Lomba Dayung Tradisional Batang sebagai Perayaan Kemenangan Tradisi Syawalan
Trista - Monday, 23 March 2026 | 04:45 PM


Lomba Dayung Tradisional 2026 kembali digelar di bantaran Sungai Sambong, Desa Klidang Lor, Kabupaten Batang (22/3/2026). Perhelatan budaya yang rutin diadakan setiap tahunnya menjadi bagian dari perayaan Idulfitri di pesisir utara Jawa ini bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan representasi dari warisan leluhur dan semangat gotong royong masyarakat setempat.
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan tim yang memperebutkan juara dalam lintasan air sepanjang ratusan meter. Masyarakat Kabupaten Batang telah memadati bantaran sungai untuk menyaksikan kemeriahan yang menyatukan unsur ketangkasan fisik dengan nilai-nilai kultural yang berakar dari keseharian masyarakat nelayan.
"Pertandingan selama tujuh hari dan diikuti 512 nomor tanding dan 213 peserta. Kemudian disaring untuk menentukan juara dengan satu hari bisa 100 pertandingan dari jam 08.00 WIB - 16.30 WIB," jelas Egitelan Priantono, Ketua Lomba Dayung Tradisional 2026, (23/3/2026).
Egi menyampaikan persiapan acara sudah sejak sebelum Ramadan dan baru dimulai acara satu hari setelah lebaran (22/3/2026). Pertandingan akan diadakan selama 7 hari sebagai puncak dari kegiatan budaya tradisional ini yaitu Sabtu (28/3/2026). Proses pendaftaran dikenai biaya sebesar Rp 550 ribu per nama peserta dengan total hadian mencapai Rp 90 juta.
Selain itu, perbedaan teknis pada tahun 2026 dengan sebelumnya adalah peserta yang mendaftar tidak boleh berasal dari timnas (tim nasional) dayung aktif maupun tidak aktif dan simpatisan yang bergabung dari tahun 2022-2025. Meskipun nomor tanding peserta mengalami penurunan dari 526 nomor tanding di 2025 dan 512 nomor tanding di 2026 tetapi semangat dan antusias peserta dan penonton tidak menurun.
Antusiasme peserta disampaikan oleh Adriansyah, Tim Laju Sukmo Jati, Desa Sekarsari, Karangasem, Kabupaten Batang yang telah tiga kali mengikuti Lomba Dayung Tradisional. Menurut penuturannya, satu sampan diisi oleh 12 peserta dengan satu penguji saat berlangsungnya lomba dayung tersebut.
"Saya sudah latihan dari sebelum puasa, ini tergolong mepet karena dari peserta banyak yang kerja di kapal (nelayan). Tapi, latihan full (penuh atau rutin) hari kesepuluh puasa dan personilnya baru lengkap," ungkap Adriansyah (23/3/2026).
Adriansyah mengaku dirinya dan tim menggunakan dana pribadi untuk pendaftaran dan mengajukan donasi kepada usaha-usaha desa untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Berawal dari tradisi pada peserta lomba cukup serius dalam menekuni bidang ini dengan adanya pelatih, pemahaman teknis, hingga strategi untuk meraih gelar juara.
Lomba Dayung Tradisional Batang menjadi potret nyata simbol ketangguhan masyarakat pesisir untuk terus menjaga dan merawat jati dirinya melalui olahraga dan budaya. Kegiatan ini akan berpuncak pada Sabtu (28/3/2026) sebagai tradisi syawalan yang menunjukan dedikasi tinggi dalam melestarikan budaya nenek moyang.
Next News

Kilas Balik Hari Populasi Dunia: Menilik Tantangan Demografi Global Masa Kini
in 3 hours

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
2 days ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
3 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
3 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
5 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
5 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
5 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
6 days ago

Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
9 days ago

Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
12 days ago





