Senin, 15 Juni 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Sekilas Mirip Rawon, Ini Lho Pindang Tetel Kuliner Khas Pekalongan yang Bikin Nagih!

Admin WGM - Sunday, 14 June 2026 | 05:30 PM

Background
Sekilas Mirip Rawon, Ini Lho Pindang Tetel Kuliner Khas Pekalongan yang Bikin Nagih!
Makanan Tradisional Pindang Tetel Pekalongan (Visit Jawa Tengah/)

Kabupaten dan Kota Pekalongan tidak hanya tersohor di kancah internasional berkat keindahan mahakarya batiknya. Daerah yang terletak di jalur pantura Jawa Tengah ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang sangat memanjakan lidah. Jika sebagian besar pelancong hanya akrab dengan nasi megono atau tauto saat berkunjung ke Pekalongan, ada satu lagi pusaka kuliner legendaris yang wajib dicicipi, yaitu Pindang Tetel. Bagi masyarakat luar daerah, nama makanan ini sering kali memicu kesalahpahaman karena langsung mengasosiasikannya dengan hidangan berbahan dasar ikan laut. Namun, realitasnya justru bertolak belakang secara mengejutkan.

Pindang Tetel sama sekali tidak menggunakan ikan pindang sebagai protein utamanya. Kata "pindang" dalam kuliner ini merujuk pada kuah cair berempah yang berwarna hitam kecokelatan, sedangkan kata "tetel" berasal dari kata "tetelan", yaitu bagian daging sapi yang melekat pada tulang dan biasanya mengandung banyak lemak, urat, serta jendolan. Hidangan ini sekilas memiliki kemiripan visual dengan rawon khas Jawa Timur karena sama-sama memanfaatkan buah kluwek atau kepayang sebagai pewarna hitam alami sekaligus pemberi cita rasa gurih yang khas. Kendati demikian, karakteristik rasa Pindang Tetel jauh lebih ringan, encer, dan memiliki aroma wangi yang segar karena menggunakan campuran daun bawang yang melimpah dalam proses memasaknya.

Asal-usul Pindang Tetel ini berakar kuat di daerah Kedungwuni, salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Konon, penciptaan kuliner ini lahir dari kreativitas masyarakat lokal pada masa lampau yang ingin mengolah tetelan daging sapi sisa kurban atau hajatan menjadi hidangan yang lezat, bernilai ekonomis, dan dapat dinikmati oleh banyak orang dalam satu keluarga. Tetelan daging sapi tersebut direbus dalam waktu yang lama bersama bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, cabai, dan kluwek, serta ditambah dengan rempah daun seperti serai, daun salam, dan daun jeruk untuk mengusir aroma amis daging.

Keunikan mutlak yang membedakan Pindang Tetel dengan sup daging lainnya di Indonesia terletak pada tata cara penyajiannya. Hidangan berkuah panas ini tidak disajikan bersama kerupuk udang atau kerupuk aci putih biasa, melainkan dipadukan secara wajib dengan kerupuk usek atau yang di Pekalongan lebih dikenal dengan nama kerupuk gunoseko. Kerupuk gunoseko adalah jenis kerupuk melarat yang proses pematangannya tidak digoreng menggunakan minyak goreng, melainkan disangrai menggunakan pasir bersih di atas wajan tanah liat. Kerupuk ini memiliki tekstur yang renyah, bergelombang, dan umumnya diberi warna merah muda cerah dan putih.

Saat hendak disantap, kerupuk gunoseko ini akan diremukkan atau dicelupkan langsung ke dalam mangkuk berisi kuah Pindang Tetel yang panas. Kerupuk yang berpori tersebut akan menyerap kuah rempah kluwek dengan sempurna, menciptakan sensasi tekstur yang kenyal sekaligus lumer di dalam mulut saat dikunyah. Kombinasi antara gurihnya kaldu tetelan sapi yang berlemak dengan keunikan rasa kerupuk usek yang asin-gurih inilah yang membuat Pindang Tetel memiliki tempat istimewa di hati para pencinta kuliner Nusantara.

Di Pekalongan, Pindang Tetel sangat mudah dijumpai, mulai dari warung tenda kaki lima di pinggir jalan, area alun-alun, hingga menjadi menu andalan di beberapa rumah makan besar. Hidangan ini biasanya disajikan sebagai menu sarapan atau makan siang yang mengenyangkan, acap kali ditemani oleh sepiring nasi megono hangat untuk melengkapi kelezatannya. Harganya yang sangat merakyat membuat kuliner ini digemari oleh semua kalangan masyarakat. Menjelajahi Pekalongan rasanya belum lengkap jika Anda belum merasakan kehangatan dan keunikan rasa dari semangkuk Pindang Tetel asli Kedungwuni ini.