Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
Culture

Sejarah dan Keutamaan Membaca Kitab Simtuddurar dalam Perayaan Maulid Nabi

Admin WGM - Tuesday, 25 August 2026 | 02:00 PM

Background
Sejarah dan Keutamaan Membaca Kitab Simtuddurar dalam Perayaan Maulid Nabi
Sejarah kitab barzanji (NU Online Jabar /)

Sastra klasik Islam tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi keindahan bahasa, tetapi juga menjadi sarana preservasi sejarah dan penanaman rasa cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam peradaban Islam, tradisi membaca karya sastra kenabian—yang dikenal sebagai Madih Nabawi (pujian kenabian)—mencapai puncaknya saat perayaan Maulid Nabi.

Karya-karya ini memadukan keindahan bait puisi dengan ketelitian fakta sejarah (Sirah Nabawiyah), menjadikannya warisan literatur abadi (evergreen) yang terus dilantunkan dari generasi ke generasi.

Karya Sastra Klasik Maulid Paling Populer

Berikut adalah beberapa mahakarya literatur klasik yang menjadi bacaan utama masyarakat Muslim di seluruh dunia, khususnya di Nusantara:

1. Kitab Al-Barzanji (Iqd al-Jawahir)

Ditulis oleh Syekh Ja'far al-Barzanji (1690–1764 M), seorang mufti mazhab Syafi'i di Madinah. Kitab ini merupakan salah satu karya sastra Maulid yang paling luas penyebarannya di Indonesia.

  • Karakteristik & Isi: Ditulis dengan gaya bahasa prosa berirama (saja') yang sangat indah. Isinya merangkum silsilah keturunan Nabi, peristiwa kelahiran, masa kanak-kanak, pengangkatan menjadi Rasul, hingga akhlak dan kepribadian beliau.
  • Nilai Budaya: Pembacaan Al-Barzanji kerap diiringi alunan rebana dan menjadi bagian integral dari acara syukuran, akikah, serta tradisi lokal masyarakat Melayu dan Jawa.

2. Kitab Simtuddurar

Disusun oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (1839–1915 M) di Hadramaut, Yaman. Simtuddurar berarti "Untaian Mutiara", mengisyaratkan keindahan susunan kata di dalamnya.

  • Karakteristik & Isi: Kitab ini menekankan pada detail fisik, keanggunan budi pekerti, serta pancaran keagungan Nabi (Nur Muhammad). Gaya bahasanya penuh dengan emosi spiritual yang mendalam.
  • Dampak: Di Indonesia, pembacaan Simtuddurar sangat populer di lingkungan pesantren dan majelis taklim, terutama saat peringatan hari-hari besar Islam.

3. Qasidah Burdah

Mahakarya puisi karya Imam al-Busiri (1211–1294 M) dari Mesir. Burdah terdiri dari 160 bait puisi yang terbagi dalam sepuluh bab, meliput kisah hidup Nabi, mujizat, serta perjuangan dakwah beliau.

  • Karakteristik & Keutamaan: Burdah ditulis saat al-Busiri mengalami kelumpuhan dan mendapat kesembuhan setelah bermimpi diberi jubah (burdah) oleh Rasulullah. Keindahan ritme dan kedalaman ma'nanya menjadikan Burdah dipelajari tidak hanya di Dunia Arab, tetapi juga diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

4. Kitab Ad-Diba'i

Disusun oleh Imam Abdurrahman ad-Diba'i (1461–1537 M) dari Zabid, Yaman. Kitab ini terkenal dengan ritme bacaannya yang dinamis dan penuh semangat.

  • Karakteristik: Berisi perpaduan antara ayat Al-Qur'an, hadits, dan bait-bait syair pujian yang menggugah emosi pendengarnya untuk senantiasa meneladani sifat mulia Rasulullah.

Fungsi Edukasi dan Pelestarian Sejarah

Karya-karya sastra klasik ini memainkan peran ganda yang sangat vital dalam peradaban Islam:

  • Aspek Edukasi: Menjadi media pembelajaran sejarah (sirah) yang menyenangkan. Generasi muda dapat menghafal rincian kehidupan Nabi melalui nada dan lagu yang dilantunkan secara berjamaah.
  • Aspek Kebudayaan: Memperkaya khazanah seni tutur dan musik spiritual Islam melalui penggunaan instrumen tradisional seperti terbang atau rebana.

Melalui pembacaan karya-karya sastra klasik ini, sejarah tidak lagi terasa sebagai catatan kaku di dalam buku, melainkan menjadi pengalaman spiritual yang hidup dan terus menginspirasi Umat Islam sepanjang zaman.