Selasa, 3 November 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Stop Scroll Berita Buruk! Begini Caranya Melakukan 'Diet Informasi' Agar Mental Tetap Sehat

Admin WGM - Thursday, 12 March 2026 | 02:30 PM

Background
Stop Scroll Berita Buruk! Begini Caranya Melakukan 'Diet Informasi' Agar Mental Tetap Sehat
Scrolling Social Media (Relief Mental Health /)

Di era digital, informasi mengalir deras layaknya air bah yang siap menerjang kapan saja. Notifikasi di ponsel berbunyi setiap menit, menyuguhkan rentetan berita buruk, konflik, hingga opini tajam yang memicu reaksi emosional. Fenomena ini disebut sebagai infobesity atau obesitas informasi—kondisi di mana otak kita dibanjiri oleh data melebihi kapasitas yang bisa diproses secara sehat. Akibatnya, alih-alih menjadi cerdas, kita justru sering merasa cemas, lelah secara mental, dan kehilangan fokus.

Secara sosiologis, infobesity membuat kita merasa memiliki kewajiban moral untuk "tahu segalanya". Keinginan untuk tetap update dengan setiap kejadian di belahan dunia mana pun, tanpa filter yang memadai, menciptakan beban kognitif yang luar biasa. Otak manusia secara evolusioner didesain untuk merespons ancaman, sehingga berita negatif cenderung lebih menarik perhatian. Namun, jika ini terjadi terus-menerus tanpa henti, sistem saraf kita akan terus berada dalam mode "siaga" yang memicu hormon kortisol atau stres.

Langkah pertama untuk menyaring berita adalah dengan melakukan "diet informasi". Sama seperti tubuh yang perlu membatasi asupan kalori berlebih agar tetap sehat, otak kita perlu membatasi asupan data agar tidak mengalami obesitas mental. Cobalah untuk menetapkan waktu khusus untuk mengonsumsi berita, misalnya hanya 15 menit di pagi hari atau sore hari. Hindari membuka portal berita atau media sosial sesaat sebelum tidur, karena informasi yang memicu kecemasan akan mengganggu kualitas istirahat dan memori jangka pendek.

Selain membatasi waktu, kurasi sumber berita menjadi kunci. Kita sering kali membiarkan algoritma media sosial menentukan apa yang kita baca, yang justru sering kali bersifat clickbait atau provokatif demi mendapatkan keterlibatan. Pilihlah sumber berita yang kredibel, faktual, dan memiliki standar jurnalistik yang jelas daripada mengandalkan akun-akun yang hanya mengejar sensasi. Kurangi mengikuti akun-akun yang menyebarkan kemarahan, karena kemarahan digital bersifat menular dan tidak memberikan kontribusi positif bagi pemahaman kita terhadap masalah.

Penting juga untuk membedakan antara "tahu sesuatu yang penting" dan "tahu sesuatu yang mendesak". Kebanyakan informasi yang masuk ke ponsel kita hanyalah sesuatu yang mendesak namun tidak memiliki dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari kita. Dengan menanyakan pada diri sendiri, "Apakah informasi ini membantu saya membuat keputusan yang lebih baik atau memperbaiki kualitas hidup saya?", kita dapat membuang sampah-sampah informasi yang hanya menambah tumpukan kecemasan tanpa memberikan nilai tambah.

Secara psikologis, beralih ke aktivitas fisik atau hobi yang bersifat low-stakes setelah mengonsumsi informasi berat sangatlah dianjurkan. Berikan otak waktu untuk melakukan defrag atau merapikan kembali data yang telah masuk. Berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, bercengkerama dengan keluarga, atau sekadar menikmati waktu tenang tanpa layar adalah cara terbaik untuk membumikan kembali pikiran kita ke realitas fisik yang nyata.

Pada akhirnya, menyaring berita bukan berarti kita menjadi orang yang apatis atau tidak peduli terhadap dunia. Sebaliknya, ini adalah tindakan tanggung jawab terhadap kesehatan mental diri sendiri. Kita tidak bisa membantu dunia jika kita sendiri mengalami burnout akibat kelebihan informasi. Menjadi informan yang bijak berarti tahu kapan harus mendengarkan kebisingan dunia dan kapan harus menarik diri untuk mencari ketenangan.

Ingatlah, Winners, kualitas hidup Anda tidak ditentukan oleh seberapa cepat Anda tahu tentang berita terbaru, melainkan seberapa jernih pikiran Anda dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Berani membatasi informasi adalah bentuk nyata dari mencintai diri sendiri di tengah dunia yang terlalu bising.