Sabtu, 11 Juli 2026
Walisongo Global Media
Culture

Napak Tilas Sejarah, Alasan Mengapa Kita Dianjurkan Puasa Tasu'a Sebelum Puasa Asyura

Admin WGM - Wednesday, 24 June 2026 | 11:30 AM

Background
Napak Tilas Sejarah, Alasan Mengapa Kita Dianjurkan Puasa Tasu'a Sebelum Puasa Asyura
Sejarah puasa tasua dan asyura (JournalAta /)

Pendekatan kultural dan penguatan literasi historis keagamaan menjelang pergantian tahun baru Islam di kawasan urban kini kian gencar disosialisasikan oleh para pemuka agama dan akademisi sejarah Islam. Berdasarkan kajian riset manuskrip klasik dan evaluasi berkala terhadap tradisi ibadah tahunan, pemahaman masyarakat mengenai latar belakang sebuah syariat sering kali hanya menyentuh aspek ritualitas tanpa mendalami akar kronologis yang melandasinya. Kondisi ini memicu urgensi diseminasi informasi yang komprehensif agar umat dapat menjalankan ibadah dengan landasan teologis yang kokoh di tingkat tapak. Guna memperluas cakrawala pengetahuan publik, para pakar sejarah Islam gencar menjelaskan sejarah mengapa Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk turut berpuasa pada tanggal sembilan Muharam atau Tasu'a sebagai pembeda (khilaf) dari ritual puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa di tanggal sepuluh Muharam.

Para sejarawan teologi Islam memaparkan bahwa akar kronologis dari anjuran puasa Tasu'a ini bermula pasca-peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekah menuju Madinah. Secara mekanis, ketika menetap di Madinah, Nabi Muhammad SAW menjumpai kaum Yahudi setempat sedang melaksanakan ibadah puasa dengan khidmat pada tanggal sepuluh Muharam, yang dikenal sebagai hari Asyura. Berdasarkan penelusuran riwayat shahih, kaum Yahudi melakukan ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas momentum historis di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS serta Bani Israil dari kejaran pasukan Firaun melalui mukjizat terbelahnya Laut Merah. Nabi Muhammad SAW kemudian menegaskan bahwa umat Islam secara moral dan teologis jauh lebih berhak untuk menghormati serta mengikuti jejak Nabi Musa AS, sehingga beliau langsung menginstruksikan umat Islam untuk turut mewajibkan puasa pada hari Asyura tersebut.

Sangat kontras dengan semangat awal yang selaras, dinamika sosio-keagamaan di Madinah menuntut adanya penegasan identitas spiritual yang distingtif bagi umat Islam agar tidak terjadi asimilasi ritual yang bias. Analisis teks hadis menunjukkan bahwa menjelang akhir hayat beliau, para sahabat menyampaikan masukan bahwa tanggal sepuluh Muharam merupakan hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani melalui perayaan yang spesifik. Merespons aspirasi tersebut, Nabi Muhammad SAW secara taktis merumuskan sebuah strategi kultural yang visioner untuk menjaga orisinalitas syariat Islam. Beliau bersabda bahwa apabila dirinya masih diberi umur panjang hingga tahun berikutnya, maka umat Islam secara mekanis akan mengawali puasa sejak tanggal sembilan Muharam, sebuah keputusan hukum yang didesain secara presisi untuk menciptakan pembeda yang tegas dari tradisi kaum Yahudi.

Dampak teologis dan sosiologis dari pengarusutamaan sejarah puasa Tasu'a ini menurut para ahli sosiologi agama berkontribusi linear terhadap pembentukan karakter kemandirian prinsip hidup umat di ruang publik. Konsep khilaf atau penegasan perbedaan dalam ritual ini melatih masyarakat untuk memiliki keteguhan identitas spiritual, sehingga tidak mudah goyah atau sekadar mengekor pada tren budaya mayoritas global tanpa filter yang rasional. Melalui pemahaman sains historis yang lurus, umat Islam di tingkat tapak dapat memandang ibadah puasa di awal bulan Muharam bukan sekadar sebagai amalan pengganti dosa musiman, melainkan sebagai sebuah manifestasi penghormatan sejarah nabi-nabi terdahulu yang dikemas dalam bingkai independensi syariat yang berdaulat.

Jajaran pengurus daerah lembaga dakwah bersama kementerian agama di tingkat wilayah kini terus bergerak mendorong pengintegrasian materi sejarah Tasu'a ke dalam program kajian mimbar dan kurikulum madrasah secara berkala. Sinergi lintas sektoral ini dibentuk untuk meruntuhkan miskonsepsi siber di media sosial yang sering kali keliru dalam menetapkan lini masa pelaksanaan puasa sunah akibat rancunya penghitungan kalender kamariah domestik. Dukungan aktif dari para edukator keagamaan dalam menyediakan infografis penanggalan yang presisi juga dinilai sangat strategis untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat dalam menghidupkan syiar bulan suci secara terukur dan penuh kesadaran ilmiah.

Melalui ulasan komprehensif mengenai rekam jejak sejarah dan urgensi puasa pada tanggal sembilan Muharam sebagai instrumen pembeda ritual ini, seluruh lapisan masyarakat diimbau untuk menyambut bulan Muharam dengan kesiapan spiritual yang matang. Kesadaran untuk mempelajari akar sejarah ibadah merupakan fondasi utama dalam melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara keimanan di era kontemporer. Dengan konsisten menerapkan disiplin ilmu tarikh serta menghapus pola peribadatan yang ikut-ikutan tanpa dasar literasi yang kuat, institusi keluarga muslim dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang religius, berwawasan luas, dan siap menjaga keluhuran nilai-nilai agama di masa depan.