Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Economy

Ekonomi "Gula-Gula": Siapa yang Paling Diuntungkan dari Tren Viral?

Admin WGM - Sunday, 22 February 2026 | 04:01 PM

Background
Ekonomi "Gula-Gula": Siapa yang Paling Diuntungkan dari Tren Viral?
(Populix/)

Pernahkah kamu mendapati dirimu rela berdiri dalam antrean yang mengular selama berjam-jam hanya demi segelas minuman dengan topping menggunung, atau sepotong roti dengan lelehan cokelat yang tampak sangat "estetik" di kamera? Jika iya, kamu adalah bagian dari ekosistem besar yang kini dikenal sebagai Ekonomi Gula-Gula. Di dunia yang digerakkan oleh algoritma media sosial, rasa manis bukan lagi sekadar urusan lidah, melainkan komoditas ekonomi yang perputarannya mencapai angka miliaran rupiah.

Siklus Hidup Tren: Dari FYP ke Keranjang Belanja

Fenomena ini biasanya bermula dari satu unggahan pendek yang masuk ke beranda For Your Page (FYP) atau kolom eksplorasi. Sesuatu yang berwarna cerah, memiliki tekstur unik, atau memberikan efek visual yang memuaskan saat dipotong (food porn), akan segera memicu rasa penasaran massa. Dalam hitungan hari, sebuah produk yang tadinya anonim bisa menjadi "kewajiban" bagi para pemburu konten.

Namun, Ekonomi Gula-Gula memiliki karakteristik yang sangat spesifik: cepat naik, cepat padam. Kita tentu masih ingat kejayaan es kepal Milo, donat indomie, hingga kopi susu gula aren yang sempat menjamur di setiap sudut jalan. Beberapa berhasil bertahan dan berevolusi menjadi bisnis berkelanjutan, namun tidak sedikit yang layu sebelum berkembang begitu tren beralih ke objek baru yang lebih "berkilau".

Produsen Bahan Baku: Sang Pemenang di Balik Layar

Saat kita membicarakan siapa yang paling diuntungkan, mata kita sering kali tertuju pada gerai-gerai yang ramai pembeli. Padahal, pemenang sejati dalam industri ini sering kali tersembunyi di balik layar: produsen bahan baku.

Ketika tren minuman boba atau brown sugar meledak, perusahaan produsen sirup, krimer, dan tapioka mengalami lonjakan pesanan yang masif. Berbeda dengan pemilik gerai yang harus menghadapi risiko tren yang fluktuatif, para pemasok ini lebih "aman" karena mereka memasok ke ribuan gerai sekaligus. Siapa pun merek minumannya, gulanya sering kali berasal dari sumber yang sama. Mereka adalah pemain "jangkar" yang tetap mendulang rupiah bahkan ketika konsumen sudah mulai bosan dengan satu jenis merek tertentu dan beralih ke jenis lainnya.

Influencer dan Platform: Makelar Perhatian

Pihak kedua yang meraup untung besar adalah para pengulas makanan (food vlogger) dan platform media sosial itu sendiri. Dalam Ekonomi Gula-Gula, perhatian adalah mata uang. Seorang influencer yang berhasil membuat sebuah makanan menjadi viral tidak hanya mendapatkan bayaran dari endorsement, tetapi juga peningkatan jumlah pengikut dan interaksi (engagement) yang menjadi nilai tawar mereka ke depan.

Platform media sosial seperti TikTok dan Instagram juga diuntungkan karena pengguna menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton konten-konten tersebut. Semakin lama orang berselancar mencari tahu "di mana lokasi makanan viral ini", semakin banyak iklan yang bisa ditayangkan oleh platform kepada pengguna.

Pedagang Kecil: Antara Peluang dan Perjudian

Bagi pedagang kecil atau UMKM, Ekonomi Gula-Gula ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, viralitas adalah jalan pintas untuk mendapatkan omzet meledak tanpa perlu biaya pemasaran yang besar. Namun, di sisi lain, ini adalah sebuah perjudian.

Banyak pedagang yang terlalu bersemangat melakukan ekspansi besar-besaran, menyewa ruko mahal, dan membeli peralatan canggih hanya karena dagangannya sedang viral. Masalah muncul ketika "masa bulan madu" tren tersebut habis—biasanya dalam tiga hingga enam bulan. Saat perhatian publik bergeser, mereka ditinggalkan dengan biaya operasional yang tinggi namun jumlah pelanggan yang menyusut drastis. Di sini, kecakapan manajemen bisnis diuji: apakah mereka bisa mengubah pemburu tren menjadi pelanggan setia?

Konsumen: Pembayar Harga "Pengalaman"

Lalu, di mana posisi konsumen? Dalam ekonomi ini, konsumen adalah pihak yang mengeluarkan uang demi sebuah "pengalaman" dan "status sosial". Membeli makanan viral bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan biologis, melainkan kebutuhan untuk diakui bahwa mereka "kekinian" dan tidak ketinggalan zaman (Fear of Missing Out atau FOMO).

Meski sering kali harus membayar harga yang lebih mahal untuk rasa yang mungkin biasa saja, konsumen merasa puas karena telah berhasil menuntaskan rasa penasarannya dan mendapatkan konten untuk dibagikan. Ekonomi Gula-Gula sukses besar karena ia menjual kebahagiaan instan dalam bentuk glukosa dan validasi digital.


Ekonomi Gula-Gula akan terus ada selama media sosial menjadi bagian dari hidup kita. Tren akan datang dan pergi, berganti dari manis ke pedas, dari cair ke padat. Yang perlu disadari adalah bahwa di balik setiap antrean panjang, ada mesin ekonomi yang bekerja sangat efisien untuk memindahkan uang dari kantong konsumen ke para pemain besar.

Bagi pengusaha, kuncinya adalah jangan hanya mengejar viral, tapi kejarlah relevansi. Bagi konsumen, tidak ada salahnya sesekali ikut mencicipi "gula-gula" viral, asalkan sadar bahwa kesehatan tubuh dan kesehatan dompet tetap menjadi prioritas utama di atas sekadar angka likes di media sosial.