Jumat, 11 September 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Kemenkes Buka Suara Soal Masker Langka dan Meroket 10 Kali Lipat Imbas Abu Gunung Anak Krakatau

Azizatul Khifdiyah - Tuesday, 08 September 2026 | 11:16 AM

Background
Kemenkes Buka Suara Soal Masker Langka dan Meroket 10 Kali Lipat Imbas Abu Gunung Anak Krakatau
Harga masker meroket hingga 10 kali lipat imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kemenkes pastikan stok produsen aman dan imbau warga pakai masker medis. (detik.com/)

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memicu kelangkaan stok dan lonjakan harga masker secara signifikan di pasaran. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi fenomena tersebut terjadi di berbagai penjual eceran, baik toko offline maupun platform online. Masyarakat luas sempat mengeluhkan kesulitan membeli alat pelindung pernapasan ini secara daring di tengah situasi darurat abu vulkanik.

​Sejumlah penjual eceran bahkan dilaporkan menaikkan harga secara tidak wajar hingga menyentuh sepuluh kali lipat dari harga biasa. Selain lonjakan harga yang tergolong tidak wajar, beberapa toko juga melakukan pembatalan pesanan konsumen secara sepihak tanpa alasan jelas setelah proses checkout selesai. Fenomena spekulasi harga ini memicu keresahan publik yang membutuhkan perlindungan diri dari paparan abu vulkanik.

​Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, memberikan klarifikasi resmi mengenai kelangkaan masker yang tengah dikeluhkan masyarakat pada Selasa (8/9/2026). Dilansir dari detikcom, pihak Kemenkes memastikan bahwa kelangkaan stok sebenarnya hanya berdampak pada tingkat penjual eceran di beberapa lokasi. Menurutnya, persediaan masker di tingkat produsen serta distributor nasional sampai saat ini masih sangat mencukupi.

​"Berkenaan dengan beredarnya isu kelangkaan stok dan kenaikan harga masker di pasaran pasca letusan Gunung Anak Krakatau, saat ini memang terjadi kenaikan harga, di beberapa toko offline maupun online," kata Aji Muhawarman.

Pihak Kemenkes menegaskan pasokan utama dari produsen sebenarnya tidak mengalami kendala.

"Kelangkaan stok masker hanya terjadi di sejumlah tempat di tingkat penjual eceran, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi," lanjutnya.

​Sebagai langkah antisipasi kelangkaan masker jenis respirator seperti N95, KN95, atau KF94, Kemenkes mengimbau warga memakai masker medis biasa secara benar. Masker medis biasa memiliki kemampuan filtrasi partikel sebesar 50 hingga 60 persen, sedangkan jenis respirator mampu menyaring hingga 95 persen partikel. Alternatif penggunaan masker medis yang tepat tetap disarankan apabila masker jenis respirator berstandar tinggi belum tersedia di pasaran.

​Edukasi mengenai tata cara penggunaan masker medis yang aman turut disampaikan oleh dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K). Berdasarkan keterangannya dalam tayangan detikPagi pada Senin (7/9/2026), masker medis maupun respirator harus rutin diganti karena bisa menjadi lembap akibat uap air pernapasan. Kelembapan berlebih pada permukaan masker dapat menurunkan keefektifan perlindungan terhadap paparan partikel abu.

​"Harus secara berkala diganti, termasuk N95 kalaupun Anda pakai pada pekerja di luar misalnya kerjanya sudah 6 jam, 8 jam harus diganti," jelas dr Agus.

Penggantian masker secara berkala sangat krusial demi menjaga kesehatan saluran pernapasan masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan. Disiplin mengganti masker ini diharapkan mampu meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.