Jumat, 10 Juli 2026
Walisongo Global Media
Culture

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina

Admin WGM - Wednesday, 08 July 2026 | 05:00 PM

Background
Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
Rumpun bahasa austronesia (Wikipedia /)

Kawasan Asia Tenggara tidak hanya dipersatukan oleh kedekatan geografis dan kerja sama geopolitik, melainkan juga oleh ikatan historis serta kultural yang sangat mengakar kuat. Salah satu bukti nyata dari warisan masa lalu yang masih dapat disaksikan hingga hari ini adalah adanya kemiripan linguistik di antara bahasa-bahasa nasional anggota ASEAN. Ketika menelusuri kosakata dalam bahasa Melayu, bahasa Indonesia, dan bahasa Tagalog dari Filipina, kita akan menemukan benang merah berupa kesamaan struktur dan kata yang sangat mencolok. Kemiripan ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan hasil dari akar rumpun bahasa yang sama serta pengaruh timbal balik dari bahasa kuno seperti Sanskerta.

Secara silsilah kebahasaan, bahasa Melayu dan bahasa Tagalog merupakan bagian dari keluarga besar rumpun bahasa Austronesia. Kedekatan genetis ini membuat kedua bahasa tersebut memiliki banyak kosakata dasar yang hampir serupa, baik dalam hal pelafalan maupun makna konvensionalnya. Sebagai contoh, untuk menyebut bilangan lima, bahasa Tagalog menggunakan kata lima, yang persis sama dengan bahasa Melayu dan Indonesia. Contoh lainnya dapat ditemukan pada kata mata untuk indra penglihatan, anak untuk keturunan, serta batu untuk benda keras, yang semuanya memiliki arti dan ejaan yang identik atau hanya memiliki sedikit pergeseran fonetis di kedua wilayah tersebut.

Selain karena faktor rumpun Austronesia, kemiripan kebahasaan di kawasan ini semakin diperkaya oleh penetrasi bahasa Sanskerta yang dibawa melalui jalur perdagangan serta penyebaran agama Hindu dan Buddha pada masa lampau. Bahasa Sanskerta bertindak sebagai bahasa intelektual dan liturgis yang menyerap ke dalam struktur bahasa lokal di Nusantara hingga ke kepulauan Filipina. Kata-kata serapan seperti guru, jiwa, mukha yang menjadi muka atau mukha, serta bhasha yang bertransformasi menjadi bahasa atau wika, menjadi bukti sahih bagaimana nilai-nilai kebudayaan India kuno mengintegrasikan cara berpikir masyarakat ASEAN secara masif.

Menyingkap tabir kemiripan bahasa di Asia Tenggara ini memberikan kita cara pandang baru yang lebih inklusif mengenai konsep persaudaraan regional. Bahasa ternyata berfungsi sebagai cermin historis yang merekam jejak migrasi, interaksi sosial, serta adaptasi budaya antarbangsa yang telah berlangsung selama ribuan tahun silam. Melalui pemahaman mendalam terhadap aspek kebahasaan ini, masyarakat di kawasan ASEAN sepatutnya dapat merasakan kedekatan emosional yang lebih erat. Kesadaran bahwa kita berbagi identitas kultural yang serupa di masa lalu dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun komunikasi global dan integrasi komunitas yang lebih harmonis di masa depan.