Senin, 2 November 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Dampak Algorithmcore: Mengapa Semua Orang Tiba-Tiba Berpakaian Mirip di Media Sosial?

Admin WGM - Saturday, 31 October 2026 | 02:38 AM

Background
Dampak Algorithmcore: Mengapa Semua Orang Tiba-Tiba Berpakaian Mirip di Media Sosial?
(Rukita/)

Pernahkah Anda membuka feed Instagram atau TikTok lalu merasa semua orang mengenakan pakaian yang nyaris serupa? Mulai dari pilihan warna earth tone, potongan celana kargo yang longgar, hingga gaya estetika tertentu yang mendominasi linimasa dalam waktu bersamaan. Fenomena ini bukanlah kebetulan semata. Kita sedang hidup di era algorithmcore—sebuah tren di mana selera fesyen massa tidak lagi lahir dari kreativitas jalanan atau desainer independen, melainkan disetir oleh algoritma platform digital yang membaca apa yang paling banyak mendatangkan klik dan engagement.

Algoritma media sosial bekerja dengan cara yang sangat repetitif namun efektif. Ketika sebuah gaya busana atau outfit tertentu mendapatkan banyak suka, komentar, dan dibagikan secara masif, sistem akan membaca konten tersebut sebagai sesuatu yang "disukai publik". Akibatnya, algoritma akan terusmenerus menyuapi layar ponsel jutaan pengguna dengan konten serupa. Tanpa disadari, kita digiring untuk menyukai, membeli, dan mengenakan pakaian yang sama demi mengejar validasi visual, menciptakan keseragaman gaya yang masif di ruang publik.

Dampak dari fenomena algorithmcore ini cukup dilematis. Di satu sisi, tren ini memudahkan kita untuk tampil modis secara instan tanpa harus pusing memikirkan padu padan karena referensi sudah tersedia melimpah di layar. Namun, di sisi lain, hal ini perlahan-lahan mengikis keunikan identitas personal. Ketika semua orang berusaha menjadi estetis sesuai standar yang didikte oleh mesin, batas antara gaya pribadi dan plagiarisme visual menjadi sangat tipis. Fesyen yang seharusnya menjadi wadah kebebasan berekspresi berubah menjadi seragam digital yang membosankan.

Keluar dari jebakan algorithmcore menuntut kesadaran diri yang kuat. Menikmati tren media sosial sah-sah saja, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan jati diri demi selera pasar algoritmik. Coba sesekali matikan gawai, gali kembali pakaian lama di lemari, atau bereksperimen dengan gaya yang benar-benar mencerminkan kepribadian Anda, bukan apa yang sedang disukai oleh mesin pencari.

Ingat, gaya terbaik adalah gaya yang memiliki jiwa, bukan sekadar produk tiruan dari algoritma yang sedang viral.