Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Misteri "Desa Digital" yang Hilang: Fenomena Ghost Town Akibat Kegagalan Investasi Smart City di Indonesia

Admin WGM - Wednesday, 11 February 2026 | 09:09 PM

Background
Misteri "Desa Digital" yang Hilang: Fenomena Ghost Town Akibat Kegagalan Investasi Smart City di Indonesia
(puskomedia.id/)

Beberapa tahun lalu, narasi tentang "Desa Digital" dan Smart City menghiasi berbagai tajuk berita di Indonesia. Janjinya muluk: koneksi internet super cepat di pelosok, tata kelola berbasis AI, hingga ekonomi desa yang terintegrasi global. Namun, memasuki tahun 2026, pemandangan di beberapa titik lokasi "percontohan" justru memilukan. Alih-alih menjadi pusat inovasi, tempat-tempat ini berubah menjadi Ghost Town Digital. Gedung-gedung pusat data yang megah kini terbengkalai dengan kaca pecah, sementara perangkat IoT (Internet of Things) mahal hanya menjadi pajangan berdebu tanpa ada yang mengoperasikan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik "hilangnya" desa-desa masa depan ini?

1. Teknologi yang Dipaksakan (Top-Down Failure)

Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah implementasi teknologi yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Pemerintah dan investor seringkali hanya "menaruh" teknologi canggih tanpa membekali warga dengan literasi digital yang cukup. Hasilnya, saat masa proyek habis dan teknisi meninggalkan lokasi, warga tidak tahu cara merawat atau memanfaatkannya.

2. Infrastruktur Tanpa Ekosistem

Membangun menara BTS dan gedung kantor pintar memang mudah, tapi membangun ekosistem ekonomi itu sulit. Di beberapa "Desa Digital", infrastruktur fisik sudah siap, namun pasokan listrik sering tidak stabil dan jalur logistik untuk produk desa tetap sulit. Tanpa adanya perputaran uang yang nyata, investasi miliaran rupiah tersebut akhirnya sia-sia dan ditinggalkan penghuninya.

3. Masalah Pemeliharaan (The Maintenance Trap)

Teknologi Smart City membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal. Ketika anggaran daerah tidak mencukupi atau investor menarik diri karena kurangnya profit, sistem pintar tersebut mulai "mati" satu per satu. CCTV cerdas yang rusak tidak diperbaiki, sensor pertanian otomatis mati, dan akhirnya gedung-gedung canggih tersebut menjadi "sampah arsitektur" di tengah pemukiman warga.

4. Pelajaran Pahit: Pentingnya Humanware daripada Software

Fenomena Ghost Town ini menjadi peringatan keras di tahun 2026 bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa diukur hanya dari seberapa banyak kabel fiber optik yang tertanam. Kuncinya tetap pada pemberdayaan manusia (humanware). Tanpa kesiapan mental dan keterampilan warganya, infrastruktur digital hanya akan menjadi monumen kegagalan yang menyeramkan.

Misteri "Desa Digital" yang hilang ini adalah cermin bagi kita semua bahwa inovasi tanpa fondasi sosial yang kuat hanya akan berakhir jadi cerita hantu. Kita butuh solusi yang membumi, bukan sekadar gaya-gayaan teknologi demi mengejar predikat "pintar". Ingat ya, Winners, kemajuan sejati adalah ketika teknologi bisa menyatu dengan kebutuhan hidup sehari-hari, bukan malah mengasingkan manusia dari tanahnya sendiri. Apakah di dekat daerahmu ada gedung "Smart City" yang mulai berhantu?