Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
Culture

Mengapa Maulid Nabi Diperingati? Ini Sejarah dan Makna di Balik Peringatan Hari Lahir Rasulullah

Admin WGM - Monday, 24 August 2026 | 04:00 PM

Background
Mengapa Maulid Nabi Diperingati? Ini Sejarah dan Makna di Balik Peringatan Hari Lahir Rasulullah
Asal usul peringatan maulid nabi muhammad (Baznas /)

Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momentum sejarah yang kaya akan nilai spiritual, sosial, dan kebudayaan. Meskipun tidak dipraktikkan secara formal pada masa awal Islam, tradisi ini lahir sebagai bentuk manifestasi rasa cinta (mahabbah) umat Islam terhadap sosok Rasulullah yang membawa risalah kebenaran.

Awal Mula Sejarah Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi secara kolosal dan terorganisasi pertama kali tercatat dalam sejarah peradaban Islam pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir (abad ke-10 hingga 11 Masehi). Pada masa itu, peringatan diselenggarakan oleh kalangan istana dengan membagikan roti, permen, dan bersedekah kepada kaum miskin.

Namun, bentuk peringatan Maulid Nabi yang melibatkan partisipasi masyarakat luas secara kolosal dan meriah dirintis oleh Muzaffar al-Din Gökböri, penguasa wilayah Irbil (Irak utara) pada abad ke-12 Masehi, yang merupakan saudara ipar dari pahlawan perang Perang Salib, Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Raja Muzaffar mengundang para ulama, penyair, dan rakyat untuk berkumpul membaca ayat-ayat Al-Qur'an, menyimak lantunan syair pujian (seperti Sirah Nabawiyah), dan menyembelih ribuan hewan ternak untuk disantap bersama. Peringatan ini ditujukan untuk membakar semangat persatuan dan rasa cinta Umat Islam terhadap ajaran Nabi di tengah situasi politik yang penuh tantangan saat itu.

Hikmah di Balik Peringatan Maulid

Tradisi peringatan Maulid Nabi memiliki nilai dan hikmah mendalam bagi Umat Islam:

  • Menumbuhkan Rasa Cinta (Mahabbah): Mengingat perjuangan dan akhlak Rasulullah menyegarkan kembali komitmen Umat Islam untuk meneladani perilaku beliau (uswatun hasanah) dalam kehidupan sehari-hari.
  • Sarana Edukasi dan Syiar: Menjadi ruang untuk merefleksikan kembali perjalanan hidup (sirah) Nabi Muhammad SAW, sehingga generasi muda dapat mengenal sosok pimpinannya secara utuh.
  • Penguatan Tali Silaturahmi: Peringatan yang dilakukan secara berjamaah mempererat hubungan sosial sesama Muslim melalui tradisi berkumpul, berdoa bersama, dan makan bersama.
  • Pembersihan Jiwa melalui Sedekah: Tradisi pembagian makanan dan pemberian bantuan kepada kaum yang membutuhkan menjadi momentum berbagi kebahagiaan.

Perkembangan Tradisi Maulid di Indonesia

Penyebaran Islam di Nusantara oleh para ulama dan Wali Songo memanfaatkan pendekatan akulturasi budaya yang sangat halus. Tradisi Maulid Nabi diserap dan disesuaikan dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan esensi utamanya.

  • Tradisi Sekaten (Jawa): Dipelopori oleh Kesultanan Mataram dan Kesultanan Yogyakarta/Surakarta. Kata "Sekaten" berasal dari kata Syahadatain. Peringatan dilakukan dengan membunyikan gamelan pusaka dan diakhiri dengan berebut Gunungan (hasil bumi) sebagai simbol rasa syukur dan keberkahan.
  • Tradisi Baayun Maulid (Banjar): Tradisi mengayun bayi atau anak-anak sambil membacakan shalawat dan doa agar sang anak kelak meneladani akhlak Rasulullah.
  • Tradisi Ma'udi (Sulawesi Selatan): Masyarakat Bugis dan Makassar merayakannya dengan menghias telur dan bahan makanan yang diletakkan di perahu hias (Bambu Hias) sebagai simbol masuknya Islam melalui jalur maritim.
  • Pembacaan Kitab Maulid: Di berbagai pesantren dan masjid di seluruh Indonesia, peringatan diisi dengan pembacaan kitab-kitab pujian sejarah Nabi seperti Simtuddurar, Al-Barzanji, Diba', dan Burdah.

Tradisi peringatan Maulid Nabi telah bertransformasi dari sebuah peristiwa sejarah menjadi jembatan kebudayaan dan spiritual. Di Indonesia, Maulid Nabi tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol perekat persatuan Umat Islam yang menyatukan nilai-nilai keimanan dengan kekayaan budaya lokal.