Kendaraan Listrik RI Tumbuh 140%, Target Produksi Massal Dikebut 2028
Admin WGM - Friday, 24 April 2026 | 12:30 PM


Industri kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah bahkan semakin serius mendorong sektor ini sebagai bagian dari transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) mencapai lebih dari 140 persen dalam lima tahun terakhir.
Angka ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya berkembang, tetapi juga melaju dengan sangat cepat dibandingkan banyak sektor industri lainnya.
Pertumbuhan ini juga tercermin dari peningkatan pangsa pasar. Pada tahun 2025, kendaraan listrik sudah menguasai sekitar 21,71 persen pasar otomotif nasional. Angka tersebut terdiri dari kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV), hybrid (HEV), hingga plug-in hybrid (PHEV).
Tidak hanya dari sisi pasar, kontribusi produksi kendaraan listrik terhadap total produksi nasional juga terus meningkat. Pada 2025, kontribusinya sudah mencapai lebih dari 11 persen dan diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Melihat tren positif ini, pemerintah menargetkan langkah yang lebih besar, yaitu memulai produksi massal mobil listrik nasional pada tahun 2028. Target ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat industri otomotif dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Langkah ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Kendaraan listrik dianggap sebagai salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon dan menciptakan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah tidak hanya fokus pada produksi kendaraan, tetapi juga membangun ekosistem industri secara menyeluruh. Salah satu kekuatan utama Indonesia terletak pada rantai pasok baterai yang sudah terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku seperti nikel, produksi sel baterai, hingga proses daur ulang.
Keunggulan ini menjadi nilai strategis yang membuat Indonesia semakin dilirik sebagai pusat produksi kendaraan listrik di kawasan.
Selain itu, pemerintah juga berperan sebagai early adopter dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik produksi dalam negeri di lingkungan instansi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan permintaan pasar yang lebih kuat sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat.
Dukungan terhadap industri ini juga datang dari berbagai pelaku global dan nasional. Sejumlah perusahaan otomotif telah berinvestasi dan membangun fasilitas produksi di Indonesia, seperti Hyundai Motor Manufacturing Indonesia dan SGMW Motor Indonesia. Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai basis produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan pembentukan perusahaan khusus untuk memproduksi mobil listrik nasional. Langkah ini diharapkan mampu memperluas pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Meski pertumbuhannya menjanjikan, tantangan tetap ada. Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi, infrastruktur pengisian daya yang belum merata, serta edukasi masyarakat menjadi faktor yang perlu terus diperhatikan.
Namun, dengan dukungan kebijakan yang konsisten, investasi yang terus mengalir, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, optimisme terhadap masa depan industri kendaraan listrik Indonesia tetap tinggi.
Pada akhirnya, lonjakan pertumbuhan hingga 140 persen ini bukan sekadar angka, tetapi sinyal bahwa Indonesia sedang memasuki fase penting dalam transformasi industri otomotif.
Jika target produksi massal 2028 berhasil tercapai, Indonesia bukan hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam industri kendaraan listrik global sekaligus membuka jalan menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.
Next News

Nilai Buyback Tertekan, Emas Antam Anjlok di Perdagangan Senin 20 April
6 days ago

Ekonomi April 2026: BBM dan Listrik Tetap, OJK Perketat Riwayat Kredit via SLIK
6 days ago

BNI Raih AS$700 Juta dari Pasar Global, Modal Makin Kokoh Siap Ekspansi
7 days ago

Plafon Hingga Rp350 Juta! Simak Daftar Angsuran KUR BRI, Mandiri, dan BNI April 2026
7 days ago

Pertama di Indonesia! Pabrik Truk Listrik Rp10 T Segera Beroperasi di Cilegon
9 days ago

Pertamax Turbo Melesat ke Rp19.400, Pemerintah Pastikan Pertalite Aman Hingga 2026
9 days ago

Resmi Ganti Nama, Alamtri Resources (ADRO) Langsung Guyur Investor Dividen Yield 10%
9 days ago

Prabowo Subianto Tunjuk Airlangga Hartarto Pimpin Satgas Percepatan Ekonomi
10 days ago

Konser Musik Kian Marak, Dorong UMKM hingga Ekonomi Daerah
10 days ago

Bisnis Kuliner Jerome Polin Terpuruk: Menantea Tutup Permanen hingga Dugaan Penipuan Rp3,8 Miliar
14 days ago





