Waspada Lonjakan Hantavirus, Begini Cara Membedakan Gejalanya dengan Flu Biasa
Admin WGM - Thursday, 14 May 2026 | 01:00 PM


Kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis kembali meningkat setelah satu kasus Hantavirus dilaporkan terdeteksi di wilayah Jawa Timur. Penemuan ini menambah daftar panjang sebaran virus tersebut di Indonesia, yang hingga kini tercatat telah mencapai total 23 kasus secara nasional. Kondisi ini memicu perhatian serius dari kalangan praktisi kesehatan dan akademisi untuk memperketat protokol kebersihan di lingkungan masyarakat.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan terutama oleh hewan pengerat, khususnya tikus. Infeksi pada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang telah terkontaminasi, serta melalui partikel di udara (aerosol) yang terhirup saat seseorang membersihkan area yang menjadi sarang tikus.
Menanggapi temuan kasus terbaru di Jawa Timur, pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan peringatan keras mengenai risiko penularan yang sering kali tidak disadari oleh warga. Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan alat pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan, saat melakukan aktivitas pembersihan gudang, plafon rumah, atau area lembap yang berpotensi menjadi tempat tinggal tikus. Penggunaan masker dinilai krusial untuk mencegah terhirupnya partikel virus yang terbang saat debu dari sarang tikus tersapu.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan Hantavirus adalah kemiripan gejalanya dengan penyakit umum lainnya. Banyak pasien yang pada awalnya mengira mereka hanya menderita flu biasa (common cold) atau demam berdarah. Namun, terdapat perbedaan signifikan yang perlu dicermati oleh masyarakat agar bisa segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Gejala awal Hantavirus meliputi demam tinggi, nyeri otot (terutama di bagian punggung dan paha), sakit kepala, serta gangguan pencernaan. Berbeda dengan flu biasa yang sering disertai dengan batuk dan pilek sejak awal, Hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih fatal jika menyerang organ paru-paru atau ginjal. Jika penyakit ini berlanjut pada tahap yang lebih parah, penderita akan mengalami sesak napas akut secara tiba-tiba yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Otoritas kesehatan daerah di Jawa Timur kini tengah melakukan pelacakan epidemiologi untuk memastikan sumber penularan pada satu kasus yang ditemukan tersebut. Langkah-langkah preventif seperti pengendalian populasi tikus di pemukiman warga dan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) terus digalakkan.
Masyarakat diminta untuk tidak panik namun tetap waspada dengan memastikan makanan tidak mudah dijangkau oleh tikus dan menutup celah-celah kecil di rumah yang bisa menjadi jalan masuk hewan pengerat tersebut. Dengan total 23 kasus yang sudah terdeteksi di berbagai wilayah, deteksi dini dan respons cepat terhadap gejala menjadi kunci utama untuk menekan angka fatalitas akibat Hantavirus di Indonesia.
Next News

Lebih dari Mengatur Jarak Kelahiran: Pentingnya Edukasi Keluarga Berencana (KB) Modern
in 7 hours

Bukan Langsung Cek HP! Ini Ritual Pagi Terbaik untuk Tubuh Bugar dan Mood Bahagia
a day ago

Sejarah Hari Zoonosis Sedunia: Bagaimana Satu Suntikan Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia
5 days ago

Bisa Jadi Sarang Bakteri, Ini Risiko Kesehatan Makan Daging Setengah Matang
5 days ago

Waspada! 5 Penyakit Berbahaya pada Hewan yang Bisa Menular ke Manusia
5 days ago

Makan Cokelat Bikin Bahagia? Simak Penjelasan Ilmiah di Balik Efek Mood Booster Cokelat
7 days ago

Sesuatu yang Berlebihan Itu Buruk: Ini 5 Efek Samping Terlalu Banyak Makan Buah
10 days ago

Bukan Cuma Bilas Air! Ini Cara Benar Mencuci Buah Agar Bersih dari Pestisida
10 days ago

Jangan Salah Pilih! Daftar Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet dan Diabetes
10 days ago

Manfaat Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh, Ketahui Sumber Alami dan Cara Memenuhinya
11 days ago





