Jejak Sejarah Suku Bajo dan Evolusi Ribuan Tahun yang Menciptakan "Manusia Ikan" Nusantara
Admin WGM - Wednesday, 04 March 2026 | 03:33 PM


Indonesia patut bangga memiliki Suku Bajo, kelompok masyarakat yang dijuluki sebagai "Nomaden Laut". Kehebatan mereka dalam mengarungi samudra sudah tersohor hingga ke mancanegara. Bukan sekadar mahir bersampan, orang-orang Bajo memiliki kemampuan fisik yang seolah menentang hukum alam: mereka sanggup menyelam hingga kedalaman 70 meter dan bertahan di dalam air selama 13 menit hanya dengan sekali tarikan napas.
Fenomena ini menarik perhatian para peneliti dunia, termasuk dari University of Cambridge. Hasilnya mengejutkan; kemampuan luar biasa ini bukan hanya hasil latihan sejak kecil, melainkan bentuk adaptasi genetik yang nyata pada tubuh mereka.
Evolusi pada Organ Limpa yang Tak Biasa
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell, terungkap bahwa rahasia utama Suku Bajo terletak pada organ bernama limpa. Limpa manusia berfungsi sebagai gudang penyimpanan sel darah merah yang kaya akan oksigen. Saat seseorang menahan napas di dalam air, limpa akan berkontraksi untuk menyuntikkan sel darah merah tambahan ke dalam aliran darah sebagai cadangan oksigen.
Para peneliti menemukan bahwa ukuran limpa orang Suku Bajo rata-rata 50 persen lebih besar dibandingkan masyarakat daratan pada umumnya. Dengan limpa yang berukuran jumbo, tubuh mereka secara otomatis memiliki "tabung oksigen alami" yang jauh lebih besar, memungkinkan mereka berlama-lama di dasar laut untuk berburu ikan.
Peran Gen PDE10A dalam Perubahan Tubuh
Ukuran limpa yang besar ini ternyata dipicu oleh sebuah gen unik bernama PDE10A. Melalui perbandingan DNA, ditemukan bahwa variasi genetik ini hanya dimiliki secara dominan oleh masyarakat Suku Bajo. Gen ini berperan dalam mengatur hormon tiroid yang secara langsung memengaruhi ukuran limpa.
Hal yang paling menakjubkan adalah adaptasi ini ditemukan pada seluruh anggota masyarakat Bajo, baik mereka yang bekerja sebagai penyelam aktif maupun mereka yang jarang menyelam. Ini membuktikan bahwa perubahan fisik tersebut sudah tertanam secara genetik melalui proses evolusi selama ribuan tahun akibat gaya hidup yang sangat bergantung pada lautan.
Refleks Menyelam Manusia yang Dioptimalkan
Selain faktor genetik, tubuh Suku Bajo juga sangat efisien dalam merespons Mammalian Dive Reflex. Saat wajah mereka menyentuh air, detak jantung akan melambat secara signifikan (bradikardia) dan pembuluh darah di anggota gerak akan menyempit guna mengalirkan darah penuh oksigen hanya ke organ vital seperti otak dan jantung.
Kombinasi antara ukuran limpa yang masif dan refleks tubuh yang terlatih ini menjadikan mereka penyelam bebas paling andal di dunia. Kemampuan ini bukan hanya soal ketahanan fisik, tetapi juga bukti bagaimana lingkungan dapat membentuk profil biologis manusia demi bertahan hidup.
Suku Bajo adalah contoh nyata dari evolusi manusia yang masih berlangsung hingga saat ini. Kemampuan mereka untuk menyelam belasan menit tanpa bantuan alat oksigen adalah warisan alamiah yang luar biasa. Memahami sains di balik tubuh mereka tidak hanya menambah wawasan kita, tetapi juga menyadarkan betapa pentingnya menjaga kelestarian budaya dan habitat laut tempat mereka bernaung.
Next News

Kilas Balik Hari Populasi Dunia: Menilik Tantangan Demografi Global Masa Kini
in 30 minutes

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
2 days ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
3 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
3 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
5 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
5 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
5 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
6 days ago

Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
9 days ago

Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
12 days ago





