Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Dilema Aroma Tubuh: Mengapa Bau Badan Tetap Muncul Meski Sudah Menggunakan Deodoran?

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 09:07 PM

Background
Dilema Aroma Tubuh: Mengapa Bau Badan Tetap Muncul Meski Sudah Menggunakan Deodoran?
Deodoran (Halodoc/)

Bagi banyak orang, menggunakan deodoran adalah ritual wajib setelah mandi untuk memastikan kesegaran tubuh sepanjang hari. Namun, tidak jarang muncul keluhan mengenai aroma tak sedap yang tetap menyeruak di tengah aktivitas, meski produk pengharum ketiak sudah diaplikasikan berulang kali. Fenomena ini sering kali menimbulkan rasa tidak percaya diri dan tanda tanya mengenai efektivitas produk yang digunakan.

Ternyata, penyebab utama kegagalan dalam menghalau bau badan bukan selalu terletak pada harga atau merek produk, melainkan ketidakpahaman mengenai perbedaan fungsi antara deodoran dan antiperspiran, serta cara kerja bakteri pada kulit.

Deodoran vs Antiperspiran: Dua Fungsi yang Berbeda

Langkah awal untuk mengatasi masalah ini adalah memahami bahwa deodoran dan antiperspiran bukanlah produk yang sama. Secara fungsional, keduanya bekerja dengan cara yang bertolak belakang:

  • Deodoran: Dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap bau, namun bukan terhadap basah keringat. Deodoran bekerja dengan cara meningkatkan keasaman kulit sehingga bakteri penyebab bau sulit berkembang biak. Selain itu, deodoran mengandung wewangian (fragrance) untuk menutupi aroma tubuh.
  • Antiperspiran: Mengandung bahan aktif, biasanya berbasis aluminium, yang berfungsi menyumbat saluran keringat secara sementara. Tujuannya adalah mengurangi jumlah keringat yang keluar ke permukaan kulit. Karena area ketiak tetap kering, bakteri tidak memiliki media untuk menghasilkan bau.

Jika Anda adalah tipe orang yang memproduksi keringat berlebih (hiperhidrosis), penggunaan deodoran saja tidak akan cukup. Keringat yang terus keluar akan melarutkan kandungan parfum pada deodoran dan memberikan ruang bagi bakteri untuk memproses protein dalam keringat menjadi aroma tidak sedap.

Mengapa Bau Tetap Muncul?

Ada beberapa faktor teknis dan medis yang menyebabkan bau badan tetap membandel meski Anda merasa sudah melakukan perawatan maksimal:

1. Penumpukan Residu pada Kulit dan Pakaian Penggunaan produk yang tidak dibersihkan dengan sempurna saat mandi dapat menyebabkan penumpukan residu. Sisa-sisa bahan kimia yang bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri lama justru menciptakan lapisan yang memerangkap bau. Selain itu, bakteri yang tertinggal pada serat kain pakaian juga dapat bereaksi kembali saat terkena panas tubuh, meskipun Anda sudah memakai deodoran baru.

2. Pola Makan dan Gaya Hidup Apa yang Anda konsumsi sangat memengaruhi aroma keringat yang dihasilkan oleh kelenjar apokrin. Makanan seperti bawang putih, bawang bombay, daging merah, hingga rempah-rempah tertentu mengandung senyawa volatil yang diekskresikan melalui keringat. Selain itu, konsumsi alkohol dan kafein dapat menstimulasi kelenjar keringat bekerja lebih aktif.

3. Ketidakseimbangan Bakteri (Mikrobioma Ketiak) Kulit manusia dihuni oleh ribuan bakteri. Bau badan terjadi ketika bakteri jenis Staphylococcus hominis memecah keringat tanpa bau menjadi senyawa thioalcohols yang beraroma tajam. Penggunaan produk yang terlalu keras kadang justru membunuh bakteri baik dan membiarkan bakteri penyebab bau mendominasi area ketiak.

4. Waktu Aplikasi yang Salah Khusus untuk antiperspiran, hasil terbaik didapatkan jika diaplikasikan pada malam hari saat kelenjar keringat lebih tenang. Jika diaplikasikan saat Anda sudah mulai berkeringat di pagi hari, formula produk akan sulit masuk ke dalam pori-pori karena terhalang oleh cairan keringat.

Solusi Praktis Mengatasi Bau Badan Membandel

Untuk mendapatkan hasil optimal, para ahli menyarankan beberapa langkah korektif:

  • Pilih Produk yang Tepat: Jika masalah utama Anda adalah ketiak basah, gunakan antiperspiran. Jika masalahnya hanya bau tanpa keringat berlebih, deodoran sudah cukup. Namun, kini banyak produk hybrid yang menggabungkan keduanya.
  • Eksfoliasi Area Ketiak: Lakukan eksfoliasi ringan satu hingga dua kali seminggu menggunakan scrub atau toner yang mengandung AHA/BHA untuk mengangkat sel kulit mati dan sisa produk yang menumpuk.
  • Perhatikan Material Pakaian: Gunakan bahan alami seperti katun atau linen yang memiliki sirkulasi udara baik. Bahan sintetis seperti poliester cenderung memerangkap keringat dan bakteri lebih lama.
  • Konsultasi Medis: Jika bau badan muncul secara mendadak dengan aroma yang sangat berbeda (misalnya aroma manis seperti buah atau aroma sangat amis), segera konsultasikan ke dokter. Hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah metabolik atau gangguan fungsi organ seperti hati atau ginjal.

Memahami perbedaan antara deodoran dan antiperspiran adalah kunci utama dalam menjaga higienitas personal. Bau badan yang tetap muncul bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sinyal dari tubuh bahwa ada aspek kebersihan atau gaya hidup yang perlu disesuaikan. Dengan perawatan yang tepat dan pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan biologis, kesegaran tubuh dapat terjaga sepanjang hari.