Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
Economy

Rupiah Tertekan ke Rp17.728 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi Berlapis di Pasar Spot

Admin WGM - Tuesday, 19 May 2026 | 04:00 PM

Background
Rupiah Tertekan ke Rp17.728 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi Berlapis di Pasar Spot
Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp17.700 (Liputan6/)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan bagi pasar domestik. Pelemahan nilai tukar mata uang garuda ini dipicu oleh sentimen eksternal yang kuat, termasuk kebijakan moneter ketat di Washington serta ketidakpastian geopolitik global yang membuat investor global mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk mata uang safe haven. Menyikapi guncangan hebat di pasar valuta asing ini, jajaran legislatif dan eksekutif langsung menggelar koordinasi kilat guna menahan laju depresiasi agar tidak berdampak sistemik pada stabilitas ekonomi nasional.

Otoritas moneter bersama jajaran kementerian terkait kini tengah menyiapkan bauran strategi intervensi guna menenangkan pasar dan menjaga cadangan devisa tetap berada pada level yang aman.

Rekor Baru Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Mata uang rupiah bergerak fluktuatif cenderung melemah tajam sejak pembukaan perdagangan tengah pekan ini. Melansir laporan detikFinance, eskalasi pergerakan valuta asing mencatat bahwa dolar AS telah tembus ke angka Rp17.700. Lonjakan ini langsung direspons dengan aksi jual cepat di lantai bursa domestik, mengingat tingkat ketergantungan sebagian industri manufaktur dalam negeri terhadap komponen impor masih tergolong cukup tinggi.

Para pelaku usaha mulai mengantisipasi potensi kenaikan biaya produksi (cost-push inflation) jika penguatan mata uang paman sam ini terus bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Depresiasi Mendalam di Pasar Spot

Tekanan terhadap kurs rupiah ternyata bergerak jauh lebih dalam pada penutupan sesi perdagangan harian di berbagai wilayah. Melansir data resmi dari Antara News Kalsel, pergerakan angka riil di pasar spot mengonfirmasi bahwa rupiah sempat menyentuh level Rp17.728 per dolar AS. Angka ini tercatat sebagai salah satu titik terendah pergerakan rupiah dalam beberapa tahun terakhir, yang sekaligus mencerminkan tingginya volatilitas pasar keuangan regional.

Bank Indonesia (BI) dilaporkan langsung masuk ke pasar melakukan intervensi tiga kali lipat (triple intervention) baik di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) demi meminimalkan depresiasi yang terlalu liar.

Imbauan Ketenangan dan Formulasi Solusi Bersama

Meskipun kondisi pasar valuta asing sedang mengalami tekanan yang cukup masif, otoritas politik meminta masyarakat serta para pelaku ekonomi untuk tidak merespons situasi ini secara reaktif atau spekulatif. Melansir analisis CNBC Indonesia, dewan perwakilan rakyat mengeluarkan maklumat agar publik jangan panik dengan kondisi dolar yang menyentuh Rp17.700, karena DPR dan pemerintah tengah mencari solusi terbaik buat rupiah. Komisi XI DPR RI menjadwalkan rapat kerja darurat bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia guna merumuskan insentif fiskal dan moneter terintegrasi.

Langkah-langkah taktis yang sedang digodok antara lain meliputi pengetatan aturan devisa hasil ekspor (DHE) agar para eksportir menahan dolar mereka lebih lama di dalam negeri, serta optimalisasi penggunaan kerja sama mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi perdagangan internasional dengan negara mitra strategis.

Prospek Ketahanan Fiskal Nasional

Pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif kokoh, ditopang oleh angka inflasi domestik yang masih terjaga dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Kebijakan koordinasi moneter yang agresif diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor asing dalam waktu dekat.

Dengan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan parlemen pada sisa bulan Mei 2026 ini, diharapkan nilai tukar rupiah dapat segera menguat kembali ke fundamental aslinya, sekaligus memastikan roda perekonomian nasional tetap bergerak positif di tengah ketidakpastian pasar global.