Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Bukan Perasaanmu Saja, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Gorengan Terasa 10x Lebih Nikmat saat Buka!

Luluk - Saturday, 28 February 2026 | 06:00 PM

Background
Bukan Perasaanmu Saja, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Gorengan Terasa 10x Lebih Nikmat saat Buka!
Risol Matcha (LifestyleRRI /)

Pemandangan antrean panjang di depan gerobak gorengan menjelang azan Magrib adalah tradisi yang tak terpisahkan dari Ramadan di Indonesia. Meski kita tahu ada pilihan yang lebih sehat seperti buah-buahan, hati dan lidah sering kali sulit berpaling dari kilauan minyak dan aroma gurih bakwan atau risoles. Fenomena ini bukan sekadar soal selera, melainkan hasil dari kerja keras otak, metabolisme tubuh, dan desain evolusi manusia yang bereaksi terhadap kondisi lapar yang ekstrem. Secara psikologis dan biologis, gorengan adalah "paket lengkap" yang dirancang untuk memuaskan rasa lapar dengan instan.

Alasan utamanya berkaitan dengan Psikologi Cravings dan Densitas Energi. Saat berpuasa lebih dari 12 jam, kadar glukosa dalam darah menurun drastis. Otak kita, yang sangat haus energi, akan mengirimkan sinyal kuat untuk mencari makanan dengan kalori padat. Gorengan, yang kaya akan karbohidrat (tepung) dan lemak (minyak), menawarkan densitas energi tertinggi per suapannya. Secara bawah sadar, otak menganggap gorengan sebagai "hadiah" paling efisien untuk memulihkan energi yang hilang dengan cepat. Inilah yang membuat aromanya terasa 10 kali lebih harum saat perut sedang kosong.

Selanjutnya adalah keajaiban Tekstur Crunchy (Renyah). Secara evolusioner, telinga dan mulut kita sangat menyukai suara makanan yang renyah. Suara "kriuk" saat menggigit gorengan mengirimkan sinyal ke otak bahwa makanan tersebut segar dan kaya akan lemak nabati yang penting. Gesekan antara gigi dan permukaan tepung yang garing menciptakan stimulasi sensorik yang memicu pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan. Sensasi crunchy di luar dan lembut di dalam menciptakan kontras tekstur yang sangat memuaskan sistem saraf kita, sebuah fenomena yang dalam sains kuliner disebut sebagai dynamic contrast.

Jangan lupakan Reaksi Maillard. Ini adalah reaksi kimia antara asam amino dan gula yang terjadi saat makanan dipanaskan (digoreng). Reaksi ini menciptakan ratusan senyawa aroma baru dan warna cokelat keemasan yang menggoda. Bau gurih yang khas dari reaksi Maillard ini mampu menembus indra penciuman kita dengan sangat tajam saat berpuasa, memicu produksi air liur (saliva) bahkan sebelum kita menyentuh makanannya.

Terakhir, ada faktor Nostalgia dan Budaya. Sejak kecil, momen berbuka puasa di Indonesia identik dengan kebersamaan dan gorengan sebagai takjil utama. Ikatan emosional ini membuat konsumsi gorengan bukan sekadar urusan perut, tapi juga pemenuhan rasa nyaman (comfort food). Memakan gorengan saat berbuka terasa seperti "ritual kemenangan" yang melegakan.

Meskipun gorengan terasa sangat nikmat, penting untuk diingat bahwa mengonsumsinya secara berlebihan saat perut kosong bisa memicu naiknya asam lambung. Namun, memahami sains di baliknya membantu kita menghargai mengapa godaan sepiring gorengan terasa begitu magis di pengujung hari. Nikmatilah satu atau dua buah dengan bijak, karena bagaimanapun juga, kebahagiaan dari gigitan pertama bakwan yang renyah adalah salah satu kenikmatan Ramadan yang paling jujur.

Hingga saat ini, gorengan tetap menjadi "juara bertahan" di meja makan karena ia berhasil memuaskan tiga indra manusia sekaligus: mata (warna keemasan), hidung (aroma Maillard), dan telinga (suara renyah).