang. Keduanya sering dikonsumsi oleh orang yang menjalani program diet atau ingin mengurangi asupan kalori dan karbohidrat.

Karena tampilannya mirip dan sama-sama dikenal sebagai makanan rendah kalori, banyak orang menganggap beras shirataki dan beras porang merupakan produk yang sama. Padahal, keduanya memiliki sejumlah perbedaan, mulai dari bahan dasar, proses pengolahan, tekstur, hingga kandungan gizinya. (uib.ac.id)

Meski berbeda, kedua produk ini sama-sama berkaitan dengan kandungan glukomanan, yaitu serat larut air yang dikenal dapat memberikan rasa kenyang lebih lama.

Apa Itu Beras Shirataki?

Beras shirataki merupakan produk olahan yang umumnya dibuat dari tanaman konjac atau Amorphophallus konjac. Tanaman tersebut banyak ditemukan dan dibudidayakan di Jepang, China, serta beberapa negara Asia lainnya. (healthline.com)

Shirataki sebenarnya lebih populer dalam bentuk mie. Namun seiring perkembangan tren makanan sehat, bahan tersebut juga diolah menjadi bentuk menyerupai nasi atau beras.

Produk shirataki dikenal memiliki kandungan kalori dan karbohidrat yang sangat rendah karena sebagian besar komposisinya terdiri dari air dan serat glukomanan. Teksturnya cenderung kenyal dan sedikit transparan setelah dimasak. (healthline.com)

Apa Itu Beras Porang?

Sementara itu, beras porang dibuat dari umbi porang dengan nama ilmiah Amorphophallus muelleri yang banyak tumbuh di Indonesia.

Umbi porang juga mengandung glukomanan sehingga sering dijadikan bahan alternatif makanan rendah kalori. Setelah melalui proses pengolahan tertentu, tepung porang dapat dibentuk menyerupai butiran nasi dan dipasarkan sebagai beras porang. (uib.ac.id)

Berbeda dengan shirataki yang identik dengan tekstur sangat kenyal, beras porang biasanya memiliki tekstur yang sedikit lebih padat dan tampilannya lebih mirip nasi pada umumnya.

Perbedaan Utama Beras Shirataki dan Beras Porang

Berikut beberapa perbedaan utama antara keduanya:

1. Bahan Dasar

Perbedaan paling mendasar terletak pada jenis tanaman yang digunakan.

  • Shirataki umumnya berasal dari tanaman konjac (Amorphophallus konjac)
  • Beras porang berasal dari umbi porang (Amorphophallus muelleri)

Keduanya masih berada dalam keluarga tanaman yang sama, tetapi merupakan spesies berbeda. (uib.ac.id)

2. Tekstur dan Bentuk

Beras shirataki cenderung lebih kenyal dan agak licin setelah dimasak. Sebagian produk juga memiliki tampilan semi transparan.

Sedangkan beras porang umumnya lebih padat dan tampilannya lebih menyerupai nasi biasa sehingga dinilai lebih mudah diterima sebagian konsumen Indonesia. (uib.ac.id)

3. Aroma

Beberapa produk shirataki memiliki aroma khas yang cukup kuat ketika kemasan dibuka karena proses penyimpanan dalam cairan tertentu.

Karena itu, shirataki biasanya perlu dibilas dan direbus sebelum dikonsumsi. Sementara beras porang umumnya memiliki aroma yang lebih ringan tergantung proses produksinya. (healthline.com)

4. Kandungan Nutrisi

Keduanya sama-sama rendah kalori dan tinggi serat, terutama glukomanan.

Serat tersebut diketahui dapat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Karena alasan itu, produk ini sering dikonsumsi dalam program pengaturan berat badan. (healthline.com)

Namun kandungan nutrisi tiap produk dapat berbeda tergantung bahan tambahan dan proses pengolahan masing-masing produsen.

Banyak Dipilih untuk Program Diet

Popularitas beras shirataki dan porang meningkat seiring tren pola makan rendah karbohidrat (low carb) dan defisit kalori.

Karena kandungan kalorinya rendah, kedua produk ini sering digunakan sebagai alternatif nasi putih oleh orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan atau menjaga kadar gula darah. (uib.ac.id)

Meski demikian, ahli gizi tetap mengingatkan bahwa pola makan sehat tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan. Asupan protein, vitamin, mineral, dan keseimbangan nutrisi lainnya tetap perlu diperhatikan.

Tidak Cocok untuk Semua Orang

Walaupun dianggap lebih sehat oleh sebagian orang, konsumsi shirataki atau porang juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Kandungan serat yang tinggi dapat menyebabkan rasa kembung atau gangguan pencernaan pada beberapa orang apabila dikonsumsi berlebihan. Selain itu, produk berbahan porang mentah tidak boleh dikonsumsi langsung karena mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal dan iritasi apabila tidak diolah dengan benar. (uib.ac.id)

Pada akhirnya, baik beras shirataki maupun beras porang memiliki karakteristik masing-masing. Memahami perbedaannya dapat membantu masyarakat memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola makan mereka.