Mitos atau Fakta Makan Daging Kambing Bikin Darah Tinggi? Cek Faktanya!
Admin WGM - Friday, 06 February 2026 | 06:01 PM


Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mengonsumsi daging kambing sering kali dianggap sebagai "tiket gratis" menuju hipertensi atau darah tinggi. Tak jarang, kita melihat orang-orang merasa pening setelah menyantap sate kambing atau gulai, lalu segera menyalahkan daging tersebut sebagai penyebabnya.
Namun, benarkah daging kambing sehebat itu dalam menaikkan tensi darah? Atau selama ini kita hanya terjebak dalam mitos yang diwariskan turun-temurun? Mari kita bedah faktanya secara medis dan jurnalisme sains.
1. Perbandingan Lemak: Kambing vs Sapi
Fakta pertama yang mungkin mengejutkan banyak orang adalah daging kambing sebenarnya memiliki kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan daging sapi atau domba.
Berdasarkan data dari United States Department of Agriculture (USDA), dalam 100 gram daging kambing terdapat sekitar 122 kalori, 2,6 gram lemak, dan 64 mg kolesterol. Bandingkan dengan daging sapi yang rata-rata mengandung 179 kalori, 7,9 gram lemak, dan 73 mg kolesterol. Secara profil nutrisi, kambing justru merupakan pilihan daging merah yang lebih "ramping".
2. Efek Termogenik: Alasan di Balik Rasa "Panas"
Jika kolesterolnya lebih rendah, mengapa kepala terasa pusing atau tubuh terasa panas setelah makan kambing?
Daging kambing memiliki efek termogenik yang tinggi. Artinya, tubuh memerlukan energi besar untuk mencerna protein padat di dalamnya. Proses metabolisme ini menghasilkan panas tubuh yang meningkat. Pada beberapa orang, sensasi panas ini sering disalahartikan sebagai gejala darah tinggi, padahal itu hanyalah reaksi alami tubuh saat mencerna protein.
3. "Tersangka" Sebenarnya: Cara Mengolah dan Bumbu
Bukan daging kambingnya yang jahat, melainkan pendampingnya. Di Indonesia, daging kambing jarang disajikan secara polos (seperti dipanggang tanpa bumbu). Kita cenderung mengolahnya menjadi:
- Gulai atau Tongseng: Menggunakan santan kental yang tinggi lemak jenuh.
- Sate: Menggunakan banyak kecap dan garam.
- Gorengan: Menggunakan minyak jelantah.
Penambahan garam (natrium) yang berlebih pada bumbu sate atau kuah gulai inilah yang memicu penyempitan pembuluh darah dan menaikkan tekanan darah secara instan, bukan daging kambingnya itu sendiri.
4. Kandungan Kalium yang Sering Terlupakan
Berlawanan dengan reputasi buruknya, daging kambing justru mengandung kalium yang cukup baik. Dalam dunia medis, kalium dikenal sebagai mineral yang membantu menstabilkan tekanan darah dan membuang kelebihan natrium dari tubuh melalui urine. Jadi, jika diolah dengan benar, daging kambing justru memiliki elemen yang mendukung kesehatan jantung.
5. Siapa yang Harus Benar-benar Waspada?
Meski daging kambing secara alami tidak menyebabkan hipertensi, bukan berarti semua orang bisa memakannya secara berlebihan. Orang yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung kronis atau gangguan ginjal tetap harus membatasi asupannya. Protein yang terlalu tinggi dapat memberi beban kerja tambahan pada ginjal, dan lemak jenuh dari bumbu olahan tetap berisiko bagi kesehatan arteri.
Tips Menikmati Olahan Kambing yang Aman:
Agar tetap bisa menikmati kelezatan kambing tanpa rasa was-was, berikut adalah panduan praktisnya:
- Kurangi Garam dan Santan: Gunakan rempah-rempah alami seperti jahe, bawang putih, dan ketumbar untuk memperkuat rasa tanpa harus bergantung pada garam berlebih.
- Imbangi dengan Sayuran: Konsumsi timun, tomat, atau acar bawang setelah makan kambing. Sayuran ini berfungsi sebagai penetral lemak dan memberikan serat bagi pencernaan.
- Hindari Jeroan: Kolesterol pada daging kambing memang rendah, namun kolesterol pada jeroan (otak, usus, babat) tetaplah sangat tinggi. Fokuslah hanya pada daging merahnya.
Tudingan bahwa daging kambing adalah penyebab utama darah tinggi adalah mitos. Hipertensi lebih sering dipicu oleh penggunaan garam yang berlebihan, minyak goreng, santan, serta pola hidup yang tidak sehat. Dengan teknik memasak yang tepat, kambing bisa menjadi sumber protein, zat besi, dan vitamin B12 yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Next News

Mau Bikin Kombucha Sendiri? Kenalan Dulu sama SCOBY, Makhluk Unik yang Kaya Probiotik
17 hours ago

Biar Rasa Ikan Tetap Segar, Kenali Pentingnya Palate Cleanser Saat Makan Kuliner Jepang
17 hours ago

Jangan Heran, Ternyata Lidah Kita Punya "Sensor" Khusus untuk Kombinasi Rasa Asin-Manis
18 hours ago

Trik Rahasia Food Stylist: Kenapa Makanan di Iklan Terlihat Lezat (Meski Kadang Tidak Bisa Dimakan)
18 hours ago

Sering Dianggap Remeh, Ternyata Nasi Sisa Punya Kandungan Pati yang Pas buat Digoreng
19 hours ago

Ternyata Ini Alasan Ilmiah Kenapa Bagian Cokelat pada Daging Bakar Terasa Sangat Gurih
19 hours ago

Bukan Cuma Kenyang, Ini Alasan Ilmiah Kenapa Bubur Ayam Bisa Jadi Obat Patah Hati
a day ago

Waspada Penipuan! Ini Cara Jitu Bedakan Telur Ayam Kampung Asli dan Palsu di Pasar
a day ago

Pecinta Pizza Wajib Tahu! Inilah Keajaiban Rasa Umami yang Bikin Tomat dan Keju Jadi Pasangan Sejati
2 days ago

Hobi Makan Durian tapi Takut Panas? Simak Penjelasan Dokter Biar Gak Salah Kaprah
2 days ago





