Hanya Dimiliki Segelintir Orang, Ini 5 Fakta Medis Golongan Darah Paling Langka di Dunia
Admin WGM - Sunday, 14 June 2026 | 09:02 AM


Kajian hematologi dan bank darah nasional yang dipublikasikan pada pertengahan tahun dua ribu dua puluh enam ini kembali membuka wawasan masyarakat mengenai pemetaan sistem biologis tubuh manusia. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pasokan darah untuk penanganan medis darurat, para ahli patologi klinis memberikan perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik genetika spesifik, yaitu pemilik golongan darah AB serta varian Rhesus Negatif. Kelompok ini dikategorikan sebagai pemilik darah langka karena persentase jumlahnya yang sangat minim di tengah populasi dunia, yang pada gilirannya memicu serangkaian tantangan medis yang kompleks baik bagi pasien maupun bagi institusi penyedia layanan kesehatan.
Secara biologis, golongan darah AB memiliki keunikan struktural yang membedakannya secara kontras dari golongan darah A, B, atau O. Pemilik golongan darah AB memiliki dua jenis antigen, yaitu antigen A dan antigen B, pada permukaan sel darah merah mereka, namun tubuh mereka sama sekali tidak memproduksi antibodi terhadap kedua antigen tersebut di dalam plasma darahnya. Karakteristik langka ini membuat pemilik golongan darah AB menyandang predikat sebagai penerima universal atau resipien universal, yang berarti mereka dapat menerima donor sel darah merah dari golongan darah apa pun dalam situasi darurat tanpa risiko mengalami reaksi penolakan imun tubuh yang fatal.
Namun, paradoks medis terjadi pada komponen plasma darah kelompok AB, di mana plasma mereka justru bertindak sebagai donor universal yang sangat berharga untuk menyelamatkan pasien kritis dengan golongan darah lain. Di sisi lain, komplikasi fatal yang jauh lebih rumit ditemukan pada sistem penggolongan darah berbasis Rhesus, khususnya varian Rhesus Negatif yang keberadaannya di wilayah Asia Tenggara diperkirakan kurang dari satu persen dari total populasi. Individu dengan Rhesus Negatif sama sekali tidak memiliki protein antigen D pada sel darah merah mereka, sehingga tubuh mereka akan mengidentifikasi darah Rhesus Positif sebagai ancaman asing yang wajib dihancurkan melalui pembentukan antibodi agresif.
Para pakar kedokteran transhimpunan menjelaskan bahwa rintangan terbesar yang dihadapi oleh pemilik darah Rhesus Negatif adalah risiko terjadinya kondisi inkompatibilitas Rhesus yang mematikan saat menjalani prosedur transfusi darah. Jika seorang pasien Rhesus Negatif secara tidak sengaja menerima pasokan darah Rhesus Positif, sistem kekebalan tubuh mereka akan memicu reaksi hemolitik akut yang menghancurkan sel darah merah secara massal, yang dapat berujung pada kegagalan fungsi organ dalam hingga kematian. Kondisi kelangkaan stok darah cadangan di Palang Merah Indonesia sering kali membuat tim medis harus berpacu dengan waktu yang sangat terbatas untuk mencari donor hidup dari komunitas khusus saat terjadi situasi kecelakaan atau operasi besar.
Tantangan medis yang tidak kalah krusial dari fenomena kelangkaan ini juga membayangi sektor kesehatan reproduksi, khususnya pada kasus kehamilan sekunder wanita pemilik Rhesus Negatif yang mengandung janin dengan Rhesus Positif. Pada kehamilan pertama, tubuh ibu umumnya akan mulai membangun sensitivitas dan memproduksi antibodi setelah terpapar darah janin saat proses persalinan. Apabila tidak mendapatkan penanganan preventif berupa suntikan imunoglobulin khusus pascapersalinan, maka pada kehamilan berikutnya antibodi maternal milik sang ibu akan bergerak aktif menembus plasenta untuk menyerang dan merusak sel darah merah janin, sebuah kondisi klinis berbahaya yang dikenal sebagai Erythroblastosis Fetalis.
Melalui rilis edukasi kesehatan makro ini, jajaran otoritas kesehatan dan perhimpunan donor darah langka nasional terus menyerukan pentingnya pemeriksaan golongan darah lengkap sejak usia dini bagi seluruh lapisan masyarakat. Pembentukan pangkalan data digital yang terintegrasi secara nasional bagi para pemilik golongan darah AB dan Rhesus Negatif dipandang sebagai solusi strategis untuk memetakan keberadaan para donor potensial secara akurat. Dengan terbangunnya sistem jejaring solidaritas yang kuat dan pemahaman medis yang matang, penanganan krisis kelangkaan darah langka diharapkan dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan mampu menekan angka mortalitas pasien di masa depan.
Next News

Sering Salah Paham, Ini Sejarah Mengapa Bulan Muharam Dipilih Sebagai Awal Kalender Hijriah
2 hours ago

Tinggal Dua Ekor, Badak Kalimantan Bertaruh pada Teknologi Bayi Tabung untuk Hindari Kepunahan
3 days ago

Mahasiswa ITB Ciptakan SADAR Helmet, Helm Pintar Berbasis IoT untuk Deteksi Microsleep Pengendara
3 days ago

NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Penting Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan pada 2027
3 days ago

Bisa Menumbuhkan Organ Tubuh Kembali! Mengenal Axolotl, 'Monster Air' Lucu Endemik Meksiko
4 days ago

Biar Gak Menyesal! Ini Panduan Memilih Mobil Sedan, SUV, atau MPV buat Keluarga
6 days ago

Revolusi Computex 2026: Microsoft dan NVIDIA Luncurkan Laptop Ultra dengan Chip RTX Spark dan Teknologi AI Agent
6 days ago

Bertahan Hidup dengan Berburu, Mengapa Kantong Semar Berevolusi Jadi Pemakan Serangga?
7 days ago

Krisis Lapangan Kerja di Era Kecerdasan Buatan: Tantangan Baru Dunia Kerja
7 days ago

Bukan Makhluk Diam, Ternyata Sesama Pohon di Hutan Bisa Saling Curhat Lewat 'Wood Wide Web'!
7 days ago





