Minggu, 19 April 2026
Walisongo Global Media
Economy

Bisnis Kuliner Jerome Polin Terpuruk: Menantea Tutup Permanen hingga Dugaan Penipuan Rp3,8 Miliar

Admin WGM - Tuesday, 14 April 2026 | 10:00 AM

Background
Bisnis Kuliner Jerome Polin Terpuruk: Menantea Tutup Permanen hingga Dugaan Penipuan Rp3,8 Miliar
Jerome Polin dan Jehian Panangian (Kompas.com /)

Industri kuliner tanah air dikejutkan dengan kabar tutupnya salah satu jenama minuman populer, Menantea, milik pembuat konten edukasi Jerome Polin. Bisnis yang sempat merajai pasar minuman teh kontemporer tersebut dinyatakan akan berhenti beroperasi secara permanen terhitung mulai 25 April 2026. Di tengah kabar penutupan tersebut, Jerome Polin juga mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kerugian miliaran rupiah akibat dugaan manipulasi laporan keuangan oleh oknum internal.

Kabar ini menjadi kontras di tengah geliat bisnis boga nasional, terutama setelah restoran August asal Jakarta baru saja menorehkan prestasi dengan masuk dalam daftar Top 50 Asia's Best Restaurants.

Setelah sempat melakukan ekspansi besar-besaran dengan ratusan gerai di seluruh Indonesia, manajemen Menantea akhirnya mengambil keputusan pahit untuk mengakhiri operasional mereka. Melalui pernyataan resmi di kanal media sosial dan rilis ekonomi, penghentian layanan secara total akan dilakukan pada akhir April mendatang.

Penutupan ini diduga dipicu oleh penurunan tren pasar minuman manis pascapandemi serta kendala operasional yang kian membebani manajemen pusat maupun para mitra franchise. "Kami menyampaikan permohonan maaf dan apresiasi sebesar-besarnya kepada para mitra dan pelanggan setia. Keputusan ini diambil demi kebaikan bersama setelah melalui evaluasi mendalam," tulis pernyataan resmi manajemen Menantea, Senin (13/4/2026).

Di balik kolapsnya bisnis tersebut, Jerome Polin mengonfirmasi adanya tindak pidana yang menyasar perusahaannya. Jerome mengaku telah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh oknum yang memiliki akses terhadap manajerial keuangan. Pelaku diduga melakukan manipulasi laporan keuangan secara sistematis dalam jangka waktu tertentu.

Akibat tindakan tersebut, dana perusahaan senilai Rp3,8 miliar dilaporkan lenyap. Jerome menjelaskan bahwa ia baru menyadari ketidakkonsistenan data keuangan setelah dilakukan audit internal secara menyeluruh. Kasus ini kini tengah ditangani oleh pihak berwajib untuk menelusuri aliran dana dan mempertanggungjawabkan perbuatan pelaku secara hukum.

"Saya pribadi merasa sangat terpukul. Ini adalah pelajaran yang sangat mahal dalam dunia bisnis. Kami sedang mengupayakan jalur hukum agar keadilan dapat ditegakkan," ungkap Jerome dalam sesi bincang-bincang yang dikutip oleh media nasional.

Meski sektor minuman kekinian tengah menghadapi tantangan, kabar membanggakan datang dari sektor fine dining. Restoran August yang berlokasi di Jakarta sukses mengukir prestasi internasional dengan masuk dalam daftar 50 Restoran Terbaik di Asia (Asia's 50 Best Restaurants).

Keberhasilan August menunjukkan bahwa meski bisnis kuliner massal sedang mengalami fluktuasi, sektor kuliner yang mengedepankan kualitas narasi, teknik memasak tinggi, dan pengalaman personal masih memiliki pangsa pasar yang kuat di kancah global. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi pelaku industri boga lainnya untuk terus berinovasi di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Kasus yang menimpa Jerome Polin dan Menantea menjadi sinyal bagi para pengusaha muda mengenai pentingnya sistem kontrol internal yang kuat. Ketergantungan pada popularitas figur publik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan integritas manajerial dan pengawasan keuangan yang ketat.

Saat ini, para mitra Menantea dikabarkan tengah menunggu skema penyelesaian hak dan kewajiban pascapenutupan permanen. Di sisi lain, proses hukum terhadap dugaan penipuan Rp3,8 miliar tersebut terus bergulir di kepolisian, menjadi peringatan bagi pelaku industri kreatif agar lebih waspada terhadap potensi kejahatan kerah putih dalam pengelolaan bisnis mereka.