BMKG Peringatkan Gelombang Hingga 2,5 Meter di Sulut, Nelayan Diminta Waspada
Admin WGM - Tuesday, 14 April 2026 | 08:00 PM


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Sulawesi Utara. Dalam laporan terbarunya, tinggi gelombang diperkirakan mencapai hingga 2,5 meter dan berpotensi terjadi hingga 17 April 2026.
Peringatan ini menjadi perhatian penting bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan pelaku transportasi laut yang beraktivitas di wilayah tersebut. BMKG menegaskan bahwa kondisi gelombang tersebut masuk dalam kategori sedang hingga mendekati tinggi, yang berisiko terhadap keselamatan pelayaran.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Maritim Bitung, Ricky D Aror, menjelaskan bahwa peningkatan tinggi gelombang ini dipengaruhi oleh pola angin di wilayah perairan Sulawesi Utara. Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 15 knot.
Kondisi angin tersebut dinilai cukup signifikan dalam memicu terbentuknya gelombang laut yang lebih tinggi dari biasanya. Terutama di wilayah perairan terbuka, kecepatan angin yang meningkat dapat memperbesar tinggi gelombang secara cepat.
BMKG memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak gelombang tinggi ini. Di antaranya adalah perairan selatan Sulawesi Utara, perairan timur Kabupaten Minahasa Utara, hingga wilayah perairan Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro). Selain itu, perairan utara Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, serta Laut Maluku juga termasuk dalam area yang perlu diwaspadai.
Secara umum, tinggi gelombang di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Dalam klasifikasi BMKG, kondisi ini termasuk kategori gelombang sedang, namun tetap berisiko bagi aktivitas pelayaran tertentu, terutama kapal kecil.
BMKG juga memberikan imbauan khusus bagi berbagai jenis kapal. Perahu nelayan diingatkan untuk lebih berhati-hati ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang perlu waspada pada kondisi angin di atas 16 knot dan gelombang lebih dari 1,5 meter.
Untuk kapal feri, kewaspadaan ekstra diperlukan apabila kecepatan angin mencapai lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang menyentuh angka 2,5 meter. Kondisi tersebut dinilai cukup berbahaya dan berpotensi mengganggu stabilitas kapal.
BMKG juga memastikan bahwa meskipun terdapat fenomena cuaca lain seperti badai tropis di wilayah utara Papua, kondisi tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap cuaca di Sulawesi Utara. Faktor utama peningkatan gelombang tetap berasal dari pola angin lokal di wilayah perairan tersebut.
Peringatan dini ini menjadi bagian dari upaya mitigasi risiko yang dilakukan BMKG untuk mengurangi potensi kecelakaan di laut. Dengan informasi yang disampaikan secara berkala, diharapkan masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif sebelum melakukan aktivitas di perairan.
Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi. Perubahan kondisi cuaca di laut dapat terjadi dengan cepat, sehingga informasi terbaru sangat penting untuk keselamatan.
Fenomena gelombang tinggi seperti ini bukan hal baru di wilayah Indonesia, terutama di daerah dengan karakteristik perairan terbuka seperti Sulawesi Utara. Namun, tingkat risiko tetap harus diperhatikan, terutama bagi aktivitas ekonomi yang bergantung pada laut.
Di sisi lain, peringatan ini juga menjadi pengingat pentingnya kesiapan infrastruktur dan sistem keselamatan pelayaran. Kapal yang beroperasi di wilayah rawan gelombang tinggi perlu memastikan kondisi teknis yang optimal serta mematuhi standar keselamatan yang berlaku.
Bagi nelayan, kondisi ini bisa berdampak langsung pada aktivitas melaut. Gelombang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga dapat memengaruhi hasil tangkapan karena keterbatasan waktu dan area operasi.
Dengan adanya peringatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan, termasuk menunda aktivitas melaut jika kondisi tidak memungkinkan.
Ke depan, peran informasi cuaca yang akurat dan cepat menjadi semakin penting, terutama di tengah perubahan iklim yang membuat pola cuaca semakin tidak menentu.
BMKG menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap peringatan dini menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang dapat terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem di laut.
Next News

Mandiri Energi dengan PLTS Atap: Apakah Biaya Pemasangannya Sebanding dengan Hasilnya?
21 hours ago

Rayakan Hari Kemerdekaan Energi Lewat Kebiasaan Smart Energy di Rumah
a day ago

Mengenal Hari Kemerdekaan Energi Sedunia: Mengapa Bumi Butuh Transisi Energi?
a day ago

Dampak Besar Satelit Palapa Terhadap Modernisasi Komunikasi di Era 70-an
2 days ago

Menolak Putus Sambungan: Transformasi Generasi Satelit Indonesia dari Masa ke Masa
2 days ago

Jarang Diketahui, Ini Fakta Unik Sejarah Satelit Palapa yang Bikin Bangga
2 days ago

Kisah di Balik Hari Satelit Palapa: Saat Indonesia Mengguncang Dunia di Ruang Angkasa
2 days ago

Cara Mengurangi Food Waste (Sampah Makanan) Demi Menghemat Dompet dan Menjaga Bumi
4 days ago

Bom Waktu di Tumpukan Sampah: Mengapa Gas Metana di TPA Bisa Memicu Ledakan Dahsyat?
4 days ago

Bisa Baca Buku Gratis! Rekomendasi Aplikasi Perpustakaan Digital Resmi di Indonesia
4 days ago





