Sabtu, 2 Mei 2026
Walisongo Global Media
Economy

Tol Terpanjang RI Minim Investor, Proyek Getaci Terkendala Proyeksi Trafik Rendah

Admin WGM - Sunday, 12 April 2026 | 01:30 PM

Background
Tol Terpanjang RI Minim Investor, Proyek Getaci Terkendala Proyeksi Trafik Rendah
(RRI.co.id/)

Proyek jalan tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) yang digadang-gadang menjadi tol terpanjang di Indonesia hingga kini masih menghadapi kendala serius. Minimnya minat investor menjadi faktor utama yang membuat proyek ini belum juga terealisasi, meski telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2020.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa rendahnya ketertarikan investor terhadap proyek tersebut disebabkan oleh proyeksi lalu lintas (traffic) yang dinilai kurang menjanjikan. Dalam proyek infrastruktur jalan tol, tingkat penggunaan jalan menjadi indikator penting dalam menentukan potensi keuntungan investasi. Ketika proyeksi trafik rendah, maka potensi pengembalian modal juga ikut tergerus.

Tol Getaci sendiri direncanakan memiliki panjang mencapai 206,65 kilometer, membentang dari wilayah Gedebage di Bandung hingga Cilacap di Jawa Tengah. Dengan panjang tersebut, proyek ini akan melampaui sejumlah ruas tol lain dan menjadi yang terpanjang di Indonesia. Namun, skala besar proyek ini justru menjadi tantangan tersendiri, terutama dari sisi pembiayaan dan kelayakan bisnis.

Menurut Dody, dalam kondisi normal, pemerintah dapat memberikan dukungan konstruksi atau "chip in" untuk meningkatkan daya tarik proyek di mata investor. Skema ini biasanya dilakukan ketika proyek memiliki nilai strategis, tetapi kurang menarik secara komersial. Sayangnya, keterbatasan anggaran negara saat ini membuat opsi tersebut sulit dilakukan.

Alih-alih memaksakan dukungan pada proyek yang belum menjanjikan secara finansial, pemerintah memilih mengalihkan fokus ke proyek infrastruktur lain yang dinilai lebih mendesak. Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurey yang ditargetkan dapat mengurangi risiko banjir di wilayah Karawang, Bekasi, dan sekitarnya. Kedua proyek tersebut diprioritaskan dengan target penyelesaian bertahap pada 2027 hingga 2028.

Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam kebijakan pembangunan infrastruktur. Pemerintah kini lebih selektif dalam menentukan prioritas proyek, dengan mempertimbangkan dampak langsung terhadap masyarakat serta efisiensi penggunaan anggaran.

Selain faktor trafik dan anggaran, proyek Tol Getaci juga menghadapi tantangan dari sisi nilai investasi yang besar. Pada perencanaan sebelumnya, proyek ini diperkirakan membutuhkan dana hingga puluhan triliun rupiah. Nilai investasi yang tinggi tentu meningkatkan risiko bagi investor, terutama jika tidak diimbangi dengan proyeksi pendapatan yang kuat.

Catatan sebelumnya menunjukkan bahwa proyek ini telah beberapa kali mengalami kegagalan lelang. Bahkan, hingga kini belum ada investor yang benar-benar berkomitmen untuk menggarap proyek tersebut. Hal ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pada skema pembiayaan, tetapi juga pada daya tarik fundamental proyek itu sendiri.

Fenomena serupa juga terjadi pada proyek tol lain, seperti Tol Gilimanuk–Mengwi di Bali. Proyek sepanjang 96,84 kilometer tersebut juga mengalami kendala serupa, yakni minimnya minat investor dan kegagalan lelang berulang kali. Kedua proyek ini kini masih dalam tahap peninjauan ulang oleh pemerintah sebelum kembali ditawarkan kepada investor.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini mencerminkan tantangan pembangunan infrastruktur berbasis investasi di Indonesia. Tidak semua proyek strategis memiliki daya tarik komersial yang cukup untuk menarik swasta. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara kepentingan publik dan kelayakan bisnis agar proyek dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ke depan, pemerintah kemungkinan akan melakukan penyesuaian terhadap desain proyek, skema pembiayaan, maupun pembagian risiko agar lebih menarik bagi investor. Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah pembangunan bertahap atau pemecahan proyek menjadi beberapa segmen yang lebih kecil dan feasible secara ekonomi.

Meski menghadapi berbagai tantangan, proyek Tol Getaci tetap memiliki potensi strategis dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah, khususnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan. Jika terealisasi, tol ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta mempercepat distribusi barang dan mobilitas masyarakat.

Namun untuk saat ini, realisasi proyek tersebut masih bergantung pada satu hal utama: bagaimana membuatnya kembali menarik di mata investor. Tanpa itu, statusnya sebagai tol terpanjang di Indonesia kemungkinan akan tetap menjadi rencana di atas kertas.