Senin, 15 Juni 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Tinggal Dua Ekor, Badak Kalimantan Bertaruh pada Teknologi Bayi Tabung untuk Hindari Kepunahan

Admin WGM - Friday, 12 June 2026 | 06:30 PM

Background
Tinggal Dua Ekor, Badak Kalimantan Bertaruh pada Teknologi Bayi Tabung untuk Hindari Kepunahan
(Disway/Istimewa)

Nasib badak Kalimantan saat ini berada di ujung tanduk. Berdasarkan data terbaru Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, hanya tersisa dua individu badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang diketahui masih hidup. Kondisi semakin memprihatinkan karena kedua badak tersebut berjenis kelamin betina, sehingga peluang berkembang biak secara alami nyaris tidak ada.

Dua badak yang tersisa tersebut adalah Pahu, yang saat ini berada di Suaka Badak Kelian, Kabupaten Kutai Barat, serta Pari Mahulu, seekor badak liar yang masih hidup di kawasan hutan Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Keberadaan Pari menjadi perhatian utama para pegiat konservasi karena ia merupakan satu-satunya badak Kalimantan yang masih bertahan di habitat alaminya. Namun, hidup sendirian tanpa pasangan membuat peluang reproduksinya hampir mustahil terjadi secara alami.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah bersama para ahli konservasi dan reproduksi satwa tengah menyiapkan langkah penyelamatan darurat melalui teknologi reproduksi berbantu, termasuk program bayi tabung. Upaya ini dinilai sebagai peluang terakhir untuk mempertahankan garis keturunan badak Kalimantan yang kini berada di ambang kepunahan.

Sebelum program tersebut dijalankan, Pari Mahulu direncanakan akan ditranslokasi dari habitat liarnya menuju Suaka Badak Kelian. Di lokasi tersebut, badak betina itu akan menjalani masa karantina dan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Selain untuk memastikan kondisinya tetap stabil, proses ini juga bertujuan mempersiapkan pengambilan sel telur dan sampel biologis yang dibutuhkan dalam program reproduksi berbantu.

Menurut tim konservasi, penyelamatan Pari menjadi sangat penting karena setiap materi genetik yang dimiliki badak tersebut memiliki nilai yang tak tergantikan. Jika satwa itu mati di alam liar tanpa sempat diselamatkan, Indonesia berisiko kehilangan seluruh potensi genetik yang dapat digunakan untuk mengembangkan populasi badak Kalimantan di masa depan.

Untuk mendukung proses translokasi, berbagai fasilitas telah dipersiapkan di Suaka Badak Kelian, mulai dari kandang karantina (boma) hingga area konservasi khusus (paddock) yang dirancang menyerupai habitat alaminya. Bahkan, skenario evakuasi menggunakan helikopter telah disiapkan guna meminimalkan risiko dan tingkat stres pada satwa selama proses pemindahan berlangsung.

Para ahli menilai teknologi reproduksi berbantu menjadi satu-satunya harapan realistis saat ini. Melalui metode tersebut, sel telur, jaringan, hingga materi genetik lainnya dapat disimpan dan dikembangkan menjadi embrio untuk menghasilkan keturunan baru di masa mendatang. Teknologi serupa sebelumnya telah digunakan dalam berbagai program penyelamatan satwa langka di dunia.

Meski peluang keberhasilannya tidak mudah, para konservasionis menegaskan bahwa langkah ini harus segera dilakukan. Dengan hanya dua individu yang tersisa dan tanpa keberadaan pejantan yang diketahui, waktu menjadi faktor paling krusial dalam perjuangan menyelamatkan salah satu satwa paling langka di Indonesia tersebut. Jika upaya ini berhasil, program bayi tabung dapat menjadi titik balik bagi kelangsungan hidup badak Kalimantan yang kini tengah menghadapi ancaman kepunahan permanen.