Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
Admin WGM - Monday, 29 June 2026 | 11:45 AM


Pemerintah Kabupaten Batang membuka peluang menjadikan Batang Art Festival (BAF) sebagai salah satu agenda dalam kalender event nasional. Wacana tersebut mengemuka setelah penyelenggaraan BAF ke-7 sukses menarik ribuan pengunjung yang memadati kawasan Jalan Veteran Batang selama dua hari pelaksanaan, mulai Sabtu (27/6/2026) malam.
Festival seni yang tahun ini mengusung tema "Babad Alas Roban" mendapat perhatian langsung dari Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan. Ia menyaksikan rangkaian pertunjukan yang menampilkan kolaborasi puluhan seniman dari berbagai bidang, mulai dari seni tari, musik, sastra, hingga seni rupa yang dipentaskan di ruang terbuka di pusat kota.
Menurut Faiz, penyelenggaraan Batang Art Festival menunjukkan kualitas yang semakin baik dari tahun ke tahun. Selain menghadirkan hiburan, festival tersebut dinilai mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi sarana promosi Kabupaten Batang kepada masyarakat yang lebih luas.
Ia menilai seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun karakter masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi daerah di tingkat nasional. Karena itu, peluang memasukkan Batang Art Festival ke dalam kalender event nasional dinilai sebagai langkah yang layak untuk terus didorong.
"Ini bisa memperkuat karakter masyarakatnya dan makin memperkenalkan Batang secara luas," ujar Faiz.
Tema Babad Alas Roban dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan identitas masyarakat pesisir utara Jawa, khususnya Kabupaten Batang. Alas Roban selama ini dikenal sebagai salah satu ikon yang melekat dengan wilayah tersebut, sehingga cerita yang diangkat dalam festival memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat setempat.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menghadirkan sedikitnya 16 penampil dari berbagai cabang seni dan genre. Beragam pertunjukan disajikan sebagai bentuk kolaborasi antara seni tradisional dan modern.
Festival dibuka dengan penampilan kelompok seni dari berbagai sanggar di Kabupaten Batang yang membawakan kisah-kisah budaya lokal melalui koreografi yang dikemas lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.
Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Batang, Achmad Suroso, mengatakan dukungan pemerintah daerah menjadi motivasi besar bagi para pelaku seni untuk terus menghasilkan karya-karya terbaik.
Menurutnya, perhatian yang diberikan pemerintah terhadap penyelenggaraan Batang Art Festival menjadi bukti bahwa seni dan budaya memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah.
Selain pertunjukan tari dan musik etnik, BAF 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan seni lainnya, seperti pameran mural karya seniman Batang, pembacaan monolog dan puisi, hingga penampilan grup musik dengan beragam aliran yang semakin memperkaya atmosfer festival.
Memasuki hari kedua, pengunjung kembali disuguhi penampilan sejumlah band lokal yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem musik di Kabupaten Batang. Beberapa di antaranya adalah Stagger, Leydenk, D7, Batang Blues, Chicase, dan Paguyuband yang tampil menghibur masyarakat.
Batang Art Festival sendiri merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Daerah Batang. Selama ini, festival tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku seni tradisional maupun modern untuk menampilkan karya kreatif mereka kepada publik sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal.
Achmad Suroso berharap apresiasi yang diberikan Bupati Batang dapat menjadi awal bagi Batang Art Festival untuk berkembang ke tingkat yang lebih tinggi. Menurutnya, peluang masuk ke kalender event nasional akan semakin terbuka apabila kualitas penyelenggaraan terus dipertahankan dan ditingkatkan.
"Tanggapan beliau luar biasa, karena setelah melihat kesenian tradisional Batang ini, akan diangkat ke tingkat nasional. Persiapan yang matang membuahkan karya seni yang memukau penikmatnya," tutup Achmad.
Next News

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
a day ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
2 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
2 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
4 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
4 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
4 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
5 days ago

Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
8 days ago

Ziarah Agung Awal Suro: Ikhtiar Mengetuk Pintu Langit di Wonobodro
12 days ago

Pasar Senggol Batang, Pusat Jual Beli Legendaris yang Jadi Ikon Nostalgia Warga Pantura
12 days ago





