Prabowo Resmi Lantik Pimpinan Badan Gizi Nasional dan Said Iqbal Sebagai Penasihat Khusus Presiden
Admin WGM - Tuesday, 09 June 2026 | 01:00 PM


Dinamika politik dan tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan langkah signifikan dengan dilantiknya sejumlah pejabat penting di Istana Negara. Dalam upacara resmi tersebut, Presiden Prabowo melantik Nanik S. Deyang beserta jajarannya untuk memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), sebuah lembaga baru yang diproyeksikan menjadi tulang punggung implementasi program pemenuhan gizi masyarakat. Namun, sorotan publik tidak hanya tertuju pada pembentukan badan baru tersebut, melainkan juga pada pengangkatan tokoh buruh nasional, Said Iqbal, sebagai penasihat khusus presiden.
Pelantikan jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional ini menandai dimulainya babak baru dalam upaya pemerintah mengatasi permasalahan stunting dan perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui intervensi gizi secara langsung. Nanik S. Deyang, yang dipercaya menakhodai lembaga ini, diharapkan mampu menerjemahkan visi besar presiden dalam penyediaan makan bergizi bagi jutaan anak sekolah dan kelompok rentan di seluruh pelosok Indonesia. Pembentukan badan ini menegaskan bahwa sektor kesehatan dan pangan menjadi prioritas utama dalam peta jalan pemerintahan periode 2024–2029.
Di sisi lain, pengangkatan Said Iqbal sebagai penasihat khusus presiden memicu diskursus hangat di ruang publik. Said Iqbal, yang dikenal luas sebagai Presiden Partai Buruh dan tokoh aktivis pekerja, kini memiliki akses langsung ke lingkaran dalam kekuasaan. Langkah Presiden Prabowo ini dinilai sebagai upaya untuk menjembatani komunikasi antara pemerintah dan kelompok pekerja agar kebijakan yang diambil lebih inklusif dan berkeadilan. Namun, beberapa pengamat politik memberikan catatan kritis terkait komposisi kabinet yang dianggap kian "gemuk". Penambahan lembaga baru dan posisi penasihat khusus dinilai berisiko memperpanjang rantai birokrasi dan meningkatkan beban anggaran negara jika tidak dikelola dengan koordinasi yang efisien.
Merespons kritik mengenai struktur pemerintahan yang semakin besar, pihak Istana menegaskan bahwa pengangkatan ini merupakan kebutuhan strategis untuk memastikan setiap aspirasi kelompok masyarakat, termasuk buruh, mendapatkan wadah resmi dalam pengambilan keputusan. Said Iqbal sendiri, sesaat setelah pelantikannya, memberikan pernyataan yang cukup berani. Ia mengaku tidak akan ragu untuk menggunakan posisinya demi kepentingan para pekerja. Said menyatakan bahwa salah satu tugas utamanya adalah mengawasi jalannya roda pemerintahan dari perspektif kesejahteraan buruh.
Secara spesifik, Said Iqbal menegaskan bahwa dirinya akan mengadukan langsung kepada Presiden Prabowo apabila terdapat menteri di kabinet yang kinerjanya dianggap tidak berpihak atau justru merugikan nasib buruh. Menurutnya, posisi sebagai penasihat khusus bukanlah sekadar jabatan seremonial, melainkan alat kendali untuk memastikan janji-janji kampanye presiden mengenai kesejahteraan rakyat kecil dapat terealisasi. Said menekankan bahwa menteri menteri yang mengeluarkan regulasi kontroversial atau mempersulit akses hidup layak bagi kaum pekerja akan menjadi target laporan utamanya kepada kepala negara.
Kehadiran Said Iqbal di dalam jajaran penasihat presiden diharapkan dapat meredam tensi hubungan antara pemerintah dan gerakan buruh yang sering kali memanas akibat isu isu seperti Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Undang-Undang Cipta Kerja. Publik kini menanti bagaimana peran efektif Said Iqbal dalam memengaruhi kebijakan ekonomi nasional agar lebih pro-rakyat. Sementara itu, Badan Gizi Nasional di bawah pimpinan Nanik S. Deyang juga memiliki tantangan besar untuk membuktikan transparansi dan efektivitas kerja lembaga tersebut di tengah pengawasan ketat masyarakat terhadap penggunaan dana negara.
Langkah pelantikan serentak ini mencerminkan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang cenderung merangkul berbagai elemen, mulai dari aktivis hingga profesional, untuk masuk ke dalam struktur pemerintahan. Meskipun menuai pro dan kontra terkait efisiensi birokrasi, pemerintah tetap optimistis bahwa kolaborasi lintas sektor ini akan mempercepat pencapaian target pembangunan nasional. Kini, beban pembuktian berada di pundak para pejabat yang baru dilantik tersebut untuk menunjukkan bahwa struktur kabinet yang luas ini mampu bekerja lebih efektif demi kepentingan rakyat banyak.
Next News

Terlibat Peredaran Gelap Narkoba, Kasat Narkoba Polres Tangsel AKP Pardiman Ditangkap Bareskrim
3 hours ago

Dituduh Maling Ayam Berujung Ajal: Ironi Aksi Brutal Warga di Tengah Pudarnya Rasa Kemanusiaan
4 hours ago

Satu Kesempatan Emas! BPS dan Bima Arya Ingatkan Pentingnya Kesiapan Hadapi Bonus Demografi
3 hours ago

Pekerja Rumah Eks Jampidsus Ditemukan Tewas, Penyidik Endus Kejanggalan
5 hours ago

PDIP Desak Pemerintah Buka Kembali Penyelidikan Kasus Kudatuli 27 Juli 1996
22 minutes ago

Pesan Menohok Mahfud MD di KUII: Ormas Islam Jangan Cuma Amar Ma'ruf, Tapi Lupa Nahi Munkar
an hour ago

Resmi! Tokoh La Via Campesina Henry Saragih Ditunjuk Jadi Sekjen Baru Partai Buruh
2 hours ago

Kronologi dr. Siti Zahra Maghfira, Dokter Internship yang Tewas Jatuh dari Lantai 18 Apartemen
3 hours ago

Polisi Tepis Isu Nasi Uduk dan Perusakan Masjid dalam Bentrokan Menteng, 200 Personel Gabungan Diterjunkan
4 hours ago

Peringatan Keras JPMorgan: Dampak Super El Nino Berpotensi Guncang Ketahanan Pangan dan Ekonomi RI
a day ago





