Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Antara Teror dan Damai, Menelusuri Jejak Legenda Gerhana Bulan di Kebudayaan Kuno

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 06:00 PM

Background
Antara Teror dan Damai, Menelusuri Jejak Legenda Gerhana Bulan di Kebudayaan Kuno
Gerhana bulan (Tribunnews bogor /)

Bagi masyarakat modern, gerhana bulan adalah fenomena astronomi yang bisa dijelaskan dengan gamblang lewat hukum fisika dan pergerakan benda langit. Namun, ribuan tahun sebelum teleskop ditemukan, manusia memandang langit dengan penuh ketakutan dan rasa takjub. Bulan yang tiba-tiba merona merah atau menghilang perlahan dianggap sebagai pesan dari para dewa atau pertanda akan datangnya malapetaka besar. Di berbagai belahan dunia, lahir berbagai mitos yang berusaha menjelaskan "kehilangan" bulan tersebut, menciptakan ragam cerita mulai dari teror naga raksasa hingga simbol rekonsiliasi antarmanusia.

Salah satu mitos yang paling populer dan tersebar luas berasal dari daratan Tiongkok kuno. Mereka percaya bahwa gerhana bulan (dan juga matahari) terjadi karena ada seekor naga langit atau anjing surgawi yang sedang berusaha menelan bulan. Warna kemerahan pada bulan saat gerhana total dianggap sebagai darah atau tanda bahwa bulan sedang dalam bahaya. Untuk menyelamatkan bulan, masyarakat kuno akan turun ke jalan dengan membawa panci, penggorengan, dan petasan. Mereka menciptakan kebisingan yang luar biasa untuk menakut-nakuti sang naga agar memuntahkan kembali bulan yang telah ditelannya. Tradisi kebisingan ini ternyata juga ditemukan di kebudayaan lain di Asia dan Amerika Selatan dengan variasi hewan penyerang yang berbeda, seperti macan tutul atau jaguar.

Di tanah air kita, Indonesia, khususnya dalam mitologi Jawa, terdapat legenda tentang raksasa bernama Batara Kala. Konon, ia menyimpan dendam karena kepalanya dipenggal oleh Dewa Wisnu saat mencoba mencuri air keabadian (Tirta Amerta). Karena kepalanya tetap hidup tanpa tubuh, Batara Kala mengejar matahari dan bulan untuk menelannya sebagai aksi balas dendam. Masyarakat desa pada zaman dulu akan memukul lesung (alat penumbuk padi) berkali-kali menciptakan suara thok-thek-thok agar Batara Kala merasa terganggu dan melepaskan bulan.

Namun, tidak semua kebudayaan memandang gerhana bulan sebagai teror. Suku Batammariba dari Togo dan Benin di Afrika memiliki interpretasi yang sangat indah dan sarat pesan moral. Mereka percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena matahari dan bulan sedang berkelahi. Masyarakat memandang fenomena ini sebagai peringatan bagi manusia di bumi untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri. Saat gerhana berlangsung, suku Batammariba akan berkumpul untuk berdamai dengan musuh-musuh mereka, menyelesaikan perselisihan lama, dan menjalin kembali tali persaudaraan. Bagi mereka, gerhana bukan pertanda kiamat, melainkan waktu untuk refleksi diri dan perdamaian.

Sementara itu, suku Inca di Amerika Selatan memiliki ketakutan yang unik. Mereka menganggap bulan yang memerah adalah tanda bahwa seekor jaguar raksasa sedang menyerang bulan. Kekhawatiran mereka bukan hanya pada keselamatan bulan, tetapi mereka takut jika jaguar tersebut selesai memakan bulan, ia akan turun ke bumi untuk memangsa manusia. Untuk mencegah hal ini, selain membuat kegaduhan, mereka akan memaksa anjing-anjing mereka menggonggong dan melolong, berharap suara tersebut dapat mengusir sang predator surgawi.

Mitos-mitos ini menunjukkan betapa kreatifnya nenek moyang kita dalam memahami alam semesta. Meskipun kini kita tahu bahwa gerhana bulan hanyalah bayangan bumi yang jatuh ke permukaan bulan, warisan cerita ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya manusia. Cerita-cerita ini mencerminkan nilai-nilai dasar manusia: perlindungan terhadap yang lemah (bulan), ketakutan akan kegelapan, hingga keinginan untuk hidup damai.

Hingga saat ini, meskipun kita menonton gerhana melalui layar ponsel atau teropong canggih, ada rasa magis yang tersisa—sebuah getaran yang sama yang dirasakan nenek moyang kita ribuan tahun lalu saat mereka mendongak ke langit dan melihat wajah bulan berubah warna.