Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
Culture

Kaya Kebudayaan! 6 Tradisi Unik Peringatan Maulid Nabi di Berbagai Daerah Indonesia

Admin WGM - Monday, 24 August 2026 | 06:00 PM

Background
Kaya Kebudayaan! 6 Tradisi Unik Peringatan Maulid Nabi di Berbagai Daerah Indonesia
Tradisi maulid nabi di indonesia (Kompas.com /)

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan tradisi yang luar biasa. Salah satu momentum yang memperlihatkan keindahan akulturasi budaya dan keagamaan adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di berbagai penjuru Nusantara, ekspresi rasa syukur dan cinta kepada Rasulullah diwujudkan melalui ragam tradisi lokal yang unik, sarat makna simbolis, dan memikat.

Grebeg Maulud: Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta

Di Pulau Jawa, perayaan Maulid Nabi identik dengan tradisi Grebeg Maulud yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Puncak dari perayaan ini adalah diaraknya Gunungan—susunan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan jajanan pasar yang dibentuk menyerupai gunung.

Gunungan ini diarak dari keraton menuju Masjid Agung untuk didoakan oleh para ulama keraton. Setelah doa selesai, masyarakat akan memperebutkan isi gunungan tersebut. Bagi masyarakat lokal, mendapatkan bagian dari gunungan dipercaya membawa keberkahan (ngalap berkah), sekaligus menjadi simbol bahwa seorang pemimpin wajib mengayomi dan memberikan kemakmuran kepada rakyatnya.

Muludan dan Panjang Jimat: Cirebon

Bergeser ke Jawa Barat, Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan di Cirebon menggelar tradisi Panjang Jimat saat malam perayaan Muludan. Panjang merujuk pada piring ukir bersejarah, sedangkan Jimat berasal dari kata siji kang diemat (satu yang diuri-uri/dijaga), yaitu kalimat syahadat.

Dalam prosesi ini, barang-barang pusaka keraton diarak bersama makanan tradisional menuju Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Tradisi ini menjadi media introspeksi diri untuk senantiasa memegang teguh ajaran Islam dan menjaga warisan spiritual leluhur.

Endog-endogan: Banyuwangi

Di ujung timur Jawa, masyarakat Banyuwangi merayakan Maulid Nabi dengan tradisi Endog-endogan (tradisi telur). Ribuan telur rebus ditancapkan pada bilah bambu yang dihias bunga kertas warna-warni (kembang endog), lalu ditancapkan pada pohon pisang dan diarak keliling kampung sebelum dibagikan kepada warga.

Filsafat tradisi ini sangat mendalam:

  • Kulit Telur (Cangkang): Memboliskan keislaman (Islam) sebagai pelindung luar.
  • Putih Telur: Menggambarkan keimanan (Iman) yang bersih dan suci.
  • Kuning Telur: Melambangkan keihsanan (Ihsan) atau ketakwaan yang berada di inti terdalam manusia.

Pohon pisang sendiri melambangkan pandangan bahwa seorang Muslim harus bermanfaat hingga akhir hayatnya, sebagaimana pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah.

Maudu Lompoa: Takalar, Sulawesi Selatan

Di Cikoang, Kabupaten Takalar, masyarakat Bugis-Makassar menggelar Maudu Lompoa (Maulid Besar). Tradisi ini memadukan syiar Islam dengan kebudayaan maritim yang kental.

Warga menghias perahu-perahu tradisional (raki) dengan kain tenun warna-warni, serta mengisinya dengan hasil bumi, pakaian, dan puluhan ekor ayam. Perahu-perahu ini kemudian diarak sepanjang sungai dan pantai. Maudu Lompoa merupakan refleksi rasa syukur atas masuknya Islam ke wilayah pesisir serta penghormatan kepada Rasulullah sebagai teladan hidup.

Ragam tradisi menyambut Maulid Nabi di Nusantara membuktikan bagaimana nilai-nilai keislaman dapat menyatu harmonis dengan kearifan lokal. Perayaan ini tidak hanya merawat ingatan sejarah kenabian, tetapi juga mempererat tali silaturahmi, menjaga kelestarian warisan leluhur, dan memperkaya khazanah budaya bangsa Indonesia.