Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Bukan Roti Biasa! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Hot Cross Buns Pakai Rempah Mahal Sejak Dulu

Admin WGM - Sunday, 05 April 2026 | 01:30 PM

Background
Bukan Roti Biasa! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Hot Cross Buns Pakai Rempah Mahal Sejak Dulu
Hot Cross Buns (All Recipes /)

Setiap Jumat Agung, toko roti di seluruh penjuru Inggris dan negara persemakmuran dipenuhi oleh tumpukan roti kecokelatan dengan tanda silang putih di atasnya. Tradisi ini diyakini bermula pada tahun 1361, ketika seorang biarawan bernama Thomas Rocliffe dari Katedral St. Albans membagikan roti berbumbu kepada fakir miskin. Namun, jejaknya sebenarnya jauh lebih tua, berakar pada kebutuhan manusia untuk menandai momen sakral dengan bahan-bahan yang paling berharga pada masanya: rempah-rempah.

Pada abad ke-12, rempah-rempah seperti kayu manis, cengkih, pala, dan jahe adalah komoditas mewah yang sangat mahal. Rempah-rempah ini harus menempuh perjalanan ribuan mil dari "Kepulauan Rempah" di Timur Jauh melalui Jalur Sutra.

Secara teologis, penggunaan rempah dalam Hot Cross Buns memiliki logika simbolis. Rempah-rempah ini dianggap mewakili bahan-bahan yang digunakan untuk membalsem tubuh dalam tradisi pemakaman kuno. Namun, secara sosiologis, rempah adalah cara masyarakat abad pertengahan memberikan penghormatan tertinggi pada hari raya. Memberikan rasa yang kuat dan hangat pada roti yang biasanya hambar adalah simbol dari kegembiraan spiritual yang meluap.

Tanda silang di atas roti ini sekarang biasanya dibuat dari pasta tepung dan air atau icing sugar. Namun, di masa lalu, tanda silang ini sering kali hanya berupa sayatan pisau di atas adonan sebelum dipanggang.

Secara logis, tanda silang ini berfungsi sebagai pembeda. Di Inggris masa lalu, terdapat hukum ketat (seperti dekrit Ratu Elizabeth I pada tahun 1592) yang melarang penjualan roti berbumbu kecuali pada hari Jumat Agung, Natal, atau untuk pemakaman. Tanda silang tersebut menjadi "label" resmi bahwa roti tersebut adalah roti suci yang diizinkan untuk dikonsumsi pada hari tersebut. Selain itu, masyarakat percaya tanda silang ini berfungsi untuk mengusir roh jahat agar roti tidak gagal mengembang atau berjamur.

Salah satu takhayul paling unik tentang Hot Cross Buns adalah kepercayaan bahwa roti yang dipanggang pada Jumat Agung tidak akan pernah berjamur selama setahun penuh.

Secara sains, ada logika menarik di baliknya. Kandungan rempah-rempah yang tinggi (seperti kayu manis dan cengkih) serta kadar gula dari kismis sebenarnya memiliki sifat antimikroba alami. Rempah-rempah tertentu dapat menghambat pertumbuhan jamur. Meskipun tidak benar-benar abadi, roti ini cenderung bertahan lebih lama dibanding roti tawar biasa. Hal ini memperkuat keyakinan masyarakat abad ke-12 bahwa roti ini memiliki kekuatan magis, bahkan sering digantung di dapur sebagai jimat pelindung dari kebakaran atau musibah.

Di tahun 2026 ini, Hot Cross Buns telah bertransformasi. Kita melihat variasi rasa mulai dari cokelat, apel-kayu manis, hingga versi gurih. Namun, struktur dasarnya tetap sama: roti ragi yang kaya akan buah kering dan rempah.

Logika bertahannya roti ini selama hampir sembilan abad adalah kemampuannya menyatukan rasa manis dan rempah yang hangat—sebuah profil rasa yang memberikan kenyamanan (comfort food) di tengah transisi musim dingin ke musim semi. Bagi banyak orang, aroma roti ini yang keluar dari pemanggang adalah sinyal bahwa cahaya dan kehidupan baru telah tiba.

Hot Cross Buns adalah bukti nyata bagaimana kuliner bisa menjadi pengarsip sejarah yang awet. Ia membawa jejak perdagangan rempah dunia, kebijakan politik kerajaan Inggris, hingga iman yang mendalam.

Setiap kali Anda menggigit roti ini, Anda sebenarnya sedang merayakan tradisi yang telah bertahan melintasi peperangan, wabah, dan perubahan zaman sejak abad ke-12. Simbol silang di atasnya bukan hanya tanda religius, tapi juga tanda "janji" bahwa setelah masa yang penuh batasan, akan selalu ada rasa manis yang menanti untuk dinikmati bersama.