Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Tetap Tenang dan Elegan! Ini Cara Menghadapi Pertanyaan Sensitif dari Kerabat saat Momen Buka Puasa Bersama

Admin WGM - Monday, 23 February 2026 | 09:35 AM

Background
Tetap Tenang dan Elegan! Ini Cara Menghadapi Pertanyaan Sensitif dari Kerabat saat Momen Buka Puasa Bersama
Silahturahmi saat lebaran (Untar/)

Momen buka puasa bersama atau bukber sering kali menjadi ajang reuni sekaligus silaturahmi bagi keluarga besar maupun kerabat lama. Namun, bagi sebagian orang, acara ini bisa menjadi momok yang cukup menegangkan akibat munculnya pertanyaan-pertanyaan yang bersifat personal. Mulai dari urusan asmara, karier, hingga masalah momongan sering kali menjadi bahan obrolan yang dianggap "basa-basi" oleh kerabat, namun terasa sangat sensitif bagi yang menerima pertanyaan tersebut. Tanpa kesiapan mental dan strategi komunikasi yang baik, momen yang seharusnya hangat bisa berubah menjadi situasi yang canggung atau bahkan memicu konflik emosional.

Menghadapi pertanyaan sensitif memerlukan keseimbangan antara ketegasan dalam menjaga batasan pribadi dan kesantunan dalam menjaga hubungan kekeluargaan. Masyarakat perlu menyadari bahwa tidak semua orang memiliki niat buruk saat bertanya, namun tidak berarti kita harus menjawab semua hal secara mendalam. Kemampuan mengelola reaksi emosional menjadi kunci utama agar suasana berbuka tetap kondusif dan menyenangkan bagi semua pihak.

Komunikasi dalam Budaya "Basa-Basi" Indonesia

Fenomena pertanyaan kepo di tengah masyarakat Indonesia sering kali berakar dari budaya kolektif yang menganggap urusan pribadi sebagai bagian dari kepedulian sosial. Namun, terdapat anomali di mana maksud baik untuk mempererat hubungan justru sering kali melanggar privasi individu. Perbedaan perspektif antar generasi menjadi pemicu utama di mana generasi yang lebih tua menganggap pertanyaan tersebut sebagai bentuk perhatian, sementara generasi muda melihatnya sebagai sebuah tekanan atau penghakiman.

Respons emosional yang meledak atau sikap defensif yang berlebihan sering kali justru memperpanjang durasi obrolan yang tidak nyaman tersebut. Sebaliknya, sikap yang terlalu tertutup juga dapat menciptakan jarak sosial yang membuat hubungan menjadi dingin. Oleh karena itu, diperlukan teknik komunikasi asertif yang memungkinkan seseorang untuk menjawab tanpa harus merasa terintimidasi oleh situasi lingkungan.

Daftar Strategi Menghadapi Pertanyaan Sensitif dengan Cerdas

Agar momen kumpul bersama tetap berjalan lancar tanpa ada rasa sakit hati, berikut adalah beberapa strategi taktis yang bisa Anda terapkan:

  1. Siapkan Jawaban Standar yang Singkat dan Padat Jangan menunggu pertanyaan datang untuk kemudian bingung mencari jawaban di tempat. Siapkan satu atau dua kalimat jawaban yang bersifat umum dan tidak mengundang pertanyaan lanjutan. Misalnya, untuk pertanyaan "Kapan nikah?", Anda bisa menjawab dengan senyuman sambil berkata, "Mohon doanya saja supaya diberikan waktu yang terbaik." Jawaban seperti ini menutup celah bagi orang lain untuk menggali informasi lebih dalam tanpa terlihat kasar.
  2. Gunakan Teknik Mengalihkan Topik (The Pivot) Setelah memberikan jawaban singkat, segera alihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih netral namun tetap menarik. Anda bisa bertanya balik mengenai kabar kesehatan mereka, hobi baru, atau menu makanan yang sedang disantap. Teknik ini sangat efektif untuk mengubah fokus pembicaraan dari diri Anda kembali ke arah lawan bicara yang biasanya lebih suka membicarakan pengalaman pribadi mereka sendiri.
  3. Berikan Respons Humor yang Sopan Humor adalah cara terbaik untuk mencairkan suasana yang tegang. Menjawab pertanyaan sensitif dengan candaan ringan menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang percaya diri dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Pastikan humor yang digunakan tetap dalam batas kesopanan dan tidak bernada sarkastik yang dapat menyinggung perasaan kerabat yang lebih tua.
  4. Tetapkan Batasan Pribadi dengan Lembut namun Tegas Jika pertanyaan sudah mulai masuk ke ranah yang sangat pribadi atau membuat Anda benar-benar tidak nyaman, jangan ragu untuk menetapkan batasan. Anda bisa berkata, "Sepertinya topik ini terlalu serius untuk dibahas saat sedang makan enak seperti sekarang, bagaimana kalau kita bahas yang lain saja?" Kalimat ini secara halus memberi tahu lawan bicara bahwa Anda tidak bersedia mendiskusikan hal tersebut tanpa harus menciptakan suasana permusuhan.
  5. Pahami Motif Penanya dan Jangan Dimasukkan ke Hati Sering kali kerabat bertanya karena mereka memang tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Menganggap pertanyaan mereka sebagai bentuk ketidaktahuan daripada serangan pribadi akan membantu Anda tetap tenang secara psikologis. Dengan tidak memasukkan pertanyaan tersebut ke dalam hati, Anda bisa tetap menikmati hidangan buka puasa tanpa merasa terbebani oleh ekspektasi orang lain.

Menjaga Kesehatan Mental Pasca Acara Kumpul Bersama

Sangat penting untuk melakukan refleksi diri setelah acara bukber berakhir untuk melepaskan sisa-sisa energi negatif yang mungkin terserap. Jika Anda merasa sangat lelah secara mental, berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat atau melakukan hobi yang menyenangkan. Menyadari bahwa pencapaian hidup seseorang tidak ditentukan oleh kecepatan menjawab pertanyaan kerabat akan membantu Anda tetap fokus pada tujuan pribadi.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki lini masa hidup yang berbeda-beda dan tidak ada kewajiban bagi Anda untuk menyenangkan semua orang dengan jawaban yang mereka inginkan. Kehadiran Anda dalam acara buka bersama adalah untuk berbagi kebahagiaan dan silaturahmi, bukan untuk mengikuti ujian wawancara hidup.

Menghadapi pertanyaan sensitif saat kumpul buka bersama adalah bagian dari seni berkomunikasi dalam kehidupan bersosial. Dengan persiapan yang matang dan sikap yang dewasa, Anda bisa melewati momen tersebut tanpa harus merasa kehilangan martabat atau merusak hubungan kekeluargaan. Fokuslah pada aspek positif dari pertemuan tersebut dan jangan biarkan beberapa pertanyaan "ajaib" merusak kekhusyukan ibadah Ramadan Anda. Mari jadikan setiap pertemuan sebagai sarana untuk saling menghargai batasan satu sama lain demi terciptanya lingkungan sosial yang lebih sehat dan suportif.