Rabu, 8 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Orasi Demo Aliansi Mahasiswa di Mabes Polri Direspons dengan Lantunan Selawat

Trista - Saturday, 28 February 2026 | 12:53 PM

Background
Orasi Demo Aliansi Mahasiswa di Mabes Polri Direspons dengan Lantunan Selawat
Aparat kepoliasian mengenakan atribut Ramadan dalam pengawalan demo di Mabes Polri (Kompas.com /)

Aksi unjuk rasa yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan aliansi mahasiswa Jabodetabek dilangsungkan di depan Mabes Polri, Jakarta Selatan (27/2/2026). Massa unjuk rasa menuntut keadilan atas insiden siswa di Tual, Maluku yang dipukul helm oleh Bripda Masias Siahaya hingga meninggal dunia. 

"Di bulan suci Ramadan, kita bertempat di tempat yang sayangnya tidak suci, kita melaksanakan aksi dengan tagar aparat keparat," ungkap Yatalathof Mashum, Ketua BEM UI, dilansir dari laman CNN Indonesia (27/2/2026). 

Dilansir dari laman TEMPO, terdapat lima tuntutan yang dilayangkan oleh BEM UI yaitu: 

  1. Mendesak penjatuhan hukuman pidana yang seberat-beratnya kepada polisi pembunuh AR dan segenap aparat pelaku represifitas. 
  2. Mendesak pencopotan Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri dan Dadang Hartanto dari jabatan Kapolda Maluku. 
  3. Menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi.  
  4. Menuntut penegakan batasan kewenangan dan penarikan Polri dari jabatan sipil. 
  5. Menuntut hasil konkret Reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental dari komisi percepatan Reformasi Polri.

Tuntutan perkara yang sangat serius terkait sederet insiden yang melibatkan polisi belakang ini dihiasi dengan pemandangan yang menarik perhatian. Ratusan personel kepolisian yang ditugaskan mengawal demo terlihat menggunakan atribut berupa peci dan sorban warna putih untuk pria, sedangkan polisi wanita terlihat menggunakan penutup kepala atau hijab. 

Alih-alih menjadi penenang massa demo, sebagian massa justru mengolok atribut pada kawalan demo tersebut. Lebih mengejutkan kembali, hal tersebut tidak berhenti pada atribut melainkan pelantunan selawat oleh personel polri ketika massa meneriakan tuntutannya. 

"Mereka pikir dengan menggunakan itu (peci dan sorban putih) bisa meluluhkan hati kita, kawan-kawan!" seru salah seorang orator dari atas mobil komando, dilansir dari laman Kompas.com (27/2/2026). 

Pihak kepolisian diwakili Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya memberikan alasan penggunaan atribut tersebut sebagai penghormatan terhadap bulan suci Ramadan. Pengamanan ini dilakukan secara humanis dan memperhatikan hak asasi manusia (HAM) mengingat aksi dilakukan di bulan penuh berkah bagi umat muslim. 

"Polda Metro Jaya memiliki ada tim selawat (shalawat). Jadi ada tim hadroh,tim selawat. Nah, kami menghormati bulan suci Ramadan dengan penggunaan peci, syal, serta bagi Polwan menggunakan hijab berwarna putih," jelas Budi kepada wartawan. 

Namun, massa dikecewakan dengan tidak diberinya kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan pimpinan aparat untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi yang melandasi aksi tersebut. Apabila tuntutan tidak mengalami perkembangan dari segala aspek massa demo tidak segan untuk kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar dan masif. 

Budi menegaskan pihaknya akan menjamin keamanan massa demo sebagai perlindungan penyampaian pendapat di muka umum dengan etika yang baik dan sesuai dengan undang-undang. Meskipun demikian, publik masih mempertanyakan apakah perlakuan yang sama akan dilakukan ketika aksi unjuk rasa bertepatan dengan hari besar keagamaan lain.