Senin, 15 Juni 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Sering Salah Paham, Ini Sejarah Mengapa Bulan Muharam Dipilih Sebagai Awal Kalender Hijriah

Admin WGM - Monday, 15 June 2026 | 08:33 AM

Background
Sering Salah Paham, Ini Sejarah Mengapa Bulan Muharam Dipilih Sebagai Awal Kalender Hijriah
Alasan Khalifah Umar Menetapkan Peristiwa Hijrah Sebagai Titik Awal (Danpala Digital /)

Menjelang momentum pergantian tahun baru Islam yang jatuh pada pertengahan tahun dua ribu dua puluh enam masehi ini, jajaran kementerian agama nasional bersama para sejarawan peradaban Islam gencar menggelar forum edukasi publik. Langkah ini diambil guna meluruskan miskonsepsi yang masih mengakar kuat di sebagian lapisan masyarakat, yang secara keliru meyakini bahwa penetapan awal penanggalan Hijriah dihitung berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melalui pelurusan sejarah ini, para ahli memaparkan dokumen silsilah hukum Islam yang menegaskan bahwa penanggalan tersebut murni diinisiasi dan ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dengan menjadikan peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Mekah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun.

Para pakar sejarah Islam menjelaskan bahwa sebelum adanya kalender Hijriah, masyarakat Arab di jajaran semenanjung tidak memiliki sistem penomoran tahun yang baku untuk mencatat berbagai peristiwa penting. Mereka cenderung menamai suatu tahun berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada masa itu, seperti Tahun Gajah yang merujuk pada tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW akibat adanya invasi pasukan bergajah. Ketiadaan angka tahun yang seragam ini pada akhirnya memicu kendala administratif yang serius dalam tata kelola pemerintahan Islam ketika wilayah kekuasaan mulai meluas ke luar wilayah jazirah Arab pada dekade kedua setelah wafatnya Rasulullah.

Urgensi pembentukan kalender resmi ini memuncak ketika Gubernur Basrah, Abu Musa al-Asy'ari, mengirimkan surat resmi kepada Khalifah Umar bin Khattab yang mengeluhkan rujukan tanggal pada dokumen negara. Surat-surat diplomatik dan instruksi militer yang dikirimkan dari pusat pemerintahan di Madinah sering kali membingungkan jajaran birokrasi di daerah karena hanya mencantumkan nama bulan tanpa disertai keterangan angka tahun yang jelas. Merespons kendala administratif yang berpotensi memicu kekacauan hukum dan logistik tersebut, Khalifah Umar langsung mengumpulkan para sahabat senior dalam sebuah forum syura darurat guna merumuskan sistem penanggalan tunggal yang bersifat mengikat.

Dalam forum musyawarah tersebut, sempat muncul beberapa usulan dari para sahabat mengenai momentum yang paling tepat untuk dijadikan acuan tahun pertama, termasuk opsi menggunakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau hari saat beliau pertama kali menerima wahyu kerasulan. Namun, Khalifah Umar bin Khattab bersama Ali bin Abi Thalib secara tegas menolak usulan hari kelahiran demi menghindari kultus individu yang berlebihan, sekaligus meluruskan bahwa fondasi politik dan kedaulatan masyarakat Islam secara de facto baru tegak berdiri ketika peristiwa hijrah terlaksana. Peristiwa migrasi massal dari Mekah ke Madinah dinilai sebagai pemisah yang jelas antara fase penindasan dan fase kejayaan peradaban Islam, sehingga disepakati sebagai momentum pembuka tahun pertama Hijriah.

Setelah menyepakati peristiwa hijrah sebagai tahun pertama, perdebatan berikutnya bergeser pada penentuan bulan yang akan menempati urutan pertama dalam kalender baru tersebut. Atas usulan dari Utsman bin Affan yang kemudian diamini oleh Khalifah Umar, bulan Muharam akhirnya dipilih sebagai bulan pembuka dalam siklus tahunan kalender Hijriah. Pertimbangan utamanya adalah karena Muharam merupakan bulan di mana para jamaah haji baru saja menyelesaikan ibadah suci mereka dan kembali ke tanah air dengan lembaran hidup yang bersih, serta menjadi bulan di mana tekad dan rencana sosiopolitik untuk melakukan hijrah pertama kali dimatangkan oleh Rasulullah bersama para sahabat.

Melalui penyebaran ulasan sejarah yang komprehensif ini, lembaga-lembaga pendidikan keagamaan berharap masyarakat tidak lagi terjebak dalam disinformasi sejarah yang menyamakan sistem kalender Islam dengan sistem kalender masehi yang berbasis pada hari kelahiran. Pemahaman silsilah sejarah yang lurus mengenai peran Khalifah Umar bin Khattab dalam merancang kalender Hijriah ini dinilai sangat krusial untuk membangun cara pandang yang berbasis pada data autentik. Dengan memahami esensi hijrah sebagai spirit utama penanggalan tersebut, perayaan tahun baru Islam diharapkan dapat dihayati secara lebih mendalam sebagai simbol transformasi administrasi, persatuan umat, dan kebangkitan sebuah peradaban modern.