Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Praktik vs Praktek: Logika Konsistensi Morfologi di Balik Kata 'Praktikum'

Admin WGM - Monday, 06 April 2026 | 11:35 AM

Background
Praktik vs Praktek: Logika Konsistensi Morfologi di Balik Kata 'Praktikum'
Telaah bahasa Indonesia (Pemerintah Provinsi Jambi /)

Banyak orang merasa "praktek" terdengar lebih luwes di lidah karena pengaruh pelafalan sehari-hari yang cenderung malas mengucapkan vokal "i" yang tajam. Namun, bahasa Indonesia adalah sistem yang logis. Salah satu cara termudah untuk menguji kebenaran sebuah kata dasar adalah dengan melihat kata turunannya. Secara logika kebahasaan, Praktik adalah akar yang paling kokoh.

1. Logika Kata Turunan: Bukti di Balik 'Praktikum'

Mengapa kita tidak pernah menyebut "praktekum" atau "praktekisi"? Kita secara alami menggunakan kata:

  • Praktikum (Kegiatan latihan penelitian).
  • Praktisi (Orang yang mempraktikkan keahlian).
  • Praktikan (Orang yang melakukan praktik).
  • Malpraktik (Praktik yang salah/buruk).

Logikanya, jika semua kata turunan dan serapan teknisnya menggunakan huruf "i", maka secara sistemik kata dasarnya pun harus menggunakan "i". Menggunakan "praktek" sebagai kata dasar sementara turunannya menggunakan "i" akan menciptakan anomali bahasa yang tidak logis dan merusak struktur morfologi bahasa Indonesia.

2. Jalur Serapan: Dari 'Practice' dan 'Practijk'

Kata ini diserap dari bahasa Inggris (Practice) dan bahasa Belanda (Praktijk). Perhatikan bahwa kedua bahasa sumber tersebut menggunakan vokal yang mendekati "i" (huruf 'i' pada Belanda dan bunyi 'i' pada Inggris).

Secara logika penyerapan, bahasa Indonesia berusaha mempertahankan bunyi asli dari bahasa sumber agar makna teknisnya tidak bergeser. Penulisan "praktek" dengan huruf "e" kemungkinan besar muncul karena pengaruh pelafalan dialek tertentu yang sering mengubah vokal "i" menjadi "e" (seperti kata 'apotik' yang benar adalah 'apotek'). Namun, dalam kasus ini, standarisasi nasional menetapkan Praktik sebagai bentuk yang sejajar dengan terminologi global.

3. Profesionalitas dalam Penulisan Laporan

Dalam laporan ilmiah, skripsi, atau dokumen legal, penggunaan kata Praktik menunjukkan ketelitian penulis terhadap aturan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Penggunaan "praktek" sering kali dianggap sebagai indikasi bahwa penulis kurang melakukan pengecekan ulang atau hanya mengandalkan kebiasaan lisan. Di tahun 2026, di mana akurasi data dan literasi digital menjadi standar industri, pemilihan kata baku adalah "kartu nama" intelektual Anda. Menulis Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan benar memberikan kesan bahwa program tersebut dijalankan dengan standar profesionalitas yang tinggi.

4. Menghindari Miskonsepsi di Dunia Medis dan Hukum

Dalam dunia medis dan hukum, istilah Malpraktik sudah menjadi standar baku internasional. Jika seorang profesional menggunakan kata "malpraktek" dalam dokumen resmi, hal ini bisa menimbulkan keraguan atas validitas dokumen tersebut secara hukum.

Logika Ketunggalan Istilah sangat penting di sini. Dengan menggunakan kata Praktik, kita memastikan tidak ada ruang untuk ambiguitas. Satu kata baku untuk satu konsep tindakan nyata. Ini adalah bentuk efisiensi komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja yang serba cepat.

Memilih antara "Praktik" atau "Praktek" sebenarnya mudah jika Anda mengingat kata "Praktikum". Jika Anda tidak pernah menyebut "praktekum", maka jangan pernah menulis "praktek". Praktik adalah bentuk yang logis secara etimologi, konsisten secara morfologi, dan diakui secara resmi oleh negara.

Mulai sekarang, pastikan setiap dokumen yang Anda buat menggunakan kata Praktik. Tunjukkan bahwa Anda adalah individu yang tidak hanya mahir melakukan pekerjaan di lapangan, tetapi juga cerdas dalam mendokumentasikannya secara bahasa. Ingat, profesionalitas dimulai dari detail terkecil, termasuk satu huruf vokal dalam tulisan Anda. Gunakan Praktik, karena kebenaran bahasa adalah bagian dari kualitas kerja Anda.