Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Economy

Paradoks "Spending" Ramadan: Mengapa Konsumsi Naik Saat Kita Berhenti Makan?

Admin WGM - Monday, 23 February 2026 | 07:30 PM

Background
Paradoks "Spending" Ramadan: Mengapa Konsumsi Naik Saat Kita Berhenti Makan?
(freepik/)

Sebuah anomali ekonomi yang menarik selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia. Secara logika matematis, ketika frekuensi makan seseorang berkurang dari tiga kali menjadi dua kali sehari selama bulan Ramadan, maka pengeluaran untuk konsumsi pangan seharusnya menurun. Namun, data lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Indeks pengeluaran rumah tangga dan tingkat inflasi musiman hampir selalu menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Fenomena ini dikenal sebagai Paradoks Spending Ramadan, sebuah kondisi di mana konsumsi masyarakat justru melonjak tajam tepat pada saat mereka secara formal sedang berhenti makan di siang hari.

Psikologi Konsumsi: Kompensasi atas Penahanan Diri

Para ahli perilaku ekonomi melihat fenomena ini berakar pada aspek psikologis manusia. Puasa, yang secara fisik merupakan tindakan menahan diri, sering kali memicu mekanisme kompensasi di alam bawah sadar. Ketika seseorang menahan lapar selama lebih dari 12 jam, muncul dorongan untuk "menghargai" diri sendiri dengan makanan atau barang yang lebih istimewa saat waktu berbuka tiba.

"Efek balas dendam" ini membuat konsumen cenderung tidak rasional dalam berbelanja. Takjil yang beraneka ragam, hidangan utama yang lebih mewah dari hari biasa, hingga camilan penutup yang melimpah menjadi pelampiasan atas rasa lapar seharian. Akibatnya, volume belanja bahan makanan di tingkat rumah tangga justru membengkak. Kita tidak lagi sekadar membeli apa yang kita butuhkan untuk kenyang, tetapi membeli apa yang kita inginkan untuk memuaskan imajinasi lapar kita saat sedang berpuasa.

Budaya Kolektif dan Tekanan Sosial

Selain faktor internal individu, struktur sosial di Indonesia turut memperkuat paradoks ini. Ramadan di Nusantara adalah perayaan kolektif. Budaya buka puasa bersama (bukber) dan tradisi pengiriman bingkisan atau hampers menciptakan pengeluaran baru yang tidak ada di bulan-bulan lainnya.

Dalam kacamata sosiologi ekonomi, pengeluaran untuk interaksi sosial ini sering kali dianggap sebagai investasi hubungan, namun secara finansial, ini adalah beban tambahan. Tekanan sosial untuk mengadakan acara yang layak atau mengirimkan bingkisan yang prestisius membuat masyarakat cenderung mengeluarkan uang lebih banyak demi menjaga citra dan relasi. Tak jarang, anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk tabungan justru terpakai untuk membiayai gaya hidup komunal yang intens selama satu bulan penuh ini.

Strategi Pemasaran dan Perangkap Diskon

Industri ritel dan e-commerce sangat memahami psikologi masyarakat selama Ramadan. Mereka memanfaatkan momentum ini dengan meluncurkan kampanye pemasaran besar-besaran. Istilah "Diskon Ramadan", "Midnight Sale", hingga "Promo Lebaran" membanjiri layar gawai konsumen.

Secara teknis, masyarakat merasa sedang berhemat karena mendapatkan harga diskon. Namun, secara agregat, mereka justru berbelanja lebih banyak barang yang sebenarnya tidak mendesak, mulai dari pakaian baru hingga perabot rumah tangga. Adanya Tunjangan Hari Raya (THR) yang cair di tengah bulan Ramadan juga memberikan suntikan likuiditas instan. Keberadaan dana segar ini, jika tidak dikelola dengan literasi keuangan yang baik, cenderung habis dalam sekejap karena daya pikat promo yang agresif.

Distorsi Rantai Pasok dan Inflasi Pangan

Kenaikan konsumsi secara serentak dalam skala nasional tentu berdampak pada hukum permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap bahan pokok seperti beras, telur, daging ayam, dan cabai melonjak drastis secara bersamaan, harga-harga di pasar akan terkerek naik.

Inflasi pangan musiman ini menjadi beban tambahan bagi masyarakat kelas bawah. Meskipun mereka mencoba untuk tetap hemat, kenaikan harga bahan baku memaksa mereka untuk mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk mendapatkan kualitas makanan yang sama dengan bulan sebelumnya. Inilah sisi ironis dari paradoks ini: pengeluaran naik bukan hanya karena keinginan untuk bermewah-mewah, tetapi juga karena biaya hidup dasar yang memang melambung akibat tekanan permintaan pasar yang masif.


Menghadapi Paradoks Spending Ramadan memerlukan kesadaran penuh atau mindfulness dalam berbelanja. Esensi Ramadan yang mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri seharusnya menjadi rem alami bagi perilaku konsumtif.

Strategi paling sederhana adalah dengan membuat perencanaan belanja yang ketat sebelum berangkat ke pasar atau membuka aplikasi belanja. Membedakan antara kebutuhan nutrisi untuk beribadah dan keinginan emosional untuk "pamer" atau "balas dendam" adalah kunci untuk memutus siklus paradoks ini. Pada akhirnya, kemenangan Ramadan tidak hanya diukur dari kemampuan kita menahan lapar, tetapi juga kemampuan kita menahan godaan untuk tidak menjadi hamba dari konsumerisme yang berlebihan. Dengan pengaturan keuangan yang bijak, kita bisa menjadikan Ramadan sebagai momen peningkatan kualitas spiritual tanpa harus mengorbankan stabilitas finansial.