Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Bedah Sejarah Jalan Raya Surabaya: Rahasia Lebar Jalan yang Terencana Sejak Ratusan Tahun Lalu

Admin WGM - Saturday, 18 April 2026 | 04:30 PM

Background
Bedah Sejarah Jalan Raya Surabaya: Rahasia Lebar Jalan yang Terencana Sejak Ratusan Tahun Lalu
Tata letak Kota Surabaya (Suara Surabaya /)

Surabaya sering kali dipuji oleh para ahli tata kota karena memiliki sistem jalan raya yang lebar, rapi, dan didominasi oleh jalan kembar (dua jalur dengan pembatas median). Pemandangan ini sangat kontras dengan banyak kota tua lain di Indonesia yang cenderung memiliki jalanan sempit dan berliku.

Keberadaan jalan kembar di Surabaya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan matang yang telah dimulai sejak awal abad ke-20 oleh pemerintah kolonial Belanda dan diteruskan dengan visi modern oleh pemerintah kota.

1. Warisan Konsep "Indische Stad" dan Peran Ir. Karsten

Pada awal 1900-an, Surabaya mengalami ledakan penduduk dan aktivitas ekonomi sebagai kota pelabuhan utama. Untuk mengantisipasi kemacetan, arsitek dan perencana kota ternama, Thomas Karsten, memperkenalkan konsep tata kota modern yang mengadaptasi gaya Eropa ke iklim tropis.

  • Pemisahan Arus (Boulevard): Jalan utama seperti Jalan Raya Darmo, Jalan Tunjungan, dan Jalan Diponegoro dirancang sebagai boulevard. Konsep ini memisahkan jalur berangkat dan jalur pulang dengan taman atau median di tengahnya.
  • Logika Aerodinamis dan Estetika: Selain untuk lalu lintas, jalan kembar dengan median pohon berfungsi sebagai koridor angin (wind corridor) untuk mengurangi hawa panas kota Surabaya dan memberikan ruang hijau di tengah beton.

2. Analisis Logika Logistik: Gerbang Menuju Pelabuhan

Secara fungsional, Surabaya adalah kota linier yang memanjang dari Utara (Pelabuhan) ke Selatan (Pedalaman). Karena arus logistik dari Pelabuhan Tanjung Perak sangat besar, jalan-jalan utama harus mampu menampung truk besar tanpa mengganggu kendaraan pribadi.

  • Manajemen Konflik Arus: Dengan adanya jalan kembar, risiko kecelakaan akibat tabrakan adu banteng (head-on collision) dapat ditekan hingga nol. Pemisahan jalur ini memungkinkan kendaraan bergerak dengan kecepatan konstan, yang sangat krusial bagi efisiensi distribusi barang dari pelabuhan ke pabrik-pabrik di pinggiran kota.

3. Strategi "Frontage Road": Pengembangan Modern Surabaya

Visi jalan lebar ini diteruskan secara ambisius pada era modern, terutama dengan pembangunan Frontage Road di sepanjang Jalan Ahmad Yani.

  • Pemisahan Lajur Cepat dan Lambat: Surabaya menerapkan sistem jalan kembar yang lebih kompleks dengan memisahkan lajur cepat (tengah) dan lajur lambat (pinggir). Strategi ini bertujuan agar kendaraan yang ingin berbelok atau berhenti (angkut penumpang/parkir) tidak menghambat kendaraan yang melaju lurus ke arah pusat kota.
  • Kapasitas Tampung (Road Capacity): Dengan menambah lajur secara lateral (menyamping), Surabaya berhasil meningkatkan indeks kapasitas jalan jauh sebelum kemacetan mencapai titik jenuh.

4. Median Jalan sebagai Tabungan Infrastruktur

Salah satu alasan mengapa Surabaya mudah melebarkan jalan adalah keberadaan median jalan yang luas di masa lalu.

  • Lahan Cadangan: Perencana kota zaman dulu menyisakan lahan luas di tengah jalan (sering kali dulunya adalah jalur trem). Ketika volume kendaraan meningkat, pemerintah kota tinggal mengeruk sebagian median untuk menambah lajur jalan tanpa harus melakukan penggusuran bangunan warga yang mahal dan rumit.

Kesimpulan

Banyaknya jalan kembar di Surabaya adalah bukti bahwa perencanaan jangka panjang (long-term planning) mengalahkan solusi jangka pendek. Dengan memisahkan arus sejak dini melalui konsep boulevard dan frontage road, Surabaya berhasil menciptakan kerangka kota yang tangguh terhadap kemacetan, sekaligus mempertahankan ruang hijau di tengah kepadatan aktivitas metropolis.