Gak Cuma Bubur Suro, Ini 5 Kuliner Khas Berbagai Daerah di Indonesia Saat Bulan Muharam
Admin WGM - Tuesday, 16 June 2026 | 11:00 AM


Momentum pergantian tahun baru Hijriah di Indonesia tidak hanya menjadi penanda transformasi spiritual bagi umat Muslim, melainkan juga menjadi etalase kekayaan budaya kuliner tradisional yang sarat akan makna filosofis. Selain bubur suro yang sudah populer di tanah Jawa, berbagai daerah di penjuru Nusantara ternyata memiliki ragam kuliner khas yang khusus disajikan hanya pada saat bulan Muharam atau dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Para antropolog kuliner dan pengamat budaya kini gencar mendokumentasikan khazanah boga pusaka ini guna mengedukasi publik mengenai pentingnya merawat identitas gastronomi lokal sebagai bagian dari strategi ketahanan budaya nasional di era modern.
Di wilayah pesisir Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Tuban, masyarakat memiliki tradisi kuat menyajikan kudapan apem tuban sebagai sajian utama dalam ritual menyambut awal bulan Muharam. Berbeda dengan kue apem pada umumnya, apem khas Tuban ini memiliki tekstur yang lebih kenyal dengan aroma daun pandan dan tapai singkong yang kuat, serta kerap disajikan dengan kuah santan gula merah yang pekat. Secara simbolis sosiologis, kata apem dipercaya masyarakat setempat berakar dari bahasa Arab, yakni afwum yang berarti permohonan ampunan, sehingga pembagian kue ini kepada tetangga sekitar dimaknai sebagai simbol pembersihan diri dari kesalahan masa lalu serta doa untuk keselamatan kolektif di tahun yang baru.
Beralih ke wilayah Indonesia tengah, masyarakat Muslim di pulau Kalimantan secara konsisten melestarikan tradisi memasak dan membagikan bubur asyura secara massal pada hari kesepuluh bulan Muharam. Proses pembuatan bubur legendaris ini tergolong sangat unik karena menuntut gotong royong warga kampung untuk mencampurkan sedikitnya empat puluh satu jenis bahan yang berbeda, mulai dari aneka sayuran sayur-mayur, umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga berbagai jenis daging dan bumbu rempah tradisional. Komposisi bahan yang melimpah dan beragam tersebut tidak hanya menghasilkan cita rasa gurih yang kaya, melainkan juga merepresentasikan simbol persatuan, kerukunan antarwarga, serta rasa syukur yang mendalam atas segala berkah bumi yang telah dinikmati.
Dampak dari pelestarian kuliner tematik keagamaan ini menurut para pakar sosiologi memiliki korelasi erat terhadap penguatan kohesi sosial di tingkat akar rumput. Aktivitas memasak kuliner Muharam yang umumnya dilakukan di pelataran masjid, surau, atau balai desa secara komunal menciptakan ruang interaksi tatap muka yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Di tengah laju urbanisasi dan modernisasi yang cenderung individualistis, momen kebersamaan dalam mengaduk kuali besar berisi sajian khas ini terbukti efektif merekatkan kembali jalinan silaturahmi serta merawat nilai gotong royong yang kian terkikis di era digital.
Pemerintah daerah melalui dinas pariwisata dan kebudayaan di berbagai provinsi kini terus mendorong perluasan literasi boga tradisional ini dengan menyelenggarakan festival kebudayaan dan lomba memasak kuliner khas Muharam. Sinergi ini dibentuk untuk menaikkan kelas kuliner pusaka agar tidak hanya dikenal oleh generasi tua, melainkan juga dapat memantik minat generasi muda serta para pemburu taktis wisata kuliner Nusantara. Dukungan komunitas dalam membagikan narasi sejarah dan filosofi di balik pembuatan sajian tersebut ke platform media sosial juga dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata halal dunia yang kaya akan nilai historis.
Melalui ulasan komprehensif mengenai ragam boga khusus awal tahun Hijriah ini, seluruh lapisan masyarakat diimbau untuk tidak hanya menikmati kelezatan rasanya, melainkan juga mendalami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Keterampilan dalam mempertahankan resep asli dan ritual penyajian kuliner Muharam merupakan wujud nyata dari penghormatan terhadap karya budaya para leluhur bangsa. Dengan terus menghadirkan cita rasa autentik Nusantara di meja makan setiap pergantian tahun, institusi keluarga tidak hanya berhasil menjaga warisan tradisi tetap hidup, melainkan juga berhasil memperkokoh fondasi jati diri bangsa yang beradab dan berwawasan masa depan.
Next News

Sering Tertukar, Ini Bedanya Nasi Kabsa Autentik Arab Saudi vs Nasi Mandi dan Biryani
in 2 hours

Hanya Ada Setahun Sekali, Ini Makna Filosofis di Balik Lezatnya Bubur Suro Khas Tahun Baru
a day ago

Sekilas Mirip Rawon, Ini Lho Pindang Tetel Kuliner Khas Pekalongan yang Bikin Nagih!
2 days ago

Mager Keluar Rumah? Yuk Bikin Menu 'Comfort Food' Praktis Ini buat Teman Begadang Santai
3 days ago

Samgyetang, Sup Ayam Ginseng yang Jadi Rahasia Warga Korea Melawan Cuaca Panas
4 days ago

Sering Salah Paham, Ini Bedanya Taco Autentik Meksiko vs Taco Tex-Mex Populer
5 days ago

Tetap Gurih dan Lezat! Ini 5 Bahan Alternatif Pengganti Santan yang Lebih Sehat
9 days ago

Duel Sarapan Juara: Pilih Surabi yang Gurih atau Bubur Cianjur yang Melimpah?
12 days ago

Bikin Kangen Masa Kecil! 7 Jajanan Pasar Sunda Ini Sekarang Sudah Mulai Langka
12 days ago

Serupa Tapi Tak Sama! Ini Perbedaan Nasi Tutug Oncom vs Nasi Cikur khas Sunda
12 days ago





