Domino Otoriter Trump: Motif Transaksional Iran Hingga Real Estate Greenland
Admin WGM - Wednesday, 07 January 2026 | 05:37 PM


Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada 4 Januari 2026 menjadi simbol kekuatan militer AS yang mengkhawatirkan musuh Amerika Serikat. Ancaman invasi kembali dilayangkan, Donald Trump, Presiden AS dengan beberapa negara yang menjadi target selanjutnya yaitu Kolombia, Kua, Greenland, Meksiko, dan Iran. Motif dari invasi AS tidak hanya secara transaksional tetapi juga real estate politik yang menjadi ancaman lanjutan untuk Iran dan Greenland. Dilansir dari laman BBC News (7/1/2026), White House (Sekretariat AS) memberikan pernyataan opsi untuk mengambil alih Greenland sebagai bentuk strategi keamanan negaranya. Hal ini dilihat dari banyaknya mobilitas pelayaran Rusia dan Tiongkok yang mendekati kawasan laut Greenland. Ancaman Trump ini ditanggapi oleh masyarakat Greenland yang dinyatakan dalam wawancara bersama tim BBC, Fergal Keane saat mengunjungi Greenland di 2025.
"Greenland merupakan milik penduduk Greenland, Jadi, Trump boleh untuk berkunjung, tetapi hanya sekedar itu," ujar masyarakat Greenland secara berulang.
Greenland sendiri tidak keberatan apabila yang mengambil alih dari negaranya adalah Denmark sebagai donatur utama dan menolak keras gagasan untuk bergabung dengan AS. Sikap penolakan ini dilakukan secara langsung pada tahun 2019, saat Trump mengunjungi Greenland dan mengajukan gagasan invasi tersebut.
Gagasan Trump untuk Greenland, berbeda dengan ancaman yang dilontarkan untuk Iran sebagai saingan utama dalam sektor minyak dunia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro juga berlandas pada sekutu ideologi dengan Iran yang mengusik Amerika Serikat. Trump menegaskan ancaman terhadap Presiden Iran di tengah demonstrasi antipemerintah untuk tidak ada pengunjuk rasa yang terbunuh.
"Jika mereka (Iran) dalam demonstrasi terjadi pembunuhan masa, Kami (Amerika) siap bertempur dan memberikan pukulan keras," ancam Trump.
Kondisi demikian kian memanas ketika dipicu aksi AS yang mulai melemparkan bom ke fasilitas nuklir Iran pada 2025 lalu. Pernyataan Iran sebagai Republik Islam yang tidak akan menyerah terhadap musuh disampaikan oleh Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Perang Iran.
Sikap AS untuk menginvasi beberapa negara ini menjadi kekhawatiran keamanan dunia dengan pelanggaran norma internasional dan akan banyak dampak yang dimunculkan. Hal ini juga berpotensi untuk menghadirkan berbagai aksi invansi bagi pemerintahan otoriter lainnya.
Next News

Mens Rea Etik Suryani: KPK Sebut Korupsi di Sukoharjo Estafet Antarbupati
in 4 hours

Diserang Isu Money Laundering Raffi Ahmad, RANS Buka Suara di Tengah Persiapan Melantai di Bursa!
in 3 hours

Sogok Massal Penguasa Gerbang Negara: Bagaimana John Field dkk Membeli Kebijakan Bea Cukai Senilai Puluhan Miliar
in 3 hours

Rampung Seleksi Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Tiga Operator Raksasa Bersiap Dongkrak Jaringan
in 6 hours

Ingin Porsi Layak Seperti di Amerika, Prabowo Minta Daging Ayam Menu MBG Tak Dipotong Kecil-Kecil
in 5 hours

Kondisi Menurun Drastis, Wali Kota Bandung Farhan Mendadak Dilarikan ke IGD Rumah Sakit
in 3 hours

Aksi Arogan Berujung Bui! Polisi Tangkap 'Bang Jago' yang Viral Rusak Mini Cooper di Sunter
in 2 hours

Peluang atau Ancaman? Memahami Konsep Bonus Demografi untuk Masa Depan Bangsa
in 4 hours

Bumi Makin Padat: Bagaimana Ledakan Populasi Memengaruhi Krisis Lingkungan Global
in 3 hours

Ratusan Nakes NTT Desak Proses Hukum: Dugaan Misteri di Balik Kasus dr. Icha Harus Dibongkar!
15 hours ago





