Mendag Buka Peluang Sistem Barter dengan Filipina untuk Kurangi Dampak Pelemahan Rupiah
Admin WGM - Saturday, 06 June 2026 | 12:20 PM


Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong pemerintah mencari berbagai alternatif guna menjaga stabilitas perdagangan. Salah satu opsi yang tengah dijajaki adalah penerapan sistem barter dengan negara mitra dagang, termasuk Filipina.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut muncul setelah pertemuannya dengan pelaku usaha dari Filipina dalam agenda ASEAN beberapa waktu lalu. Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh Filipina.
Dalam pertemuan tersebut, muncul pembahasan mengenai kemungkinan menggunakan skema barter sebagai alternatif transaksi perdagangan. Langkah ini dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar terhadap aktivitas ekspor dan impor kedua negara.
Budi menjelaskan bahwa rencana tersebut kini telah memasuki tahap persiapan. Pemerintah disebut telah menemukan mitra pembeli yang akan terlibat dalam kerja sama tersebut dan proses penandatanganan kontrak dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni 2026.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah belum mengungkapkan secara rinci komoditas apa saja yang akan diperdagangkan melalui mekanisme barter tersebut. Informasi mengenai jenis barang yang akan masuk dalam skema kerja sama masih menunggu proses finalisasi.
Di tengah pelemahan rupiah, kenaikan harga barang impor menjadi salah satu perhatian utama. Penguatan dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri, pupuk, kedelai, hingga suku cadang yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Menanggapi kondisi tersebut, Budi memastikan bahwa ketersediaan dan harga bahan pokok di pasar domestik masih dalam kondisi terkendali. Pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap arus impor bahan baku sekaligus berkoordinasi dengan para pelaku industri untuk memastikan pasokan tetap terjaga.
Menurutnya, langkah pengawasan tersebut penting agar pelemahan nilai tukar tidak mengganggu proses produksi maupun distribusi barang yang dibutuhkan masyarakat dan dunia usaha.
Meski rupiah mengalami tekanan, Budi menilai kinerja perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih menunjukkan kondisi yang positif. Ia menyebut aktivitas ekspor nasional masih mencatat pertumbuhan yang cukup baik di tengah tantangan ekonomi global.
Data yang dimiliki pemerintah menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih tumbuh sebesar 5,48 persen secara tahunan. Capaian tersebut dinilai menjadi indikator bahwa daya saing produk Indonesia di pasar internasional masih tetap terjaga.
Pemerintah berharap berbagai langkah antisipatif, termasuk penjajakan sistem barter dengan negara mitra, dapat membantu menjaga stabilitas perdagangan nasional sekaligus mengurangi dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian dalam negeri.
Next News

Satpam Kafe di Cibubur Diduga Jadi Korban Pengeroyokan, Video Kejadian Viral di Media Sosial
15 hours ago

Indonesia Rombak Aturan Ekspor Sawit dan Batu Bara, Ini Poin-Poin Pentingnya!
3 days ago

Di Tengah Rupiah Melemah, Petani Karet Justru Mengaku Diuntungkan
4 days ago

Pelemahan Rupiah Dinilai Bisa Dorong Kunjungan Wisatawan Asing ke Indonesia
4 days ago

Perusahaan Simpan Devisa di Dalam Negeri Dapat Insentif Pajak Nol Persen, Ini Rinciannya
7 days ago

Dolar Singapura Makin Perkasa terhadap Rupiah, Ini Faktor yang Membuat SGD Terus Menguat
11 days ago

Pemerintah Revisi Aturan Pajak UMKM, CV dan PT Tak Lagi Bisa Gunakan Tarif PPh Final 0,5 Persen
11 days ago

Putus Rantai Sandwich Generation, 4 Langkah Keuangan Ini Wajib Kamu Siapkan Sejak Muda
12 days ago

Rupiah Kembali Melemah terhadap Mata Uang Asing, Kurs Pajak Jadi Sorotan
13 days ago

Cetak Rekor Gokil! Bos BRI Ungkap Transaksi BRImo Tembus Rp7.500 Triliun Setahun
18 days ago



