Bikin Kangen Masa Kecil! 7 Jajanan Pasar Sunda Ini Sekarang Sudah Mulai Langka
Admin WGM - Thursday, 04 June 2026 | 05:00 PM


Berbicara tentang tanah Sunda tidak hanya soal keindahan alam pegunungannya yang asri, tetapi juga tentang kekayaan kulinernya yang sangat beragam. Bagi generasi yang tumbuh besar di Jawa Barat pada era 80-an atau 90-an, suara pedagang jajanan pasar yang berkeliling di pagi hari atau deretan nampan bambu di pasar tradisional adalah memori yang sangat manis. Namun, seiring dengan gempuran makanan modern dan camilan instan, beberapa jenis jajanan pasar khas Sunda kini mulai kehilangan panggungnya. Keberadaannya kian langka dan hanya bisa ditemukan di tempat-tempat tertentu yang masih memegang teguh tradisi.
Salah satu yang paling dirindukan adalah gurandil. Jajanan ini memiliki tampilan yang sangat ceria dengan warna-warni mencolok seperti merah muda, hijau, dan kuning. Terbuat dari tepung tapioka atau aci, gurandil memiliki tekstur yang sangat kenyal saat digigit. Biasanya gurandil disajikan dengan taburan kelapa parut yang memberikan rasa gurih, lalu disiram dengan sedikit gula pasir atau kincau (gula merah cair). Menyantap gurandil bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sensasi menyenangkan dari teksturnya yang membal di dalam mulut.
Tak kalah legendaris adalah ali agrem. Jika dilihat sekilas, bentuknya menyerupai donat kecil, namun dengan kearifan lokal yang kental. Nama ali berasal dari bahasa Sunda yang berarti cincin. Jajanan ini terbuat dari campuran tepung beras dan gula merah yang digoreng hingga garing di luar namun tetap empuk di dalam. Rasa manis karamel dari gula merah yang berpadu dengan tekstur padat tepung beras menjadikan ali agrem sebagai teman terbaik saat meminum teh pahit di sore hari. Sayangnya, proses pembuatannya yang membutuhkan ketelatenan membuat penjual ali agrem kini tidak sebanyak dulu.
Selanjutnya ada papais, sebuah istilah umum untuk menyebut berbagai jenis penganan yang dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Ada banyak jenis papais, mulai dari papais monyong, papais sampeu (singkong), hingga papais bugis. Wangi daun pisang yang layu terkena uap panas memberikan aroma khas yang tidak bisa didapatkan dari kemasan plastik modern. Papais sering kali menjadi simbol kebersamaan dalam acara hajatan di desa-desa, namun kini posisinya mulai digantikan oleh bolu atau roti kemasan.
Berbicara soal camilan berbahan dasar singkong, kita tidak boleh melupakan duo sejoli comro dan misro. Nama kedua makanan ini merupakan singkatan kreatif khas masyarakat Sunda. Comro berasal dari oncom di jero (oncom di dalam), yang menawarkan cita rasa gurih dan pedas karena isian oncom yang ditumis dengan cabai dan kemangi. Sementara saudaranya, misro, merupakan singkatan dari amis di jero (manis di dalam). Misro menggunakan bahan kulit singkong parut yang sama dengan comro, namun diisi dengan irisan gula merah yang akan meleleh saat digoreng panas. Perpaduan antara rasa asin-pedas dari comro dan manis-legit dari misro adalah harmoni kuliner yang sangat dirindukan banyak orang.
Keberadaan jajanan-jajanan ini bukan sekadar tentang pengganjal perut, melainkan warisan budaya yang membawa identitas masyarakat Sunda. Gurandil, ali agrem, papais, hingga comro dan misro adalah bukti kreativitas leluhur dalam mengolah bahan lokal seperti singkong dan beras menjadi hidangan istimewa. Mengingat kembali nama-nama ini adalah langkah awal untuk menghargai kembali kekayaan lokal yang kita miliki. Meski kini mulai sulit dicari di pusat perbelanjaan mewah, jajanan ini akan selalu memiliki tempat spesial di hati mereka yang merindukan hangatnya suasana kampung halaman. Mari kita lestarikan kuliner tradisional ini dengan tetap membelinya saat bertemu penjualnya di pasar, agar resep legendaris ini tidak benar-benar hilang ditelan zaman.
Next News

Menikmati Kehangatan Tradisi Berbagi Makanan Gratis Saat Agustusan di Pekalongan
19 hours ago

Penawar Stres Paling Ampuh! Alasan Kelembutan Fluffy Cake Sukses Bikin Suasana Hati Langsung Naik Class
20 hours ago

Cegah Lonjakan Gula Darah! Strategi Menukar Nasi Putih dengan Pangan Lokal
18 hours ago

Bebas Gluten dan Lezat! Panduan Mengolah Tepung Mocaf dan Sagu Jadi Kue Kekinian
19 hours ago

Superfood Lokal! 6 Makanan Pokok Indonesia Pengganti Nasi yang Lebih Rendah Glikemik
20 hours ago

Kenyang Tak Harus Nasi! Mengenal Konsep Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Keluarga
21 hours ago

Bebas Tekstur Lembek dan Berair, Menguasai Trik Mengolah Jamur Agar Tetap Kenyal dan Kaya Rasa Umami
2 days ago

Pelengkap Sempurna Momen Kebersamaan, Menelusuri Kehangatan Sajian Risol Sebagai Kudapan Favorit Sepanjang Masa
2 days ago

Bebas dari Rasa Pahit, Menguasai Rahasia Pengolahan Saus Kedelai Hitam Jjajangmyeon yang Gurih dan Legit
2 days ago

Kelembutan Lumer di Setiap Suapan, Rahasia Daya Pikat Tiramisu Sebagai Kudapan Manis Favorit Saat Lelah
2 days ago





