Menghidupkan Kembali Renjana dan Swastamita Mengenal Kosakata Indah Bahasa Indonesia yang Jarang Terdengar
Admin WGM - Thursday, 07 May 2026 | 10:00 PM


Bahasa adalah entitas yang hidup; ia tumbuh, berkembang, dan terkadang, meninggalkan beberapa bagian darinya di masa lalu. Dalam perjalanan Bahasa Indonesia menuju modernitas, kita sering kali lebih memilih diksi yang praktis dan lugas. Namun, di balik percakapan sehari-hari yang fungsional, tersimpan ribuan kosakata puitis yang mulai terlupakan atau "hilang" dari peredaran. Kata-kata ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah perasaan yang memiliki resonansi emosional mendalam. Mengenal kembali diksi-diksi indah ini adalah upaya untuk merawat identitas budaya sekaligus memperkaya imajinasi kita dalam berbahasa.
Salah satu kata yang belakangan mulai muncul kembali di kalangan pencinta sastra adalah Renjana. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), renjana berarti rasa hati yang kuat seperti rindu, cinta kasih, atau berahi. Kata ini memiliki bobot emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar kata "cinta". Renjana menggambarkan sebuah hasrat yang membara dan mendalam, sebuah tarikan jiwa yang sulit dijelaskan. Penggunaan kata renjana dalam sebuah kalimat mampu mengubah nuansa tulisan menjadi lebih intim dan elegan, memberikan ruang bagi pembaca untuk merasakan kedalaman emosi yang ingin disampaikan oleh penulisnya.
Tak kalah memukau, kita juga memiliki kata Swastamita. Kata ini merujuk pada pemandangan indah saat matahari terbenam. Sering kali kita hanya menggunakan kata "senja", namun swastamita menawarkan visualisasi yang lebih spesifik mengenai keindahan warna langit yang berubah perlahan menuju kegelapan. Diksi ini seolah menangkap momen transisi alam dengan cara yang sangat artistik. Padanannya adalah Arunika, yang berarti cahaya matahari saat mulai terbit. Dengan menggunakan swastamita atau arunika, kita tidak hanya menyebutkan waktu, tetapi juga memberikan penghormatan pada keindahan estetika yang diciptakan oleh alam semesta.
Selanjutnya, terdapat kata Jamanika yang secara harfiah berarti tirai atau tabir. Dalam konteks sastra, jamanika sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang menutupi atau membatasi pandangan, baik secara fisik maupun kiasan. Kata ini membawa nuansa klasik yang kental, membawa kita kembali ke era di mana bahasa digunakan sebagai instrumen seni yang halus. Ada pula kata Meraki, sebuah kata serapan yang berarti melakukan sesuatu dengan jiwa, kreativitas, dan cinta; atau Niskala yang berarti tidak berwujud atau abstrak. Kosakata seperti ini memungkinkan kita untuk mendeskripsikan konsep-konsep filosofis dengan lebih presisi dan indah.
Mengapa diksi-diksi ini mulai jarang digunakan? Arus globalisasi dan kecepatan informasi sering kali menuntut efisiensi dalam berbahasa, sehingga kata-kata yang dianggap "rumit" atau "kuno" perlahan tersisih. Namun, bagi para penulis, jurnalis, dan pegiat media kreatif, menghidupkan kembali diksi yang hilang ini adalah sebuah peluang. Sebagai praktisi media yang memiliki latar belakang sastra, penggunaan kosa kata yang unik dapat menjadi pembeda dalam menciptakan konten yang berkarakter dan memiliki daya pikat visual maupun tekstual yang lebih kuat di mata audiens.
Sebagai penutup, merawat diksi yang hilang adalah bentuk penghargaan terhadap kekayaan literasi bangsa. Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar sarana untuk bertukar informasi, melainkan jembatan untuk mengekspresikan rasa yang paling halus sekalipun. Dengan mulai menyelipkan kembali kata-kata seperti renjana, swastamita, atau jamanika ke dalam tulisan kita, kita sedang menjaga agar cahaya keindahan bahasa kita tidak benar-benar padam. Mari kita jadikan kosa kata indah ini sebagai bagian dari identitas modern yang tetap berakar pada keagungan tradisi bahasa kita sendiri.
Next News

Myl Paal, Penanda Bersejarah di Pekalongan yang Menjadi Saksi Jalan Raya Pos Daendels
in 6 hours

Gak Boleh Dilewatkan, Ini 3 Rekomendasi Film Dokumenter Tema 1998 yang Wajib Kamu Tonton!
18 hours ago

Kisah Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula Pergerakan yang Mengguncang Hindia Belanda Lewat Tulisan
2 days ago

Bukan Cuma Belajar Kedokteran, Mahasiswa STOVIA Ini Sukses Mengubah Arah Sejarah Indonesia
2 days ago

Bedah Linguistik: Mengapa Kata 'Qurban' Berubah Menjadi 'Kurban' dalam Kamus Baku KBBI?
4 days ago

Siti Walidah dan Peran Perempuan dalam Keperawatan Tradisional Indonesia
10 days ago

Sejarah PPNI Perjalanan Persatuan Perawat Nasional Indonesia Sejak 1974
10 days ago

Pesona Pantai Keramat: Keindahan Tersembunyi di Ujung Utara Nusantara
10 days ago

Tradisi Mane'e: Kearifan Lokal Menangkap Ikan dengan Janur Kelapa di Kepulauan Talaud
10 days ago

Suku Talaud di Pulau Miangas Penjaga Budaya dan Kedaulatan di Beranda Terluar Nusantara
10 days ago




