Jumat, 10 Juli 2026
Walisongo Global Media
Culture

Mengenal King Baba dan King Bibinge, Pakaian Adat Kalimantan Barat yang Sarat Makna

Admin WGM - Sunday, 28 June 2026 | 05:00 PM

Background
Mengenal King Baba dan King Bibinge, Pakaian Adat Kalimantan Barat yang Sarat Makna
(Kementerian Kebudayaan RI/)

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tercermin melalui beragam pakaian adat di setiap daerah. Di Kalimantan Barat, masyarakat Suku Dayak mengenal dua pakaian adat utama, yaitu King Baba untuk laki-laki dan King Bibinge untuk perempuan. Keduanya menjadi simbol identitas budaya yang hingga kini masih dikenakan dalam berbagai upacara adat, festival budaya, hingga acara resmi.

Nama King Baba berasal dari bahasa Dayak, di mana king berarti cawat atau pakaian, sedangkan baba berarti laki-laki. Sementara King Bibinge merupakan pakaian perempuan, dengan istilah king yang merujuk pada pakaian atau rok.

Terbuat dari Kulit Kayu

Salah satu keunikan King Baba dan King Bibinge terletak pada bahan pembuatannya. Dahulu, pakaian ini dibuat dari kulit kayu kapuo (ampuro) yang berasal dari pohon gantiingan dan talong. Kulit kayu dipukul berulang kali di dalam air hingga menjadi lunak dan lentur, kemudian dijemur hingga kering sehingga menyerupai kain.

Setelah proses tersebut selesai, bahan kulit kayu dihias dengan motif khas Dayak dan dijahit menjadi pakaian yang siap dikenakan. Teknik pengolahan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu bukti kearifan lokal masyarakat Dayak dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Perbedaan King Baba dan King Bibinge

King Baba memiliki bentuk menyerupai rompi tanpa lengan yang dipadukan dengan cawat atau celana, lengkap dengan ikat kepala berhias bulu burung enggang serta senjata tradisional mandau. Karena sering dikenakan saat upacara adat maupun peperangan pada masa lalu, pakaian ini juga dikenal sebagai baju perang Suku Dayak.

Sementara itu, King Bibinge dibuat lebih tertutup dengan tambahan penutup dada dan rok. Busana ini dihiasi manik-manik berwarna cerah serta dilengkapi aksesori seperti kalung dari tulang hewan, gelang dari akar tanaman, dan hiasan kepala berbulu burung enggang. Selain memperindah penampilan, beberapa aksesori tersebut dipercaya memiliki makna perlindungan menurut kepercayaan masyarakat Dayak.

Masih Dilestarikan Hingga Kini

Walaupun kini masyarakat Dayak lebih banyak mengenakan pakaian modern dalam kehidupan sehari-hari, King Baba dan King Bibinge tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Kalimantan Barat. Keduanya masih digunakan dalam upacara adat, pesta budaya seperti Pekan Gawai Dayak, penyambutan tamu kehormatan, hingga pertunjukan seni tradisional.

Pelestarian pakaian adat ini juga menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.

King Baba dan King Bibinge bukan sekadar pakaian adat, tetapi juga simbol sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Dengan bahan alami, proses pembuatan tradisional, serta ragam aksesori yang sarat makna, kedua busana ini menjadi salah satu warisan budaya Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan.