Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Gak Usah Bingung Lagi! Ini Alasan Logis Kenapa 'Analisis' Lebih Benar dari 'Analisa'

Admin WGM - Monday, 06 April 2026 | 09:31 AM

Background
Gak Usah Bingung Lagi! Ini Alasan Logis Kenapa 'Analisis' Lebih Benar dari 'Analisa'
Analisis atau Analisa (Kompas.com /)

Banyak orang mengira bahwa "analisa" adalah bentuk yang benar karena terdengar lebih "Indonesia" atau mirip dengan bahasa Belanda analyse. Namun, jika kita membedah jalur serapan kata tersebut, kita akan menemukan bahwa bahasa Indonesia memiliki algoritma penyerapan yang ketat untuk menjaga konsistensi makna dan asal-usul kata. Secara logika etimologi, Analisis adalah pemenangnya.

1. Logika Akar Bahasa: Kembali ke Yunani Kuno

Kata ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu analysis. Kata tersebut terbentuk dari prefiks ana- (ke atas/kembali) dan lysis (pelonggaran/pelepasan). Secara struktur, kata benda dalam bahasa Yunani yang berakhiran -sis menunjukkan sebuah proses atau tindakan.

[Image showing the Greek root: Ana + Lysis = Analysis (the process of loosening or breaking down)]

Logikanya, jika kita mengambil kata dari sumber aslinya, akhiran -sis harus dipertahankan untuk menjaga keutuhan maknanya. Mengubahnya menjadi -sa (analisa) akan memutus rantai sejarah kata tersebut dan membuatnya kehilangan identitas teknisnya sebagai sebuah "proses penguraian".

2. Konsistensi Pola Serapan: Algoritma Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki pola serapan yang konsisten untuk kata-kata teknis dan ilmiah yang berasal dari bahasa Inggris atau Yunani/Latin. Perhatikan pola berikut:

  • Diagnosis menjadi Diagnosis (Bukan Diagnosa).
  • Synthesis menjadi Sintesis (Bukan Sintesa).
  • Hypothesis menjadi Hipotesis (Bukan Hipotesa).
  • Analysis menjadi Analisis (Bukan Analisa).

Secara logika sistemik, jika kita menerima "analisa", maka kita juga harus menerima "diagnosa" atau "sintesa" sebagai bentuk baku. Namun, KBBI secara konsisten memilih akhiran -is/-sis untuk menjaga keseragaman istilah ilmiah. Konsistensi ini memudahkan para ilmuwan dan penulis untuk mengenali kategori kata tersebut sebagai istilah teknis tanpa perlu menebak-nebak akhirannya.

3. Pengaruh Bahasa Belanda vs Bahasa Inggris

Kesalahan penggunaan "analisa" sering kali berakar dari pengaruh bahasa Belanda, yaitu analyse. Pada masa awal perkembangan bahasa Indonesia, banyak serapan diambil dari bahasa Belanda. Namun, seiring dengan standarisasi bahasa yang lebih modern dan kiblat ilmu pengetahuan yang bergeser ke bahasa Inggris (analysis), para ahli bahasa di Indonesia memutuskan untuk membakukan bentuk yang lebih dekat dengan aslinya (Yunani/Inggris).

Logikanya, memilih Analisis adalah upaya modernisasi bahasa agar lebih selaras dengan terminologi internasional. Hal ini mempermudah proses penerjemahan dan pemahaman literatur global bagi pelajar di Indonesia.

4. Fungsi Gramatikal: Dari Kata Benda ke Kata Kerja

Dalam bahasa Indonesia, perubahan kata benda menjadi kata kerja juga lebih logis jika menggunakan bentuk Analisis.

  • Analisis (Kata Benda) -> Menganalisis (Kata Kerja). Jika kita menggunakan "analisa", maka kata kerjanya menjadi "menganalisa". Secara fonetik dan struktur awalan me-, bentuk "menganalisis" terdengar lebih formal dan memenuhi kaidah pembentukan kata kerja aktif dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Memilih antara "Analisis" atau "Analisa" bukan sekadar urusan selera, melainkan urusan kepatuhan pada sistem logika bahasa. Dengan menggunakan Analisis, Anda menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang asal-usul kata dan konsistensi dalam penulisan ilmiah.

Di tahun 2026 ini, di mana akurasi informasi sangat dihargai, penggunaan kata baku adalah cermin dari profesionalisme seorang penulis. Jadi, mulai sekarang, pastikan skripsi, artikel, atau laporan kerjamu menggunakan kata Analisis. Jangan biarkan kebiasaan salah kaprah "analisa" merusak kualitas komunikasimu. Ingat: -sis untuk proses yang logis, -sa hanya untuk kebiasaan lama yang sudah lewat masanya.