Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Gak Usah Bingung! Ini Alasan Logis Kenapa 'Card' Jadi 'Kartu' dan Bukan 'Cadu'

Admin WGM - Monday, 06 April 2026 | 12:36 PM

Background
Gak Usah Bingung! Ini Alasan Logis Kenapa 'Card' Jadi 'Kartu' dan Bukan 'Cadu'
Transisi pengucapan bahasa (Languange Center of UNJ /)

Dalam tata bahasa Indonesia, konsonan "C" memiliki bunyi yang sangat spesifik, yaitu bunyi geser palatal (seperti pada kata 'cacing' atau 'cari'). Sementara itu, dalam bahasa Inggris atau Latin, huruf "C" sering kali memiliki dua kepribadian: bunyi keras (hard C seperti 'K') dan bunyi lembut (soft C seperti 'S'). Secara logika linguistik, bahasa Indonesia memilih untuk menyerap bunyi, bukan sekadar tulisan.

1. Logika 'Hard C': Menyelamatkan Bunyi Asli

Dalam kata Card atau Music, huruf "C" di sana diucapkan sebagai /k/. Jika bahasa Indonesia menyerapnya mentah-mentah menjadi "Cardu" atau "Music", maka penutur lokal kemungkinan besar akan membacanya dengan bunyi "C" Indonesia (menjadi Cardu seperti 'Cacing').

[Image showing the phonetic shift: Card /kɑːrd/ → Kartu /kartu/]

Logikanya, untuk mempertahankan kemiripan bunyi dengan bahasa sumbernya, huruf "C" yang berbunyi /k/ harus diganti dengan huruf "K". Inilah mengapa:

  • Card menjadi Kartu.
  • Cubic menjadi Kubik.
  • Clinic menjadi Klinik. Transformasi ini memastikan bahwa siapa pun yang membaca kata tersebut akan mengeluarkan bunyi yang sama dengan penutur aslinya.

2. Mengapa Music Menjadi Musik (Bukan Musis)?

Ada pertanyaan menarik: jika Analysis menjadi Analisis, mengapa Music tidak menjadi Musis? Jawabannya terletak pada Posisi Konsonan.

Dalam bahasa Inggris, huruf "C" di akhir kata (seperti Music, Fabric, Toxic) hampir selalu berbunyi keras (/k/). Secara logika sistemik, bahasa Indonesia tidak akan mengubah bunyi /k/ menjadi /s/ kecuali jika kata aslinya memang berbunyi /s/ (seperti Pharmacy menjadi Farmasi).

Menulis Musik dengan akhiran "K" adalah bentuk kesetiaan pada fonetik. Mengubahnya menjadi "Musis" justru akan menciptakan kesalahan fatal karena akan mengubah identitas kata tersebut secara total. Konsistensi ini membantu kita membedakan mana kata yang berasal dari hard C dan mana yang berasal dari soft C atau S.

3. Konsistensi dalam Laporan Profesional

Dalam penulisan formal seperti laporan jurnalistik atau dokumen bisnis di tahun 2026, penggunaan huruf "K" untuk kata serapan berbunyi keras adalah indikator Literasi Linguistik yang tinggi.

Bayangkan jika Anda menulis "Laporan Medic" atau "Struktur Organik" dengan huruf "C" di akhir. Pembaca yang teliti akan melihat ini sebagai ketidakpatuhan terhadap aturan PUEBI. Penggunaan "K" menunjukkan bahwa Anda memahami bahwa bahasa Indonesia telah melakukan standardisasi untuk mempermudah komunikasi massa agar tidak terjadi ambiguitas pelafalan.

4. Efek Visual: Mempermudah Pemenggalan Kata

Secara logika visual, huruf "K" memberikan struktur yang lebih kuat pada sebuah kata dalam bahasa Indonesia. Kata seperti Komunikasi (dari Communication) atau Konstruksi (dari Construction) jauh lebih mudah dipenggal secara suku kata dibanding mempertahankan huruf "C" yang bisa membingungkan pembaca saat bertemu dengan vokal tertentu.

Perubahan "C" menjadi "K" adalah bentuk Adaptasi Visual agar kata serapan tersebut terlihat "selaras" dengan kosakata asli Indonesia lainnya. Ini membantu mata pembaca untuk memproses informasi lebih cepat tanpa harus berhenti sejenak untuk memikirkan cara membacanya.

Penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia adalah proses yang cerdas. Ia mendahulukan bagaimana sebuah kata didengar daripada bagaimana kata tersebut dieja di negara asalnya. Huruf "C" menjadi "K" adalah bukti bahwa bahasa Indonesia sangat menghargai kejelasan bunyi dan kemudahan pelafalan bagi rakyatnya.

Mulai sekarang, saat Anda menulis Kartu, Musik, atau Klinik, ingatlah bahwa ada logika besar yang menjaga agar komunikasi kita tetap efektif dan akurat. Gunakanlah kata serapan yang benar sesuai KBBI, karena ketertiban bahasa adalah cerminan dari ketertiban berpikir. Selamat menulis dengan benar!