Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
Admin WGM - Thursday, 02 July 2026 | 04:18 PM


Selain terkenal dengan batiknya, Pekalongan memiliki kesenian tradisional rakyat yang sangat ikonik di wilayah Pantura, yaitu tari sintren. Kesenian ini telah masuk sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2019, dengan ciri di masyarakat sebagai tarian dengan ritual mistis atau magis.
Secara bahasa, kata "sintren" berasal dari gabungan dua suku kata bahasa Jawa, yaitu "si" yang berarti dia, dan "tren/tri" yang berarti putri. Jadi, sintren memiliki makna "si putri" atau sang penari wanita.
Asal-usul tari ini bersumber dari kisah cinta Raden Sulandono (putra Ki Bahurekso dan Dewi Rantamsari) dengan Sulasih. Hubungan asmara mereka terhalang oleh restu ayah Raden Sulandono, hingga akhirnya mereka terpisahkan. Keputusan ini membuat Raden Sulandono menjadi pertapa dan Sulasih memilih menjadi penari.
Meski terpisah jarak dan restu, cinta mereka tidak mati. Hubungan mereka dibantu oleh Dewi Rantamsari untuk mempertemukan keduanya di alam gaib. Setiap kali Sulasih menari, roh bidadari masuk ke tubuhnya. Di saat yang sama, Sulandono dipanggil dari pertapaannya untuk menemui sang kekasih di balik dimensi yang berbeda.
Di samping ritual magis yang menjadi keunikannya, proses pencarian penari untuk tampil harus berasal dari seorang gadis yang benar-benar bersih dan perawan. Tari sintren menjadi pertunjukan rakyat pantai utara yang digemari pada tahun 1950-an. Namun, karena situasi politik yang melanda Indonesia pada tahun 1966, tari sintren mengalami keterpurukan karena dianggap sebagai kesenian yang melemahkan semangat revolusioner. Meskipun demikian, tari sintren mengalami kejayaan kembali pada tahun 1990-an. Hingga saat ini, tari sintren masih kerap dipentaskan dalam berbagai pertunjukan budaya di wilayah Kota Pekalongan dan sekitarnya.
Next News

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
a day ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
2 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
2 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
4 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
4 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
4 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
5 days ago

Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
11 days ago

Ziarah Agung Awal Suro: Ikhtiar Mengetuk Pintu Langit di Wonobodro
12 days ago

Pasar Senggol Batang, Pusat Jual Beli Legendaris yang Jadi Ikon Nostalgia Warga Pantura
12 days ago





