Sejarah "Ngabuburit" Sportif: Evolusi Olahraga Sore di Indonesia
Admin WGM - Sunday, 22 February 2026 | 04:31 PM


Matahari mulai condong ke barat, sinarnya yang jingga menerpa wajah-wajah yang penuh peluh namun tetap bersemangat. Di lapangan-lapangan desa hingga pusat kebugaran di gedung pencakar langit, kerumunan orang mulai memadati area. Mereka bukan sedang mengantre takjil gorengan, melainkan sedang melakukan ritual "ngabuburit" yang berbeda: berolahraga.
Istilah ngabuburit yang berasal dari bahasa Sunda, ngalantung ngadagoan burit (bersantai menunggu waktu sore), kini telah mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Jika dahulu aktivitas ini identik dengan duduk santai atau berjalan-jalan tanpa tujuan, kini "ngabuburit sportif" telah menjadi gaya hidup baru yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia.
Era Tradisional: Sepak Bola Kampung dan Lari Sore
Mundur ke era 1980-an hingga 1990-an, olahraga sore saat Ramadan adalah milik anak-anak dan remaja di perkampungan. Instrumennya sederhana: bola plastik atau bola kasti. Lapangan semen atau lahan kosong yang berdebu menjadi saksi bisu pertandingan "liga antar-RT" yang digelar menjelang berbuka.
Aturannya tidak kaku. Siapa yang mencetak gol terakhir sebelum azan Magrib berkumandang, dialah pemenangnya. Olahraga pada masa itu adalah cara untuk mengalihkan rasa lapar dan dahaga melalui permainan kolektif. Belum ada istilah calories burned atau pelacak detak jantung digital. Yang ada hanyalah kegembiraan saat berhasil mengejar bola sebelum bedug ditabuh.
Evolusi 2000-an: Demam Sepeda dan Futsal Malam
Memasuki milenium baru, jenis olahraga saat ngabuburit mulai beragam. Fenomena "Gowes" atau bersepeda santai mulai menjamur. Sepeda jengki hingga sepeda gunung (MTB) memenuhi jalanan protokol di sore hari. Bersepeda dianggap sebagai olahraga yang paling "aman" bagi orang yang berpuasa karena intensitasnya bisa diatur sesuai kemampuan fisik yang sedang menurun.
Di sisi lain, industri futsal mulai meledak. Banyak penyewaan lapangan futsal yang justru penuh pada jam-jam menjelang berbuka. Menariknya, olahraga ini menjadi ajang reuni tipis-tipis. Kalimat "Sambil nunggu buka, futsal dulu yuk!" menjadi ajakan paling lazim di grup-grup pesan singkat. Pergeseran ini menunjukkan bahwa ngabuburit sportif mulai menjadi instrumen bersosialisasi yang lebih terorganisasi.
Era Digital: Calisthenics dan Komunitas Urban
Dalam satu dekade terakhir, wajah ngabuburit sportif kembali bersalin rupa. Kini, taman-taman kota seperti Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta atau Lapangan Gasibu di Bandung tidak hanya dipenuhi pelari, tetapi juga penggiat calisthenics dan komunitas street workout.
Munculnya kesadaran akan kesehatan melalui media sosial membuat anak muda tidak lagi takut "lemas" saat berolahraga di kondisi puasa. Mereka justru memanfaatkan jendela waktu sebelum berbuka untuk membakar lemak lebih efisien (kondisi fasted cardio). Olahraga bukan lagi sekadar iseng, melainkan bagian dari kedisiplinan diri yang dipamerkan secara estetik di unggahan Instagram atau TikTok.
Ekonomi di Balik Keringat Sore
Evolusi ini tentu membawa dampak ekonomi. Pusat kebugaran (gym) kini sering menawarkan paket "Ramadan Pass" dengan jam operasional khusus. Produsen pakaian olahraga lokal pun berlomba-lomba mengeluarkan koleksi khusus yang diklaim lebih sejuk dan nyaman digunakan saat berpuasa.
Bahkan, pedagang takjil yang cerdik mulai bergeser lokasinya ke dekat area olahraga. Hal ini menciptakan ekosistem unik: setelah berkeringat membakar kalori selama satu jam, para pelari langsung menyambar air kelapa muda atau buah potong yang tersedia di pinggir lapangan. Sebuah simbiosis mutualisme antara pola hidup sehat dan tradisi kuliner lokal.
Mengapa Sportif Lebih Digemari?
Mengapa masyarakat kini lebih memilih berkeringat daripada sekadar jalan-jalan santai? Ada faktor manajemen stres. Kehidupan kota yang padat membuat sore hari menjadi satu-satunya waktu luang untuk melepas penat pekerjaan. Berolahraga saat ngabuburit memberikan efek endorfin yang membuat momen berbuka terasa jauh lebih nikmat.
Selain itu, olahraga sore memberikan struktur waktu yang jelas. Rasa lapar yang biasanya memuncak pada jam 5 sore seolah "terlupakan" karena fokus berpindah pada gerakan fisik atau persaingan dalam permainan.
Kesimpulan: Keseimbangan Antara Jiwa dan Raga
Sejarah ngabuburit sportif di Indonesia menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang dinamis. Dari kentongan dan bola plastik di gang sempit, hingga jam pintar dan sepatu lari berteknologi tinggi di lintasan atletik, esensinya tetap sama: menunggu waktu berbuka dengan cara yang positif.
Ngabuburit kini bukan lagi tentang "membunuh waktu," melainkan tentang "menginvestasikan waktu." Dengan raga yang bugar dan jiwa yang tenang setelah berolahraga, ibadah Ramadan pun terasa lebih bermakna. Jadi, sore ini Anda pilih lari keliling kompleks atau cukup jalan santai sambil memburu penjual buah segar?
Next News

Langkah Kaki Sering Terlambat? Ini Trik Menguasai 6 Titik Langkah di Lapangan Badminton
6 days ago

Mengapa Lutut dan Pergelangan Kaki Sering Sakit Setelah Main Badminton? Ini Penyebabnya
6 days ago

Perbandingan Grip Handuk vs Grip Karet: Mana yang Paling Nyaman untuk Tangan Berkeringat?
6 days ago

Hasil Jerman vs Paraguay: Tumbang Adu Penalti, Der Panzer Tersingkir dari Piala Dunia 2026
11 days ago

Janice Tjen Ukir Sejarah di Wimbledon 2026, Singkirkan Unggulan 22 dan Lolos ke Babak Kedua
11 days ago

Aldila Sutjiadi Ukir Sejarah, Jadi Petenis Indonesia Pertama Juara Turnamen WTA 500
12 days ago

Resmi Tinggalkan Persib, Zalnando: Hati Saya Tetap Biru Selamanya
12 days ago

Timnas Voli Putra Indonesia Juara AVC Men's Volleyball Cup 2026, Taklukkan Korea Selatan 3-0
12 days ago

Hasil F1 GP Austria 2026: George Russell Juara, Verstappen Finis Kedua
12 days ago

Veda Ega Pratama Terjatuh di Moto3 Belanda 2026, Gagal Finis Saat Bersaing di Barisan Depan
13 days ago





