Senin, 15 Juni 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Hanya Ada Setahun Sekali, Ini Makna Filosofis di Balik Lezatnya Bubur Suro Khas Tahun Baru

Admin WGM - Monday, 15 June 2026 | 12:00 PM

Background
Hanya Ada Setahun Sekali, Ini Makna Filosofis di Balik Lezatnya Bubur Suro Khas Tahun Baru
Bubur Suro (Hybeabis /)

Memasuki malam pergantian tahun baru Islam yang bertepatan dengan tanggal satu Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat di berbagai daerah melestarikan tradisi kuliner ritual yang sarat akan nilai historis. Salah satu manifestasi budaya yang paling menonjol dalam momentum ini adalah penyajian Bubur Suro, sebuah hidangan khas berupa bubur gurih yang disajikan bersama aneka lauk-pauk serta taburan tujuh jenis kacang. Melalui kajian etnografi dan filosofi kebudayaan, para pakar sosiokultural menjelaskan bahwa kuliner tradisional ini bukan sekadar hidangan musiman, melainkan sebuah media simbolis yang merekam jejak syukur, doa keselamatan, serta memori kolektif peradaban Islam Nusantara.

Para ahli sejarah kebudayaan Islam-Jawa memaparkan bahwa silsilah filosofis Bubur Suro memiliki keterikatan historis yang kuat dengan kisah kedatangan kapal Nabi Nuh AS setelah selamat dari bencana banjir besar melanda bumi. Berdasarkan narasi turun-temurun yang tercatat dalam sejumlah kitab klasik, ketika kapal tersebut berlabuh pada hari Asyura, persediaan bahan pangan yang tersisa di dalam gudang logistik sangat terbatas dan bermacam-macam jenisnya. Nabi Nuh kemudian memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan seluruh sisa biji-bijian dan kekacangan yang ada untuk dimasak bersama dalam sebuah kuali besar hingga menjadi bubur, agar seluruh penumpang kapal dapat menikmati makanan secara merata dalam suasana penuh syukur.

Konsep gotong royong dan kesetaraan dalam kisah masa lalu tersebut kemudian diadaptasi secara mendalam oleh para ulama penyebar Islam di tanah Jawa melalui simbolisme bahan baku Bubur Suro. Penggunaan beras yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah hingga menghasilkan cita rasa gurih melambangkan kesucian hati, keharmonisan, serta jalinan silaturahmi yang erat antar-sesama warga. Proses pengolahan bubur yang membutuhkan waktu lama dan pengadukan secara konstan juga merefleksikan nilai kesabaran, keteguhan prinsip, serta kerja keras yang harus tertanam dalam sanubari setiap individu saat melangkah memasuki lembaran tahun yang baru.

Komponen yang paling sakral dan memiliki makna teologis mendalam dalam hidangan ini adalah kehadiran tujuh jenis kacang-kacangan sebagai taburan utama, yang biasanya terdiri dari kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang tholo, hingga jenis polong-polongan lainnya. Angka tujuh dalam kosmologi Jawa dikenal sebagai pitu, yang secara semantik diartikan sebagai pitulungan atau pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kehadiran beraneka ragam kacang yang menyatu dalam satu piring bubur ini menjadi representasi doa kolektif masyarakat agar senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran rezeki, serta perlindungan dari segala mara bahaya sepanjang dua belas bulan ke depan.

Sementara itu, aneka lauk pendamping yang disajikan—seperti irisan telur dadar, perkedel, kering tempe, hingga sambal goreng—melambangkan simbol kemakmuran dan keragaman berkah bumi yang wajib disyukuri. Tradisi pembuatan Bubur Suro di tingkat desa sering kali dilakukan secara kolektif di dapur umum pos ronda atau serambi masjid, di mana proses pembagiannya dilakukan secara adil tanpa memandang status sosial ekonomi penerimanya. Pola interaksi ini dinilai para sosiolog sangat efektif dalam memperkuat kembali struktur solidaritas sosial dan mengikis potensi konflik di tengah masyarakat akar rumput.

Melalui rilis ulasan filosofi kuliner tradisional yang disebarluaskan secara masif menjelang pergantian tahun Hijriah ini, pemerintah daerah mendorong generasi muda untuk tetap menjaga kelestarian warisan budaya takbenda tersebut. Penyajian Bubur Suro dipandang sebagai media edukasi kultural yang sangat efektif untuk menjembatani nilai-nilai spiritual keagamaan dengan kearifan lokal yang adiluhung. Dengan memahami makna mendalam di balik kelezatan sepiring Bubur Suro, masyarakat diharapkan dapat menyongsong tahun baru dengan semangat berbagi yang tinggi, toleransi yang kuat, serta keterikatan batin yang kokoh terhadap sejarah leluhur bangsa.