Selasa, 21 April 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Foodies Wajib Tahu! Rahasia Resep Warisan Kartini, dari Ayam Besengek hingga Sup Pangsit

Admin WGM - Tuesday, 21 April 2026 | 04:00 PM

Background
Foodies Wajib Tahu! Rahasia Resep Warisan Kartini, dari Ayam Besengek hingga Sup Pangsit
Ayam Besengek (RRI/)

Dalam lembaran sejarah yang kita baca, R.A. Kartini dikenal melalui pena dan pemikirannya. Namun, dalam kesehariannya di Jepara dan Rembang, Kartini adalah seorang pengamat budaya yang sangat menghargai seni memasak. Meja makan di keluarga Kartini adalah tempat di mana berbagai tradisi bertemu. Sebagai keluarga bupati, hidangan yang disajikan sering kali mencerminkan status sosial sekaligus keterbukaan terhadap pengaruh luar. Kartini bahkan sering mengirimkan hantaran makanan kepada sahabat-sahabat Belandanya, menjadikannya sebagai sarana diplomasi yang lembut namun efektif.

Salah satu hidangan yang paling identik dengan keluarga Kartini adalah Ayam Besengek. Masakan ini merupakan kebanggaan masyarakat Jepara. Secara teknis, Ayam Besengek menggunakan teknik bakar yang kemudian diolah kembali dengan santan kental dan bumbu rempah yang kaya seperti ketumbar, jintan, dan kunyit. Rasanya adalah perpaduan antara gurih, sedikit manis, dan aroma smoky yang khas. Bagi keluarga Kartini, hidangan ini sering muncul dalam jamuan-jamuan resmi maupun makan malam keluarga, melambangkan kehangatan dan kemewahan masakan Jawa pesisiran yang autentik.

Keunikan lain muncul dalam Sup Pangsit Jepara. Hidangan ini adalah bukti nyata terjadinya akulturasi budaya antara Jawa, Tionghoa, dan Eropa di meja makan Kartini. Jika pangsit biasanya identik dengan kuliner Tionghoa, di tangan keluarga Kartini, pangsit ini diisi dengan campuran udang atau daging yang kemudian disajikan dalam kuah bening yang segar dengan sentuhan bumbu pala ala Eropa. Sup ini mencerminkan karakter Kartini yang inklusif; ia mengambil elemen terbaik dari berbagai budaya dan meramunya menjadi sesuatu yang baru dan harmonis.

Saat pindah ke Rembang setelah menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Kartini pun berkenalan dengan kekayaan rasa setempat. Salah satunya adalah Sate Serepeh. Sate ini sangat unik karena tidak menggunakan bumbu kacang atau kecap seperti sate pada umumnya, melainkan menggunakan saus santan merah yang kental, gurih, dan pedas. Teknik pengolahan bumbu serepeh yang membutuhkan kesabaran dalam mengaduk santan agar tidak pecah mencerminkan ketelitian yang juga menjadi karakter dalam keseharian keluarga bangsawan saat itu.

Tidak hanya makanan berat, Kartini juga sangat menyukai kudapan tradisional. Kue Lapis dan berbagai jajanan pasar yang terbuat dari beras ketan sering kali menemani waktu minum teh di sore hari sambil ia menuliskan surat-suratnya yang visioner. Bagi Kartini, memasak dan menyajikan makanan adalah cara ia menunjukkan cinta kepada keluarganya. Ia bahkan sempat menyusun catatan resep masakan keluarga yang kemudian diwariskan secara turun-temurun, membuktikan bahwa baginya, menjaga warisan rasa sama pentingnya dengan memperjuangkan gagasan.

Melalui kuliner, kita bisa melihat sisi humanis Kartini. Di balik diskusi-diskusi berat mengenai emansipasi dan pendidikan, ada saat-saat di mana ia bercengkerama dengan saudara-saudaranya di dapur, mendiskusikan takaran rempah yang pas, atau mencicipi masakan baru. Kuliner khas Jepara dan Rembang yang menjadi favoritnya adalah simbol dari identitasnya: kokoh berpijak pada tradisi lokal, namun tetap terbuka dan adaptif terhadap kemajuan zaman. Menikmati masakan favorit Kartini hari ini adalah cara kita untuk "berkenalan" kembali dengannya melalui indra perasa, merasakan kasih sayang dan semangat yang ia tuangkan dalam setiap sajian.

Kuliner favorit keluarga Kartini mengajarkan kita bahwa sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga tersimpan dalam resep-resep tradisional. Ayam Besengek, Sup Pangsit, dan Sate Serepeh bukan sekadar makanan, melainkan cerita tentang pertemuan budaya dan kehangatan sebuah keluarga. Dengan mengenal dan melestarikan masakan-masakan ini, kita ikut menjaga potongan sejarah yang membentuk jati diri bangsa. Mari hargai warisan Kartini, tidak hanya melalui pemikirannya, tetapi juga melalui kekayaan rasa yang ia tinggalkan di meja makan kita.