Dulu Sempat Viral dan Disebut "Tanaman Sultan", Mengenal Porang yang Bernilai Ekonomi Tinggi
Admin WGM - Friday, 22 May 2026 | 09:00 PM


Tanaman yang Pernah Viral dan Jadi Primadona Petani
Beberapa tahun lalu, tanaman porang sempat menjadi perbincangan luas di Indonesia. Banyak petani mulai melirik tanaman ini karena harga jualnya yang dinilai menjanjikan dan tingginya permintaan pasar ekspor. Bahkan, porang pernah dijuluki sebagai "tanaman sultan" karena dianggap mampu memberikan keuntungan besar bagi sebagian petani.
Porang merupakan tanaman umbi-umbian dengan nama ilmiah Amorphophallus muelleri. Tanaman ini termasuk dalam keluarga talas-talasan (Araceae) dan banyak tumbuh di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman tersebut tumbuh liar di kawasan hutan sebelum akhirnya mulai dibudidayakan secara luas.
Di Indonesia, sentra budidaya porang berkembang di sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Tingginya nilai ekonomi tanaman ini membuat banyak petani mulai menjadikannya sebagai komoditas unggulan.
Apa yang Membuat Porang Menarik?
Nilai utama tanaman porang terdapat pada bagian umbinya. Umbi tersebut mengandung glukomanan, yaitu serat pangan larut air yang memiliki berbagai fungsi dalam industri pangan, kesehatan, hingga industri nonmakanan. Kandungan glukomanan pada porang diketahui lebih tinggi dibanding beberapa tanaman sejenis lainnya.
Karena kandungan tersebut, porang banyak diolah menjadi:
- Tepung porang
- Mie shirataki
- Konnyaku
- Bahan pengental makanan
- Bahan kosmetik
- Perekat industri
- Bahan tambahan farmasi
Pemanfaatannya yang cukup luas membuat permintaan porang meningkat, termasuk dari pasar luar negeri seperti Jepang, China, Taiwan, Australia, dan beberapa negara Asia lainnya.
Pernah Disebut Sebagai Komoditas Ekspor Menjanjikan
Popularitas porang mulai meningkat ketika pemerintah dan berbagai pelaku industri menilai tanaman ini memiliki potensi ekspor yang besar.
Permintaan tinggi datang karena porang menjadi bahan baku berbagai produk pangan modern. Salah satu produk yang cukup populer adalah mie shirataki dan konnyaku yang sering dikonsumsi masyarakat Jepang. Dalam sejumlah diskusi daring, banyak pengguna juga mengaitkan porang dengan produk konnyaku maupun nasi shirataki yang kini banyak dipasarkan sebagai alternatif makanan tinggi serat.
Selain sektor pangan, industri kosmetik dan farmasi juga memanfaatkan kandungan glukomanan dari porang sebagai bahan pendukung produk tertentu.
Punya Potensi Manfaat untuk Kesehatan
Sejumlah penelitian menunjukkan glukomanan pada porang memiliki potensi manfaat kesehatan.
Beberapa kajian menyebut kandungan serat tersebut dapat membantu memperlambat pengosongan lambung, memberikan rasa kenyang lebih lama, membantu kesehatan pencernaan, hingga berpotensi membantu pengelolaan kadar kolesterol dan gula darah. Namun manfaat tersebut masih perlu disesuaikan dengan pola makan secara keseluruhan dan tidak dapat dianggap sebagai pengobatan utama.
Meski demikian, umbi porang mentah tidak dapat langsung dikonsumsi begitu saja. Hal tersebut karena porang mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal dan sensasi panas pada mulut maupun tenggorokan apabila tidak melalui proses pengolahan yang tepat.
Budidayanya Dinilai Relatif Fleksibel
Salah satu faktor yang membuat porang menarik bagi petani adalah kemampuan adaptasinya. Tanaman ini dapat tumbuh di bawah naungan pohon dan tidak membutuhkan paparan sinar matahari penuh sepanjang hari.
Laporan penelitian juga menyebut porang tumbuh baik pada kondisi tanah dengan pH sekitar 6–7 serta ketinggian tertentu di wilayah tropis Indonesia.
Namun seperti komoditas pertanian lainnya, budidaya porang juga memiliki tantangan, termasuk fluktuasi harga pasar, kualitas bibit, dan permintaan ekspor yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Dari Tanaman Hutan Menjadi Komoditas Bernilai Tinggi
Porang menunjukkan bagaimana tanaman yang dahulu tumbuh liar di kawasan hutan dapat berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Mulai dari bahan pangan, produk kesehatan, hingga kebutuhan industri, pemanfaatan porang yang semakin luas membuat tanaman ini tetap memiliki daya tarik tersendiri. Meski sempat viral karena potensi keuntungan ekonominya, nilai porang saat ini tidak hanya dilihat dari harga jual, tetapi juga dari peluang pengembangan produk turunannya di masa depan.
Next News

Mandiri Energi dengan PLTS Atap: Apakah Biaya Pemasangannya Sebanding dengan Hasilnya?
21 hours ago

Rayakan Hari Kemerdekaan Energi Lewat Kebiasaan Smart Energy di Rumah
a day ago

Mengenal Hari Kemerdekaan Energi Sedunia: Mengapa Bumi Butuh Transisi Energi?
a day ago

Dampak Besar Satelit Palapa Terhadap Modernisasi Komunikasi di Era 70-an
2 days ago

Menolak Putus Sambungan: Transformasi Generasi Satelit Indonesia dari Masa ke Masa
2 days ago

Jarang Diketahui, Ini Fakta Unik Sejarah Satelit Palapa yang Bikin Bangga
2 days ago

Kisah di Balik Hari Satelit Palapa: Saat Indonesia Mengguncang Dunia di Ruang Angkasa
2 days ago

Cara Mengurangi Food Waste (Sampah Makanan) Demi Menghemat Dompet dan Menjaga Bumi
4 days ago

Bom Waktu di Tumpukan Sampah: Mengapa Gas Metana di TPA Bisa Memicu Ledakan Dahsyat?
4 days ago

Bisa Baca Buku Gratis! Rekomendasi Aplikasi Perpustakaan Digital Resmi di Indonesia
4 days ago





