Bukan Cuma Buat Pencernaan! Ini Alasan Kenapa Rutin Makan Tempe dan Kimchi Bisa Bikin Jarang Stres
Admin WGM - Saturday, 07 February 2026 | 09:30 PM


Di dunia kesehatan tahun 2026, perhatian para ilmuwan tidak lagi hanya tertuju pada jantung atau otak, melainkan pada ekosistem mikroskopis yang hidup di dalam perut manusia. Triliunan bakteri yang menghuni saluran pencernaan, atau yang dikenal sebagai mikrobioma usus, kini diakui sebagai salah satu pilar utama kesehatan holistik.
Fenomena ini memunculkan istilah "Otak Kedua" (The Second Brain) untuk merujuk pada usus. Hubungan antara apa yang dimakan dengan bagaimana perasaan seseorang bukan sekadar sugesti, melainkan proses biologis yang sangat nyata. Salah satu cara paling efektif untuk menjaga kualitas "otak kedua" ini adalah melalui konsumsi rutin makanan fermentasi.
Penyebutan usus sebagai otak kedua didasari oleh adanya Sistem Saraf Enterik (ENS). ENS terdiri dari ratusan juta neuron yang melapisi saluran pencernaan dari kerongkongan hingga anus. Meskipun ENS tidak merancang strategi bisnis atau menulis puisi, perannya sangat krusial dalam mengatur suasana hati.
Fakta medis yang mengejutkan menunjukkan bahwa sekitar 90 hingga 95 persen serotonin zat kimia saraf yang mengatur kebahagiaan, tidur, dan nafsu makan justru diproduksi di dalam usus, bukan di otak. Jalur komunikasi dua arah yang disebut Gut-Brain Axis (Sumbu Usus-Otak) memastikan bahwa jika kondisi usus bermasalah, sinyal kecemasan akan langsung terkirim ke otak, begitu pula sebaliknya.
Peran Makanan Fermentasi: Tempe, Kimchi, dan Yogurt
Makanan fermentasi atau yang sering dijuluki "The Fermented Gold" berfungsi sebagai pemasok bakteri baik (probiotik) ke dalam sistem pencernaan. Proses fermentasi secara alami memecah zat gizi menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tubuh sekaligus menghasilkan enzim yang bermanfaat.
- Tempe: Sebagai superfood lokal Indonesia, tempe mengandung protein tinggi dan antibiotik alami yang dihasilkan dari proses fermentasi kacang kedelai oleh jamur Rhizopus oligosporus. Tempe membantu menekan pertumbuhan bakteri jahat di usus.
- Kimchi dan Sauerkraut: Sayuran fermentasi ini kaya akan bakteri Lactobacillus yang terbukti secara klinis mampu meningkatkan fungsi kognitif dan menurunkan gejala kecemasan.
- Yogurt dan Kefir: Produk susu fermentasi ini menyediakan berbagai variasi bakteri baik yang memperkuat dinding usus, mencegah zat beracun masuk ke dalam aliran darah yang bisa memicu peradangan otak.
Hubungan antara konsumsi probiotik dan kesehatan mental kini menjadi bidang studi yang sangat serius. Mikrobioma usus yang sehat bertindak sebagai perisai yang mengatur produksi sitokin (protein pemicu peradangan). Peradangan kronis di usus sering kali berujung pada peradangan di otak, yang menjadi cikal bakal depresi dan stres berat.
Selain aspek mental, sekitar 70 hingga 80 persen sistem kekebalan tubuh manusia berlokasi di usus. Dengan rutin mengonsumsi makanan fermentasi, sel-sel imun "terlatih" untuk bekerja lebih efektif dalam melawan virus dan patogen asing. Dengan kata lain, menjaga kesehatan usus adalah investasi ganda: mendapatkan ketahanan fisik sekaligus ketenangan pikiran.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, konsumsi makanan fermentasi sebaiknya dilakukan secara konsisten namun dalam porsi yang wajar. Keberagaman adalah kunci; mengombinasikan berbagai jenis sumber probiotik—seperti makan tempe di siang hari dan minum yogurt di malam hari—akan memperkaya variasi bakteri baik di dalam usus.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pengolahan. Bakteri baik dalam makanan fermentasi bersifat sensitif terhadap panas yang ekstrem. Untuk tempe, mengolahnya dengan cara dikukus atau digoreng sebentar (tidak sampai sangat kering) jauh lebih baik daripada menggorengnya hingga benar-benar kering yang dapat merusak zat gizi mikro dan probiotiknya.
Kesehatan mental di era modern bukan hanya soal meditasi atau manajemen stres, tetapi juga soal apa yang tersaji di atas piring. Dengan menghargai peran usus sebagai otak kedua dan memberikan asupan bakteri baik melalui makanan fermentasi, seseorang memberikan kesempatan bagi tubuhnya untuk berfungsi pada level optimal. Menjaga kebahagiaan ternyata bisa dimulai dengan cara yang sangat sederhana: merawat mikroorganisme di dalam perut.
Next News

Legend Banget! Rahasia Kopi Es Tak Kie Bertahan 99 Tahun di Gang Sempit Glodok
4 hours ago

Hanya Satu Menu Sejak 1941! Rahasia Warung Mak Beng Jadi Kuliner Paling Legendaris di Bali
5 hours ago

Mesin Waktu Kuliner! Rahasia Toko Oen Jaga Resep Legendaris Sejak Zaman Belanda
6 hours ago

Simnel Cake: Mengapa Kue Ini Memiliki 11 Bola Marzipan di Atasnya?
10 hours ago

Bukan Roti Biasa! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Hot Cross Buns Pakai Rempah Mahal Sejak Dulu
11 hours ago

Bunga Kecombrang (Etlingera elatior): Logika Aroma Floral yang Menghilangkan Bau Amis pada Olahan Ikan
a day ago

Bukan Pedas Biasa! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Andaliman Bikin Lidahmu Bergetar dan Kebas
a day ago

Dari Racun Jadi Lezat! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Kluwek Wajib Difermentasi Sebelum Jadi Rawon
a day ago

Gak Cuma Segar! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Sayur Asem Adalah 'Minuman Isotonik' Alami
a day ago

Bukan Cuma Mitos! Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa Sambal Ulek Lebih Juara dari Sambal Blender
a day ago





